Pyridam Farma (PYFA) Raih Penghargaan di Sektor Farmasi, Pendapatan Tumbuh 43,7%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) meraih penghargaan Best Pharmaceutical CDMO & Global Expansion Leader dalam kategori Indonesia Best Pharmaceuticals sektor Healthcare. Penghargaan tersebut diberikan atas kinerja perusahaan dalam mengembangkan bisnis Contract Development and Manufacturing Organization (CDMO), maklon farmasi, serta layanan toll manufacturing lintas negara.
Pengembangan bisnis CDMO menjadi salah satu pendorong pertumbuhan pendapatan PYFA. Pada tahun buku 2025, perseroan mencatatkan pendapatan sebesar Rp2,76 triliun, meningkat 43,7% dibandingkan Rp1,9 triliun pada 2024. PYFA juga membukukan gross margin sebesar 21,1%.
Head of CDMO PYFA untuk wilayah operasional Indonesia, Savira Tjan, mengatakan pertumbuhan tersebut didukung meningkatnya permintaan klien serta kemitraan dengan perusahaan farmasi multinasional dan perusahaan besar di Indonesia.
Menurut dia, bisnis CDMO secara konsisten menjadi salah satu motor penggerak pertumbuhan pendapatan perseroan dalam dua tahun terakhir.
“Ke depannya, kami akan terus meningkatkan standar layanan dan inovasi produk untuk memberikan nilai tambah terbaik bagi seluruh mitra bisnis dan pemangku kepentingan,” ujar Savira dalam keterangan resmi, Minggu (1/11/2026).
Baca Juga
Gelontorkan Rp 173,18 Miliar, Rejuve Tambah Saham Pyridam Farma (PYFA)
Untuk memperkuat kapasitas manufaktur, PYFA mengembangkan fasilitas produksi di Indonesia dan Australia. Di Australia, anak usaha perseroan, Probiotec, mengoperasikan fasilitas di Kemps Creek, New South Wales, setelah konsolidasi tiga lokasi produksi di Sydney.
Fasilitas tersebut telah mengantongi sertifikasi Therapeutic Goods Administration (TGA), sertifikasi halal, serta predikat Green Star 6 Star dari Green Building Council of Australia (GBCA).
Sementara di Indonesia, melalui PT Ethica Industri Farmasi di Cikarang, PYFA telah menyelesaikan pembangunan Fasilitas Produksi Injeksi Steril Lini 3. Fasilitas dengan kapasitas tiga kali lipat dibandingkan lini sebelumnya itu dijadwalkan memasuki produksi komersial pada awal 2027.
Baca Juga
Dorong Kinerja, Pyridam Farma (PYFA) Perkuat Lini Bisnis Ini
Pengembangan kapasitas tersebut dilakukan di tengah peluang pertumbuhan industri farmasi global yang semakin mengandalkan skema manufaktur kontrak. Berdasarkan riset Cervicorn Consulting 2026, nilai pasar CDMO farmasi global diperkirakan mencapai US$263,04 miliar hingga US$275 miliar pada 2026 dan diproyeksikan meningkat menjadi US$520,27 miliar pada 2035.
Di pasar domestik, pengembangan industri manufaktur farmasi juga menghadapi tantangan ketergantungan impor bahan baku obat atau Active Pharmaceutical Ingredients (API). Data Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang dikutip perseroan menunjukkan ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku obat mencapai sekitar 80%–94%.
Kondisi tersebut menjadi salah satu peluang bagi pengembangan kapasitas produksi dalam negeri, termasuk melalui kemitraan manufaktur, alih teknologi, dan layanan CDMO.
