Saham NexAI (MGLV) dan FILM Dikeluarkan dari Daftar HSC, Sebaliknya 13 Saham SHIP hingga MTEL Masuk
JAKARTA, investortrust.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) mengeluarkan saham PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk (MGLV) dan PT MD Entertainment Tbk (FILM).dari daftar kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi (High Shareholding Concentration/HSC). Sebaliknya 13 saham emiten masuk dalam daftar terbaru HSC di Bursa Efek Indonesia (BEI).
BEI dalam pengumuman resminya menyebutkan bahwa saham NexAI Digital (MGLV), yang sebelumnya bernama PT Panca Anugrah Wisesa Tbk, resmi dikeluarkan dari daftar kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi. Status tersebut mengacu pada metodologi penentuan kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi atas struktur kepemilikan saham dalam bentuk warkat dan tanpa warkat per 30 September 2026.
Keluarnya saham MGLV dari daftar HSC juga sejalan dengan rencana emiten ini untuk menggelar Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue dana senilai Rp 2,53 triliun. Perseroan akan menerbitkan sebanyak 285,73 juta saham dengan harga pelaksanaan Rp 8.880.
Baca Juga
NexAI (MGLV) Gelar Rights Issue Target Dana Rp 2,53 Triliun, Penggunaan Dana untuk Data Center
Manajemen perusahaan yang teraffiliasi dengan Garibaldi Thohir ini (MGLV) mengungkap bahwa jumlah saham yang diterbitkan setara dengan 13,04% dari jumlah saham perseroan yang telah ditempatkan dan disetor penuh setelah PMHMETD I. Setiap pemegang 100 saham dan namanya tercantum dalam Daftar Pemegang Saham (DPS) pada 3 November 2026 pukul 16.00 WIB berhak memperoleh 15 Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD). Pemegang saham utama MGLV, PT Nextier Datamate Center (NDC), yang memiliki 65,10% saham berkomitmen untuk melaksanakan seluruh HMETD yang menjadi haknya.
13 Masuk HSC
Sebaliknya lima saham resmi masuk daftar HSC berdasarkan pengumuman BEI dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Emiten-emiten tersebut mencakup PT Sillo Maritime Perdana Tbk (SHIP), PT Bank Mestika Dharma Tbk (BBMD), PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk (SAME), PT Akasha Wira International Tbk (ADES), PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL), PT Bali Towerindo Sentra Tbk (BALI), PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP), PT Enseval Putera Megatrading Tbk (EPMT), PT Duta Pertiwi Tbk (DUTI), PT Bank Mayapada Internasional Tbk (MAYA), PT Citra Putra Realty Tbk (CLAY), PT Temas Tbk (TMAS), dan PT Diamond Food Indonesia Tbk (DMND).
Berdasarkan data struktur kepemilikan saham dalam bentuk warkat dan tanpa warkat per 1 Oktober 2026, pemegang saham tertentu secara agregat menguasai 98,30% saham SHIP, 99,25% saham BBMD, 94,99% saham SAME, 95,10% saham ADES, dan 95,58% saham MTEL.
Dari kelima emiten tersebut, BBMD mencatat konsentrasi kepemilikan saham tertinggi, yakni sebesar 99,25%. Artinya, pemegang saham tertentu secara agregat menguasai hampir seluruh saham BBMD berdasarkan data per 1 Oktober 2026. SHIP menyusul dengan konsentrasi kepemilikan sebesar 98,30%. Sementara itu, MTEL mencatatkan konsentrasi kepemilikan 95,58%, ADES sebesar 95,10%, dan SAME sebesar 94,99%.
Baca Juga
Wall Street ‘Mixed’, Eskalasi di Timur Tengah dan Anjloknya Saham Chip Tekan Pasar
Selanjutnya, konsentrasi kepemilikan saham EPMT mencapai 99,01%, DUTI sebesar 99,88%, MAYA sebesar 96,68%, CLAY sebesar 99,89%, TMAS sebesar 95,30%, dan DMND sebesar 99,86%. Dari 13 emiten tersebut, CLAY mencatat konsentrasi kepemilikan saham tertinggi, yakni 99,89%. Posisi berikutnya ditempati DUTI sebesar 99,88% dan DMND sebesar 99,86%. EPMT juga mencatat konsentrasi kepemilikan tinggi sebesar 99,01%, sedangkan BBMD mencapai 99,25%. Adapun INPP memiliki konsentrasi kepemilikan 98,72%.
Sementara itu, konsentrasi kepemilikan saham MAYA mencapai 96,68%, MTEL sebesar 95,58%, TMAS sebesar 95,30%, ADES sebesar 95,10%, SAME sebesar 94,99%, BALI sebesar 92,60%, dan SHIP sebesar 98,30%.
