MAMI Soroti AI dan Inovasi Kesehatan sebagai Penggerak Pertumbuhan Ekonomi Global
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan inovasi kesehatan dinilai berpotensi menjadi dua penggerak pertumbuhan ekonomi global di tengah perubahan teknologi dan demografi dunia.
Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Dimas Ardhinugraha mengatakan, perkembangan AI mendorong peningkatan produktivitas dan investasi infrastruktur digital. Sementara itu, perubahan demografi dan meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan mendorong inovasi di bidang farmasi, bioteknologi, serta peralatan medis.
Menurut Dimas, peluang pertumbuhan dari kedua sektor tersebut tidak hanya berasal dari perusahaan pengembang teknologi atau obat-obatan, tetapi juga perusahaan pendukung yang mampu memanfaatkan perubahan tersebut untuk meningkatkan efisiensi dan mengembangkan bisnis.
Siklus investasi AI, misalnya, turut mendorong permintaan terhadap semikonduktor, layanan komputasi, pusat data, dan infrastruktur energi. Adopsi AI di berbagai industri juga berpotensi mempercepat pengolahan data, meningkatkan kualitas pengambilan keputusan, serta menciptakan produk dan layanan baru.
Meski demikian, Dimas mengingatkan bahwa perkembangan teknologi yang cepat dan persaingan ketat dapat mengubah posisi perusahaan di pasar. Karena itu, investor perlu menilai kemampuan perusahaan dalam mengubah inovasi menjadi pendapatan, keuntungan, dan arus kas berkelanjutan.
“Dalam investasi di sektor teknologi, yang perlu diperhatikan bukan hanya seberapa canggih sebuah inovasi, tetapi juga apakah perusahaan mampu mengubah inovasi tersebut menjadi pendapatan, keuntungan, dan arus kas yang berkelanjutan. Karena itu, riset fundamental tetap menjadi bagian penting dalam menilai peluang dari AI,” jelas Dimas dalam artikel edukasi dikutip Jumat (16/1/2026).
Baca Juga
MAMI Sabet Dua Penghargaan di Investortrust Investment Manager Awards 2026
Selain teknologi, sektor kesehatan dinilai memiliki prospek pertumbuhan yang didukung kebutuhan jangka panjang masyarakat. Penuaan populasi, peningkatan usia harapan hidup, serta kebutuhan penanganan penyakit yang semakin kompleks mendorong pengembangan obat, teknologi diagnostik, dan perangkat medis.
Namun, investasi di sektor kesehatan juga menghadapi risiko, antara lain ketidakpastian hasil penelitian, persetujuan regulator, perlindungan paten, persaingan, dan kemampuan perusahaan memasarkan produknya.
Dimas menilai, investor perlu memperhatikan kualitas fundamental, posisi kompetitif, kemampuan manajemen, dan prospek pertumbuhan perusahaan sebelum mengambil keputusan investasi.
Dalam mengidentifikasi perusahaan potensial, MAMI menggunakan pendekatan dynamic leader, yakni strategi untuk memilih perusahaan yang dinilai mampu mempertahankan keunggulan kompetitif, berinovasi, dan mengalokasikan modal secara efektif di tengah perubahan industri.
“Pelaku utama di industri bukan sekadar perusahaan dengan ukuran terbesar. Bagi kami, perusahaan unggulan adalah perusahaan yang mampu mempertahankan keunggulannya, terus berinovasi, dan mengalokasikan modal secara efektif,” ujar Dimas.
Baca Juga
Investasi untuk Bumi, Cara Manulife Aset Manajemen Rayakan Tiga Dekade di Indonesia
MAMI juga menyebut Manulife Saham Syariah Global Dividen Dolar AS (MANSYAG) sebagai salah satu produk yang memberikan eksposur terhadap saham global, termasuk perusahaan di bidang AI, infrastruktur digital, farmasi, dan peralatan medis.
Produk tersebut berinvestasi secara terdiversifikasi di pasar saham global dengan menggunakan FTSE Shariah All World Index sebagai tolok ukur. MANSYAG juga memiliki fitur dividen atau Pembagian Hasil Investasi (PHI) yang berpotensi dibagikan setiap enam bulan sekali.
Meski menawarkan akses ke berbagai sektor global, keputusan investasi tetap perlu disesuaikan dengan profil risiko, tujuan keuangan, dan jangka waktu investasi masing-masing investor.
