Net Sell Asing Masih di Atas Rp 92 Triliun
JAKARTA, investortrust.id – Akumulasi penjualan bersih atau net sell investor asing di Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali bertambah menjadi Rp 92,09 triliun sejak awal tahun hingga Rabu (21/10/2026), meskipun asing mencatatkan pembelian bersih tipis pada perdagangan kemarin. Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 0,94% juga belum mengubah gambaran tekanan pasar sepanjang 2026. IHSG masih terpuruk 38,38% dan kapitalisasi pasar menyusut sekitar Rp 6.470 triliun.
Berdasarkan IDX Daily Statistics pada 21 Oktober 2026, investor asing mencatatkan net buy Rp 12,49 miliar, setara sekitar US$ 690.000. Namun, pembelian bersih tersebut terlalu kecil untuk mengimbangi akumulasi penjualan bersih sepanjang tahun berjalan atau year to date (YTD) yang mencapai Rp 92,09 triliun setara dengan US$ 5,12 miliar.
Net buy terjadi ketika nilai pembelian saham oleh investor asing lebih besar daripada penjualannya dalam periode tertentu. Sebaliknya, net sell menunjukkan nilai penjualan melampaui pembelian. Dengan demikian, pembelian bersih pada satu hari perdagangan dapat terjadi bersamaan dengan posisi penjualan bersih yang masih sangat besar secara tahunan.
Baca Juga
OJK Tegaskan Komitmen Reformasi Pasar Modal dan Penguatan Kepercayaan Investor Global
Secara aritmetis, net buy Rp12,49 miliar pada Rabu hanya mengurangi sekitar 0,014% posisi net sell kumulatif sebelumnya yang sekitar Rp 92,11 triliun. Angka tersebut belum cukup untuk menunjukkan pembalikan arus investasi asing secara berkelanjutan. Net sell saham juga tidak otomatis berarti seluruh hasil penjualannya telah keluar dari Indonesia karena dana dapat tetap berada dalam rekening atau dialihkan ke instrumen lain.
Pada perdagangan hari ke-191 tahun ini, IHSG ditutup pada level 5.328,360, naik 49,472 poin dari penutupan sebelumnya di 5.278,888. Indeks sempat menyentuh level terendah 5.185,360 sebelum mengakhiri perdagangan tepat pada posisi tertinggi hariannya. Kendati demikian, secara ytd, IHSG kehilangan 38,38% nilainya.
Penurunan tersebut merupakan yang terdalam di antara indeks bursa dunia yang ditampilkan dalam tabel perbandingan BEI. Indonesia berada di posisi terakhir dari enam pasar ASEAN dan 13 pasar Asia Pasifik yang tercantum. Dalam kolom peringkat dunia, IHSG berada pada urutan ke-35. Dengan demikian, predikat terburuk merujuk pada cakupan indeks pembanding dalam publikasi tersebut, bukan seluruh bursa di dunia tanpa pengecualian.
Kinerja Indonesia tertinggal jauh dari negara tetangga. Sepanjang tahun berjalan, indeks Thailand masih naik 23,53% dan Singapura menguat 17,04%. Sementara itu, Malaysia turun 4,63%, Vietnam melemah 4,40%, dan Filipina terkoreksi 3,82%. Penurunan ketiga pasar tersebut jauh lebih terbatas dibandingkan kejatuhan IHSG.
Baca Juga
OJK Serahkan Surat Sanksi kepada Semua Pihak Pelanggar Ketentuan Terkait Emiten DSSA, BREN, dan CUAN
Di Asia Pasifik, indeks Taiwan bahkan melonjak 61,89%, Korea Selatan menguat 36,10%, dan Jepang naik 28,37%. Sebaliknya, India turun 13,32%, Hong Kong melemah 7,72%, dan China terkoreksi 6,45%. Data indeks global dalam laporan BEI tersebut dihimpun pada pukul 16.00 WIB sehingga tidak seluruhnya merupakan posisi penutupan perdagangan pada tanggal yang sama.
Tekanan harga saham juga memangkas nilai kapitalisasi pasar BEI menjadi sekitar Rp9.379 triliun pada 21 Oktober 2026. Dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp15.849 triliun, sebagaimana tercantum dalam statistik Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), nilai pasar saham menyusut sekitar Rp6.470 triliun atau 40,82%. Perhitungan ini menggunakan angka kapitalisasi yang dibulatkan dalam publikasi. (web.ksei.co.id)
Penyusutan kapitalisasi pasar tersebut berbeda dari net sell asing. Kapitalisasi mencerminkan nilai pasar saham berdasarkan harga dan jumlah saham tercatat, sedangkan net sell merupakan selisih nilai transaksi jual dan beli investor asing. Karena itu, penurunan kapitalisasi Rp6.470 triliun tidak berarti terdapat uang tunai sebesar itu yang ditarik dari bursa. Perubahan jumlah saham tercatat dan aksi korporasi juga dapat memengaruhi kapitalisasi.
Luasnya tekanan pasar terlihat dari seluruh 11 indeks sektoral yang masih berada di zona merah secara YTD. Infrastruktur mengalami penurunan terdalam, yakni 47,25%, disusul teknologi 45,68% dan energi 41,64%. Ketiganya telah kehilangan lebih dari dua perlima nilai indeks sejak awal tahun.
Sektor properti dan real estat menyusut 39,80%, perindustrian turun 39,43%, serta barang konsumen nonprimer melemah 38,84%. Sektor kesehatan terkoreksi 37,13% dan barang baku turun 30,90%. Sementara itu, barang konsumen primer turun 23,36%, keuangan melemah 21,46%, serta transportasi dan logistik turun 19,54%. Dengan demikian, sektor yang relatif paling bertahan sekalipun masih mencatatkan penurunan mendekati 20%.
Tekanan juga menjangkau berbagai kelompok saham unggulan. Indeks LQ45 turun 36,71% sepanjang tahun, IDX30 melemah 31,22%, dan IDX80 merosot 40,37%. KOMPAS100 jatuh 42,50%, sedangkan IDX ESG Leaders terkoreksi 40,20%. Pada kelompok syariah, Jakarta Islamic Index (JII) turun 46,25%, JII70 melemah 42,71%, dan Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) menyusut 41,21%.
Dari sisi kontribusi terhadap IHSG, saham DSSA menjadi pemberat terbesar sepanjang tahun dengan sumbangan negatif 294,42 poin, seiring penurunan harga 81,68%. BREN menyumbang penurunan 280,46 poin dengan harga jatuh 77,73%, sedangkan BBCA menekan indeks sebesar 264,65 poin setelah harganya terkoreksi 34,67%.
Baca Juga
Menko Airlangga: Ada Riak MSCI, Ekonomi Makro Indonesia Tetap Positif
Saham berkapitalisasi besar lainnya turut menekan indeks. TLKM menyumbang negatif 139,44 poin, BBRI 134,68 poin, TPIA 129,01 poin, dan BMRI 109,17 poin. Harga saham masing-masing turun 39,08%, 23,22%, 80,86%, dan 27,45% sejak awal tahun. FILM, BRPT, dan BRMS juga masuk daftar sepuluh pemberat terbesar IHSG dalam periode tersebut.
Meski seluruh indeks sektoral melemah secara tahunan, sejumlah saham masih membukukan kenaikan. SMMA naik 38,28% dan memberikan kontribusi positif 38,59 poin terhadap IHSG. AADI menguat 59,14% dengan kontribusi 13,94 poin, sedangkan ADRO naik 32,60% dan menyumbang 11,06 poin. Penguatan saham-saham tersebut belum mampu mengimbangi tekanan dari saham pemberat utama.
Adapun kenaikan IHSG pada Rabu ditopang antara lain oleh BBCA, BREN, TLKM, BYAN, dan TPIA. BBCA naik 1,44% dan menyumbang 6,83 poin, BREN menguat 8% dengan kontribusi 6,21 poin, serta TLKM naik 2,91% dan menyumbang 5,53 poin. Secara sektoral harian, sembilan sektor menguat, sementara perindustrian dan teknologi masih melemah. Kondisi ini berbeda dari kinerja YTD yang menunjukkan seluruh sektor turun.
Total transaksi saham hari itu mencapai Rp17,72 triliun dengan volume 32,85 miliar saham dan frekuensi 1,82 juta transaksi. Nilai tersebut berada di bawah rata-rata transaksi harian sepanjang tahun sebesar Rp20,54 triliun. BBCA menjadi saham paling aktif berdasarkan nilai transaksi, yakni Rp2,49 triliun, diikuti BBRI Rp1,40 triliun dan BMRI Rp1,21 triliun.
Penguatan sehari dan net buy asing yang tipis memberikan perbaikan pada perdagangan Rabu, tetapi belum menghapus tekanan sepanjang tahun. Akumulasi net sell yang masih melampaui Rp92 triliun, penurunan IHSG 38,38%, serta koreksi seluruh indeks sektoral menunjukkan bahwa pemulihan pasar masih membutuhkan penguatan yang lebih luas dan arus pembelian yang berkelanjutan.
