BRI Danareksa Sekuritas: IHSG Tidak Sendirian, Bursa Asia Turut Tertekan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sejalan dengan tekanan yang melanda mayoritas pasar saham Asia.
BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) menyimpulkan, meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi Amerika Serikat (AS) dan prospek kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) membebani sentimen investor di kawasan.
Analis menyebut bahwa inflasi AS yang melampaui ekspektasi pasar, memperkuat kekhawatiran bahwa tekanan inflasi masih persisten dan dapat membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter The Fed. Pada periode September 2026 inflasi AS meningkat jadi 3,7% (yoy), sementara ekspektasi pasar di 3,6%.
Sentimen tersebut tercermin dari pergerakan sejumlah indeks saham Asia yang mayoritas berada di zona merah. Berdasarkan data yang dihimpun BRIDS, indeks Nikkei 225 Jepang terkoreksi 5,24%, Shanghai Composite China melemah 1,98%, sementara Hang Seng Hong Kong turun 1,52%.
Tekanan juga terlihat di pasar domestik. IHSG tercatat melemah 1,33% ke level 5.863,78, dengan penurunan 79 poin.
“Kondisi ini mengindikasikan bahwa tekanan pada IHSG juga dipengaruhi oleh meningkatnya risiko global, di tengah sentimen domestik yang masih perlu dicermati,” tulis analis BRIDS pada Kamis (15/10/2026).
Mayoritas Bursa Asia Melemah, Nikkei Tertekan Paling Dalam
Berdasarkan data yang dikumpulkan BRIDS, tekanan pasar terlihat cukup luas di kawasan Asia, khususnya di bursa Jepang dan China. Nikkei 225 mencatat koreksi harian terdalam di antara indeks utama yang ditampilkan, yakni sebesar 5,24% pada pukul 10:56 WIB hari ini. Secara mingguan, indeks tersebut juga melemah 6,98%.
Bursa China turut bergerak di zona merah. Shanghai Composite terkoreksi 1,98%, sedangkan indeks CSI 300 turun 2%. Shanghai 50 melemah 1,3% dan indeks CH50 terkoreksi 1,72%.
Pelemahan juga terjadi di pasar saham Taiwan. Indeks TSI turun 3,26%, meskipun kinerjanya secara tahunan masih mencatat kenaikan 70,17%. Sementara itu, indeks Hang Seng Hong Kong melemah 1,52% ke level 23.944.
Di Asia Tenggara, kinerja bursa cenderung bervariasi, meskipun tekanan masih terlihat di sejumlah pasar. Indeks SET 50 Thailand turun 0,52%, sedangkan Straits Times Index (STI) Singapura melemah tipis 0,01%. Sementara indeks PSEi Filipina justru menguat 0,6%.
Menurut analis, perbedaan kinerja tersebut menunjukkan bahwa tekanan pasar tidak berlangsung seragam di seluruh kawasan. Namun, pelemahan pada sejumlah indeks utama mengindikasikan bahwa investor masih berhati-hati dalam merespons perkembangan ekonomi global.
IHSG Dibayangi Tekanan Jangka Panjang
Dibandingkan sejumlah bursa regional, kinerja IHSG juga masih tertekan dalam berbagai periode pengamatan. Berdasarkan data BRIDS, indeks mencatat penurunan 3,32% secara mingguan, 9,41% secara bulanan, dan 32,56% sejak awal tahun (year to date/YTD). Sedangkan secara tahunan, IHSG terkoreksi 28,23%.
Kinerja tersebut mencerminkan bahwa tekanan di pasar saham domestik tidak hanya terlihat dalam perdagangan harian, tetapi juga telah berlangsung dalam periode yang lebih panjang.
Dengan kondisi tersebut, analis menilai bahwa investor perlu mencermati perkembangan inflasi AS, ekspektasi suku bunga The Fed, serta pergerakan bursa regional.
“Perkembangan sentimen domestik dan kemampuan IHSG bertahan di area support juga akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah indeks selanjutnya,” imbuhnya.
Meski demikian, BRIDS memandang bahwa pergerakan bursa Asia yang melemah tidak serta-merta memastikan IHSG akan terus terkoreksi. Respons investor terhadap data ekonomi berikutnya dan perubahan ekspektasi kebijakan moneter global tetap berpotensi memengaruhi dinamika pasar.
