IHSG Lebih Murah dari Era Covid-19, Saatnya Borong Saham? Kiwoom Ingatkan Risiko Ini
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) saat ini diperdagangkan dengan valuasi sangat murah, dibandingkan saat krisis pandemi Covid-19 pada 2020. Kiwoom Sekuritas mengingatkan bahwa murahnya valuasi belum cukup untuk memastikan pasar saham Indonesia telah mencapai titik terendah.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menyoroti valuasi IHSG berdasarkan rasio price to earnings ratio (P/E) kini berada di level 7,7 kali. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan posisi saat krisis Covid-19 pada Maret 2020 yang mencapai 10,3 kali. Sementara itu, rasio price to book value (P/BV) IHSG berada di level 1,29 kali, relatif setara dengan posisi 1,28 kali pada periode pandemi.
Baca Juga
IHSG Sesi I Ditutup Melemah 0,32% Terseret Kejatuhan Sejumlah Saham Big Cap
Perbandingan tersebut menunjukkan valuasi pasar saham Indonesia telah berada di level rendah, bahkan lebih murah dibandingkan saat krisis Covid-19 jika dilihat dari rasio P/E. “Sekarang, valuasi pasar saham bahkan lebih murah dibandingkan saat kejatuhan pasar akibat Covid-19 pada 2020, jika dilihat dari rasio P/E,” tulis Liza kepada awak media melalui pesan singkat, Selasa (27/10/2026).
Meski demikian, Liza mempertanyakan apakah valuasi yang semakin murah tersebut benar-benar menjadi momentum bagi investor untuk kembali masuk ke pasar saham Indonesia. Valuasi rendah tidak serta-merta menandakan pasar telah mencapai titik terendah. Tekanan pasar saat ini juga memiliki karakteristik berbeda dibandingkan krisis pandemi pada 2020.
Saat pandemi, tekanan ekonomi berasal dari dampak yang relatif nyata dan dapat diukur, mulai dari hilangnya pendapatan, terganggunya aktivitas bisnis, hingga pembatasan kegiatan ekonomi selama berbulan-bulan.
Sebaliknya, tekanan pasar pada 2026 dinilai semakin berkaitan dengan persoalan yang lebih sulit diukur, yakni integritas pasar dan kepercayaan investor. “Ironisnya, pada 2026, tekanan semakin bersumber dari sesuatu yang jauh lebih sulit diukur, yakni integritas pasar dan kepercayaan investor,” tulis Liza.
Meskipun sulit diukur secara langsung dalam nilai moneter, penurunan integritas pasar dan kepercayaan investor dapat menimbulkan dampak ekonomi yang signifikan. Salah satu risiko yang membayangi pasar modal Indonesia adalah potensi penurunan status Indonesia oleh penyedia indeks global MSCI dari kategori pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar mandiri (standalone market).
IHSG Kembali Melemah
Di tengah persoalan tersebut, IHSG kembali melemah pada perdagangan Selasa (27/10/2026). Mengacu data Bursa Efek Indonesia (BEI) pada penutupan sesi I, IHSG turun 17,44 poin atau 0,32% ke level 5.355, dengan nilai transaksi mencapai Rp5,28 triliun.
Pergerakan tersebut menunjukkan tekanan pasar masih berlangsung meskipun valuasi IHSG telah berada di bawah level saat krisis Covid-19 berdasarkan rasio P/E. Karena itu, valuasi murah perlu dicermati bersama dengan perkembangan integritas pasar dan kepercayaan investor. Rendahnya rasio valuasi belum cukup untuk memastikan bahwa tekanan pasar telah berakhir atau menjadi dasar untuk langsung membeli saham.
Baca Juga
Astra Otoparts (AUTO) Raup Laba Rp1,80 Triliun, Segmen Manufaktur Tumbuh 17,6%
Di tengah tekanan pasar, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai pasar modal Indonesia masih menunjukkan ketahanan. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan IHSG menguat 4,9% sepanjang pekan perdagangan 19–23 Oktober 2026.
IHSG ditutup pada level 5.439,258 pada akhir pekan tersebut, naik dari posisi penutupan pekan sebelumnya di level 5.185,105. Penguatan itu sekaligus menempatkan IHSG sebagai indeks dengan kinerja mingguan terbaik di antara indeks-indeks bursa utama dunia pada periode tersebut.
Hasan menilai penguatan IHSG menjadi indikasi awal membaiknya kondisi pasar. Namun, pergerakan positif indeks belum berarti seluruh tekanan terhadap pasar modal telah berakhir. “Yang lebih penting bukan semata-mata besar atau naik turunnya indeks, melainkan kualitas pemulihan itu sendiri, keputusan investasi yang kembali didasarkan pada informasi, fundamental, dan penilaian risiko secara objektif,” kata Hasan dalam konferensi pers di Main Hall BEI, Jakarta, Senin (26/10/2026).
