10 Saham Konstituen IDX80 yang Undervalued, Ternyata Dominan Emiten Batu Bara!
JAKARTA, investortrust.id – Anggota konstituen IDX80 merupakan saham-saham pilihan yang memiliki likuiditas tinggi, dan kapitalisasi pasar besar, serta didukung oleh fundamental perusahaan yang baik.
Makanya, konstituen IDX80 bisa jadi pilihan pemodal dalam melakukan investasi jangka panjang.
Meski begitu tidak ada jaminan saham-saham yang tergabung dalam IDX80 akan terus menguat, sebagian saham berpotensi mengalami risiko penurunan.
Untuk memandu Anda, Litbang investortrust menjaring 10 saham IDX80 yang dianggap masih undervalued alias masih murah, sehingga potensi penguatannya masih cukup besar tahun 2024 nanti.
Sebaliknya, sejumlah saham dalam IDX80 perlu dihindari, karena valuasinya sudah sangat tinggi atau overvalued, sehingga risiko penurunannya akan cukup besar di masa datang.
Meski begitu bukan jaminan juga bila saham-saham yang masih undervalued tidak mengalami penurunan, begitu pula dengan saham-saham yang overvalued, tetap punya peluang mengalami penguatan!
Data yang tersaji mengacu pada posisi harga saham di penutupan perdagangan pasar saham, Jumat (29/12/2023). Adapun pengukurannya dilakukan berdasarkan posisi price earning ratio (PER) maupun price to book value (PBV) masing-masing saham dibanding saham lainnya pada sektor tersebut.
Jajaran saham-saham yang masih undervalued diantaranya saham PT Indika Energy Tbk (INDY). Saham batu bara ini tercatat memiliki PER 2,32 kali dengan PBV di angka 0,36 kali.
Selanjutnya ada saham PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) di angka 2,63 kali PER dan 0,73 kali PBV. Lalu saham PT Indotambangraya Megah Tbk (ITMG) di angka 2,63 kali untuk PER dan PBV 1,03 kali.
Pada posisi keempat terdapat saham PT RMK Energy Tbk (RMKE) dengan PER 3,50% dan PBV 1,89 kali, disusul saham PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) di angka PER 4,02 kali dan PBV 3,50 kali dan PBV 0,29 kali.
Berikunya ada saham PT United Tractors Tbk (UNTR), saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Panin Financial Tbk (PNL) dan saham PT Jasa Marga Tbk (JSMR).
Dari 10 nama emiten dengan saham yang masih undervalued, tampak emiten-emiten tambang batu bara mendominasi.
Hal ini disebabkan karena pelaku pasar cenderung melepas saham-saham batu bara sejak dilanda penurunan harga jual batu bara. Penurunan harga batu bara global membuat kinerja emiten batu bara tertekan.
Tapi sejatinya, tekanan terhadap saham batu bara diyakini berlalu, terlebih ada potensi penguatan kembali harga batu bara global serta dukungan dari kenaikan produksi pada emiten tertentu. Makanya pada momentum valuasi murah inilah saatnya untuk melakukan akumulasi.
Tim Riset BNI Sekuritas diantaranya menjagokan saham UNTR dengan target Rp 28.000. Sedangkan saham ITMG mendapat rating hold dengan target harga Rp 27.500 dalam tempo 3 bulan hingga 12 bulan mendatang.
Di luar batu bara, BNI Sekuritas menjagokan saham JSMR dengan target Rp 6.150. “Kami menyukai JSMR karena pertumbuhan profitabilitasnya yang lebih cepat,’’ ulas BNI Sekuritas dalam riset yang diterbitkan belum lama ini.

