BEI Perkuat Literasi dan Ketahanan Investor Pasar Modal
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) berupaya memperluas pemahaman masyarakat mengenai investasi, sekaligus memperkuat kewaspadaan terhadap berbagai modus penipuan, serta ketangguhan dalam menghadapi risiko dan dinamika pasar.
Hal itu salah satunya dilakukan melalui acara Ring the Bell for Financial Literacy yang mengusung tema ‘Stay Smart. Stay Alert. Stay Resilient’.
Direktur BEI Umi Kulsum menegaskan, penguatan literasi semakin penting, seiring dengan terus bertumbuhnya jumlah investor pasar modal Indonesia dengan beragamnya profil.
Hingga akhir 8 Oktober 2026, jumlah investor telah mencapai lebih dari 32 juta Single Investor Identification (SID). Sementara KSEI mencatat, per akhir September 2026, sebanyak 53,41% investor individu berusia 30 tahun ke bawah.
“Pertumbuhan jumlah investor harus berjalan seiring dengan peningkatan pemahaman dan ketahanan investor. Investor yang cerdas tidak hanya mengetahui cara membeli produk investasi, tetapi juga memahami manfaat dan risikonya,” tegas Umi di Main Hall BEI, Rabu (14/10/2026).
Dia menambahkan, investor yang waspada selalu memverifikasi informasi dan menjaga keamanan datanya, sedangkan investor yang tangguh tetap disiplin serta tidak mengambil keputusan secara impulsif ketika pasar berfluktuasi.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin memastikan bahwa semakin luasnya akses masyarakat ke pasar modal juga disertai kemampuan mengambil keputusan investasi secara legal, logis, serta sesuai tujuan dan profil risiko masing-masing,” sambungnya.
Acara tersebut diisi dengan talk show yang menghadirkan Financial Planner Prita Ghozie, Komika Yudha Keling, Content Creator Theresa Tjandrawinata. Diskusi membahas berbagai langkah praktis untuk menjadi investor yang cerdas dan bertanggung jawab.
Para pembicara mengajak investor untuk memahami karakteristik serta risiko produk investasi, memastikan legalitas pihak yang menawarkan investasi, hingga memverifikasi informasi sebelum mengambil keputusan. Diskusi juga mewadahi pembahasan menjaga kerahasiaan data pribadi dan akses akun, serta mengenali ciri-ciri penipuan digital.
Kemudian peserta diberikan pemahaman mengenai pentingnya mengelola risiko dan emosi agar tetap disiplin ketika menghadapi volatilitas pasar.
Kegiatan ini dihadiri oleh sekitar 400 peserta yang terdiri atas calon investor, investor pasar modal, pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum.
Ring the Bell for Financial Literacy turut mengikuti peringatan World Investor Week (WIW) dan Bulan Inklusi Keuangan (BIK) setiap Oktober.
WIW merupakan kampanye global tahunan yang dipromosikan oleh International Organization of Securities Commissions (IOSCO) untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya edukasi dan pelindungan investor.
Tahun ini WIW mengangkat tiga tema utama, yaitu Investor Resilience, Digital Deception, dan Scam Alert. Ketiga tema ini dianggap semakin relevan, seiring berkembangnya investasi berbasis digital yang memberikan kemudahan akses, tetapi juga menghadirkan risiko baru yang perlu dipahami dan diantisipasi oleh masyarakat.
Sebagai bagian dari kampanye tersebut, World Federation of Exchanges (WFE) untuk kedelapan kalinya menyelenggarakan Ring the Bell for Financial Literacy. Pada tahun ini, sebanyak 62 bursa di berbagai negara berpartisipasi melalui seremoni ring the bell, dan rangkaian kegiatan edukasi sepanjang Oktober 2026.
