BBNI Cetak Laba Bersih Rp 16,15 Triliun hingga September 2026, Tumbuh 6%
JAKARTA, investortrust.id – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) membukukan laba bersih sebesar Rp16,15 triliun hingga September 2026, tumbuh 6,02% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp15,23 triliun.
BBNI dalam rilis laporan kinerja keuangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (27/10/2026), disebutkan bahwa pertumbuhan laba ditopang peningkatan pendapatan bunga bersih dan pendapatan operasional lainnya. Pendapatan bunga sebesar Rp60 triliun, meningkat 17,28% dibandingkan Rp 51,17 triliun pada periode yang sama tahun 2025.
Baca Juga
BNI Pertahankan Predikat Tertinggi Penerapan GCG Dua Tahun Berturut-turut
Sejalan dengan kenaikan pendapatan bunga, beban bunga BNI turut naik menjadi Rp 26,77 triliun dari Rp 21,91 triliun. Dengan demikian, pendapatan bunga bersih perseroan mencapai Rp 33,24 triliun, tumbuh 13,62% dibandingkan Rp 29,25 triliun pada sembilan bulan pertama tahun sebelumnya.
BNI membukukan pendapatan operasional sebesar Rp17,91 triliun, naik 7,45% dibandingkan Rp16,67 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan operasional lainnya tersebut mencakup pendapatan provisi dan komisi sebesar Rp 8,44 triliun, meningkat dari Rp 7,75 triliun. Pendapatan dari investasi pada entitas asosiasi juga naik menjadi Rp 1,24 triliun dari Rp 1,21 triliun.
Baca Juga
BNI Kenalkan Kebiasaan Menabung Sejak Dini kepada Siswa Sekolah Rakyat
Beban pencadangan kerugian penurunan nilai meningkat menjadi Rp 7,26 triliun dari Rp 6,12 triliun. Beban operasional lainnya juga naik menjadi Rp 24,20 triliun dibandingkan Rp 21,83 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Meski menghadapi kenaikan beban tersebut, BNI mencatat laba operasional sebesar Rp 20,28 triliun hingga September 2026, tumbuh 9,29% dibandingkan Rp 18,55 triliun pada sembilan bulan pertama 2025.
Sementara itu, laba sebelum pajak mencapai Rp 20,15 triliun, meningkat dari Rp 18,44 triliun. Laba bersih periode berjalan Rp16,15 triliun. Sebanyak Rp 16,12 triliun tercatat sebagai laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk dan Rp 32,24 miliar merupakan bagian kepentingan nonpengendali.
