Astra (ASII) Cetak Laba Bersih Rp 24,6 Triliun hingga Kuartal III-2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Astra International Tbk (ASII) membukukan pendapatan bersih secara konsolidasi sebesar Rp 243,9 triliun dalam sembilan bulan pertama tahun ini. Presiden Direktur Astra International Rudy Chen menyebutkan capaian ini masih stabil dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, laba bersih Grup Astra yang tidak termasuk non-recurring items, stabil pada kisaran Rp 24,6 triliun. Alhasil, laba bersih per saham, tanpa memperhitungkan non-recurring items, meningkat 1% menjadi Rp 616.
Menurut Rudy, kinerja Grup secara keseluruhan hingga saat ini tetap resilien, ditopang perbaikan kinerja di seluruh lini bisnis pada kuartal ketiga, yang mengimbangi pelemahan pada semester pertama tahun ini. “Astra mencatat kinerja yang resilien selama sembilan bulan pertama tahun 2026. Laba bersih Grup, tanpa memperhitungkan non-recurring items, stabil sebesar Rp 24,6 triliun,” terang Rudy secara tertulis, Rabu (28/10/2026).
Baca Juga
United Tractors (UNTR) Bagikan Dividen Interim Kedua Rp 430 per Saham, Intip Jadwalnya
Perseroan mencatat non-recurring items sebesar Rp 3 triliun, terutama terdiri atas penurunan nilai (impairment) dan penyesuaian nilai wajar atas investasi ekuitas. Dengan memperhitungkan non-recurring items tersebut, laba bersih Grup tercatat sebesar Rp 21,6 triliun, turun 12% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. “Pertumbuhan pada sebagian besar bisnis Astra diimbangi oleh kondisi yang menantang pada bisnis solusi pertambangan dan alat berat,” sambungnya
Lebih rinci, bisnis otomotif, jasa keuangan, dan wider businesses dianggap mencatat pertumbuhan yang sehat, sementara kontribusi dari bisnis solusi pertambangan dan alat berat mengalami penurunan.
Laba bersih bisnis otomotif dan jasa keuangan, masing-masing tumbuh sebesar 8% dan 6%, sementara kinerja bisnis solusi pertambangan dan alat berat mengalami penurunan 28%.
Baca Juga
Investor Asing “Ngamuk” Borong Saham BBCA Rp 1,17 Triliun hingga Dorong Rebound IHSG
“Dibandingkan kuartal-kuartal sebelumnya, kinerja pada kuartal ketiga membaik, terutama ditunjang oleh peningkatan volume kontrak pertambangan, dimulainya kembali produksi tambang emas Martabe, serta bisnis Otomotif yang tetap bertumbuh. Kami memperkirakan faktor-faktor tersebut akan terus menunjang kinerja Grup pada kuartal keempat,” papar Rudy.
Di sisi lain, nilai aset bersih per saham ASII hingga 30 September 2026 naik sebesar 5% menjadi Rp 5.999. Sementara, kas bersih pada 30 September 2026, tidak termasuk anak perusahaan jasa keuangan grup mencapai Rp 1,8 triliun, dibandingkan dengan Rp 7,2 triliun pada 31 Desember 2025. Pengurangan tersebut, terutama disebabkan oleh akuisisi perusahaan tambang emas PT Arafura Surya Alam dan pembelian kembali (buyback) saham.
Adapun utang bersih anak perusahaan jasa keuangan Astra mencapai Rp 66,7 triliun pada 30 September 2026, meningkat dibandingkan Rp 64,9 triliun pada 31 Desember 2025. “Di tengah volatilitas pasar, kami tetap optimistis terhadap kekuatan core businesses Astra dan akan terus meningkatkan efisiensi operasional, menjaga posisi neraca yang kuat, serta mengejar peluang pertumbuhan secara selektif,” pungkas Rudy.
