Astra Bukukan Laba Bersih Rp 21,6 T pada Periode Januari-September 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — PT Astra International Tbk membukukan laba bersih sebesar Rp 21,6 triliun pada periode Januari–September 2026, dengan pendapatan bersih konsolidasian mencapai Rp 243,9 triliun. Pertumbuhan bisnis otomotif dan jasa keuangan menjadi penopang kinerja perseroan, disertai perbaikan bisnis pertambangan dan alat berat pada kuartal III yang memberikan dukungan untuk memasuki tiga bulan terakhir tahun ini.
Tanpa memperhitungkan pos nonberulang atau non-recurring items, laba bersih Astra mencapai Rp 24,6 triliun, relatif terjaga dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, laba bersih per saham di luar pos nonberulang meningkat 1% menjadi Rp 616 dari Rp 611.
Presiden Direktur Astra Rudy mengatakan, portofolio bisnis yang terdiversifikasi membantu perseroan menjaga ketahanan kinerja di tengah tantangan usaha. Pertumbuhan pada sebagian besar bisnis mengimbangi pelemahan kontribusi bisnis solusi pertambangan dan alat berat sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini.
“Astra mencatat kinerja yang resilien selama sembilan bulan pertama tahun 2026. Laba bersih Grup, tanpa memperhitungkan non-recurring items, stabil sebesar Rp 24,6 triliun,” ujar Rudy dalam keterangan tertulis, Rabu (28/10/2026).
Menurut dia, kinerja Astra pada kuartal III membaik dibandingkan kuartal-kuartal sebelumnya. Perbaikan terutama ditopang peningkatan volume kontrak pertambangan, pemulihan produksi tambang emas Martabe setelah kembali beroperasi, serta bisnis otomotif yang terus bertumbuh. “Kami memperkirakan faktor-faktor tersebut akan terus menunjang kinerja Grup pada kuartal keempat,” kata Rudy.
Pendapatan bersih Astra selama Januari–September 2026 tercatat Rp 243,87 triliun, dibandingkan Rp 243,61 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Laba bersih sebelum pos nonberulang mencapai Rp 24,57 triliun, turun sekitar 1% dari Rp 24,72 triliun.
Adapun laba bersih yang dilaporkan sebesar Rp 21,6 triliun turun 12% dibandingkan Rp 24,47 triliun pada Januari–September 2025. Penurunan tersebut dipengaruhi pelemahan kontribusi bisnis pertambangan dan alat berat serta peningkatan beban pos nonberulang. Astra mencatat pos nonberulang Rp 2,96 triliun, terutama berupa penurunan nilai dan penyesuaian nilai wajar investasi ekuitas, dibandingkan Rp 244 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Bisnis otomotif menjadi kontributor laba terbesar Astra dengan perolehan Rp 9,79 triliun, meningkat 8% dari Rp 9,03 triliun. Pertumbuhan tersebut mencerminkan kenaikan volume penjualan kendaraan serta kontribusi yang kuat dari divisi komponen.
Di pasar mobil, penjualan nasional sepanjang sembilan bulan pertama 2026 meningkat 21% menjadi 679.000 unit. Pada periode yang sama, penjualan mobil Astra tumbuh 13%. Toyota dan Daihatsu tetap memimpin pasar Indonesia, dengan pangsa pasar Astra secara keseluruhan mencapai 49%.
Sementara itu, penjualan sepeda motor nasional tumbuh 4% menjadi 5 juta unit. Penjualan sepeda motor Honda meningkat 3%, dengan pangsa pasar yang tetap stabil sebesar 77%.
Divisi komponen turut memperkuat kinerja otomotif. Kontribusi laba bersih bisnis ini meningkat 15% menjadi Rp 1,4 triliun, didukung kenaikan kontribusi dari seluruh segmen.
Selain otomotif, bisnis jasa keuangan menjadi penopang utama dengan laba bersih Rp 7,15 triliun, tumbuh 6% dibandingkan Rp 6,73 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan berasal dari bisnis pembiayaan konsumen dan asuransi.
Divisi pembiayaan konsumen mencatat piutang pembiayaan bersih Rp 132 triliun, meningkat 6% dibandingkan posisi Desember 2025. Nilai pembiayaan baru selama Januari–September 2026 tumbuh 8% menjadi Rp 92,5 triliun, didorong peningkatan pembiayaan otomotif baru dan pembiayaan multi-cycle.
Perusahaan pembiayaan Astra yang berfokus pada sepeda motor membukukan kontribusi laba bersih Rp 3,6 triliun, naik 4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kontribusi laba bersih perusahaan pembiayaan mobil meningkat 6% menjadi Rp 1,9 triliun.
Bisnis asuransi ikut bertumbuh
Bisnis asuransi juga menunjukkan pertumbuhan. Perusahaan-perusahaan asuransi dalam Grup Astra mencatat kontribusi laba bersih Rp 1,4 triliun, naik 9%, ditopang peningkatan pendapatan operasional dan pendapatan investasi.
Kontribusi tambahan datang dari segmen lain-lain, yang terutama mencerminkan kelompok usaha di luar tiga bisnis inti Astra atau Wider Businesses. Laba bersih segmen ini sebelum memperhitungkan pos nonberulang mencapai Rp 2,56 triliun, meningkat 36% dibandingkan Rp 1,87 triliun pada sembilan bulan pertama 2025.
Baca Juga
Laba Bersih Astra Graphia (ASGR) Tumbuh 15%, Ini Penopangnya
Peningkatan tersebut terutama didorong penguatan bisnis agribisnis seiring kenaikan harga dan produktivitas. Bisnis properti turut memberikan dukungan melalui kontribusi platform pergudangan industri yang baru diakuisisi.
Segmen lain-lain mencatat pos nonberulang Rp 766 miliar, terutama berupa kerugian nilai wajar atas investasi ekuitas. Setelah memperhitungkan pos tersebut, laba bersih yang dilaporkan tetap tumbuh 7% menjadi Rp 1,8 triliun.
Pada bisnis solusi pertambangan dan alat berat, Astra mencatat perbaikan kinerja pada kuartal III dengan pertumbuhan 15% dibandingkan kuartal yang sama tahun lalu. Perbaikan tersebut berlangsung setelah bisnis ini menghadapi tekanan pada semester pertama.
Secara kumulatif, laba bersih bisnis solusi pertambangan dan alat berat sebelum pos nonberulang mencapai Rp 5,07 triliun selama Januari–September 2026, turun 28% dibandingkan Rp 7,08 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Penurunan terutama disebabkan berkurangnya penjualan emas dari tambang Martabe yang sempat menghentikan produksi pada awal tahun, serta penurunan kuota produksi batu bara nasional melalui alokasi rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB). Kondisi tersebut memengaruhi permintaan alat berat dan jasa penambangan, sekaligus volume pertambangan batu bara.
Tambang emas Martabe telah kembali beroperasi pada kuartal II. Namun, penghentian sementara pada awal tahun masih memengaruhi penjualan kumulatif hingga September, yang tercatat 54.000 ons dibandingkan 178.000 ons pada periode yang sama tahun lalu.
Volume pengupasan lapisan tanah oleh divisi jasa penambangan turun 7% menjadi 766 juta bank cubic metres. Penjualan alat berat Komatsu mencapai 3.000 unit, turun 17%, terutama akibat berkurangnya penjualan ke sektor pertambangan. Sementara itu, penjualan batu bara turun 23% menjadi 7,1 juta ton.
Bisnis solusi pertambangan dan alat berat membukukan pos nonberulang Rp 2,2 triliun pada divisi panas bumi dan nikel. Dengan memperhitungkan pos tersebut, laba bersih yang dilaporkan dari bisnis ini mencapai Rp 2,9 triliun, turun 59% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sejalan dengan penguatan operasional, Astra melanjutkan pengalokasian modal melalui pembelian kembali saham atau share buyback serta penambahan kepemilikan pada anak usaha. Sejak November 2025 hingga September 2026, Grup Astra telah menyelesaikan program buyback dengan total nilai Rp 10 triliun.
“Terkait pengalokasian modal, kami tetap disiplin dalam menjalankannya,” ujar Rudy.
Di luar program yang telah diselesaikan tersebut, program buyback Astra sebesar Rp 8 triliun masih berlangsung. Pada Oktober 2026, United Tractors juga mengumumkan program buyback hingga Rp 2 triliun, sedangkan Astra Agro Lestari mengumumkan buyback hingga Rp 400 miliar. Kedua program anak usaha itu berlangsung selama Oktober–Desember 2026.
Astra juga tengah melaksanakan penawaran tender sukarela atas maksimal 4,95% saham Astra Otoparts dengan harga Rp 3.600 per saham. Nilai transaksi maksimal diperkirakan sekitar Rp 858 miliar, dengan periode penawaran berlangsung pada 13 Oktober–11 November 2026.
Apabila seluruh saham yang menjadi objek penawaran berhasil diperoleh, kepemilikan Astra pada Astra Otoparts akan meningkat dari 80% menjadi 84,95%. Langkah tersebut berlangsung ketika divisi komponen mencatat peningkatan kontribusi laba bagi grup.
Dari sisi posisi keuangan, ekuitas yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat 4% menjadi Rp 238,1 triliun pada 30 September 2026, dibandingkan Rp 228,9 triliun pada akhir 2025. Nilai aset bersih per saham naik 5% menjadi Rp 5.999 dari Rp 5.692.
Laba bersih per saham yang dilaporkan tercatat Rp 541, dibandingkan Rp 605 pada periode yang sama tahun lalu. Namun, tanpa pos nonberulang, laba bersih per saham meningkat menjadi Rp 616. Perhitungan laba per saham menggunakan rata-rata tertimbang jumlah saham beredar, yang turut dipengaruhi pelaksanaan buyback.
Baca Juga
Astra Tegaskan Filosofi 'Pohon Rindang', Makin Besar Bisnis Makin Luas Manfaat bagi Masyarakat
Kas bersih Astra, tidak termasuk anak perusahaan jasa keuangan, mencapai Rp 1,8 triliun pada akhir September 2026, dibandingkan Rp 7,2 triliun pada akhir 2025. Penurunan terutama disebabkan akuisisi perusahaan tambang emas PT Arafura Surya Alam dan pelaksanaan buyback. Adapun utang bersih anak perusahaan jasa keuangan mencapai Rp 66,7 triliun, meningkat dari Rp 64,9 triliun pada akhir tahun lalu.
Menghadapi sisa tahun 2026, Astra menempatkan efisiensi operasional, kekuatan neraca, dan selektivitas ekspansi sebagai prioritas. Manajemen memperkirakan perbaikan volume kontrak pertambangan, berlanjutnya produksi Martabe, serta pertumbuhan otomotif akan mendukung kinerja kuartal IV.
“Di tengah volatilitas pasar, kami tetap optimistis terhadap kekuatan Core Businesses Astra dan akan terus meningkatkan efisiensi operasional, menjaga posisi neraca yang kuat, serta mengejar peluang pertumbuhan secara selektif,” kata Rudy.
Laporan keuangan Astra untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2026 tersebut belum diaudit dan disusun berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia.
