Elang Mahkota Teknologi Kembalo Borong Saham Bukalapak (BUKA), Gelontorkan Rp 70,13 miliar
JAKARTA, investortrust.id – Elang Mahkota Teknologi kembali menambah kepemilikan saham PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) sebanyak 613,15 juta saham. Penambahan tersebut membuat kepemilikan saham perusahaan meningkat menjadi 11,43 miliar saham atau setara 11,08% hak suara.
Berdasarkan laporan kepemilikan saham yang disampaikan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 28 Oktober 2026, Elang Mahkota Teknologi sebelumnya memiliki 10,82 miliar saham BUKA dengan hak suara 10,49%. Penambahan kepemilikan tersebut berasal dari dua transaksi pembelian tidak langsung yang dilakukan pada 22 September dan 23 Oktober 2026.
Pada 22 September 2026, Elang Mahkota Teknologi membeli 188,70 juta saham BUKA dengan harga Rp104 per saham. Nilai transaksi tersebut mencapai sekitar Rp19,62 miliar. Selanjutnya, pada 23 Oktober 2026, perusahaan kembali membeli 424,44 juta saham BUKA dengan harga Rp119 per saham. Nilai transaksi kedua mencapai sekitar Rp 50,51 miliar.
Baca Juga
Bukalapak (BUKA) Fokus Empat Bisnis Inti, Pendapatan Melesat 46%
Dengan demikian, total saham yang dibeli melalui kedua transaksi tersebut mencapai 613,15 juta saham dengan nilai keseluruhan sekitar Rp 70,13 miliar. Pembelian pada 23 Oktober 2026 menjadi transaksi dengan jumlah saham terbesar, yakni sekitar 424,44 juta saham. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 69,23% dari total saham yang dibeli dalam kedua transaksi. Kedua transaksi diklasifikasikan sebagai pembelian tidak langsung dengan tujuan investasi.
Terkait kinerja keuangan, Bukalapak (BUKA) membukukan rugi periode berjalan sebesar Rp 881,06 miliar hingga 30 September 2026. Hasil tersebut berbalik dari laba Rp 2,91 triliun pada periode sembilan bulan pertama 2025. Bukalapak mencatat pendapatan neto sebesar Rp 5,64 triliun sepanjang Januari-September 2026. Angka tersebut turun sekitar 17,43% dibandingkan Rp 4,73 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca Juga
IHSG Berpotensi Technical Rebound, Tiga Saham Dipimpin DSNG Layak Dilirik
Penurunan pendapatan tersebut terjadi di tengah meningkatnya beban pokok pendapatan menjadi Rp 5,18 triliun, dari Rp 4,35 triliun pada sembilan bulan pertama 2025. Dari sisi operasional, Bukalapak membukukan rugi usaha sebesar Rp1,14 triliun hingga September 2026. Kondisi ini berbalik dari laba usaha Rp 2,33 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Bukalapak juga mencatat bagian atas rugi entitas asosiasi sebesar Rp 37,58 miliar, dibandingkan Rp38,73 miliar pada sembilan bulan pertama 2025. Secara keseluruhan, perseroan membukukan rugi sebelum beban pajak final dan pajak penghasilan sebesar Rp859,90 miliar. Setelah memperhitungkan beban pajak final Rp829 ribu dan beban pajak penghasilan Rp21,16 miliar, rugi periode berjalan mencapai Rp881,06 miliar.
