Kendati Mulai Net Buy, Net Sell Masih Rp 85 Triliun
JAKARTA, Investortrust.id — Investor asing mencatatkan pembelian bersih atau net buy sebesar Rp30,40 miliar pada perdagangan Jumat (09/10/2026), ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 1,04% menjadi 6.093,759. Namun, masuknya dana asing tersebut belum banyak mengurangi akumulasi penjualan bersih yang sejak awal tahun mencapai Rp84,999 triliun, atau hampir Rp85 triliun.
Berdasarkan IDX Daily Statistics Bursa Efek Indonesia (BEI), penguatan pada hari perdagangan ke-183 itu juga belum mengubah posisi pasar saham Indonesia yang masih tertekan sepanjang 2026. IHSG tercatat turun 29,53% sejak awal tahun, sementara kapitalisasi pasar saham BEI berada di posisi Rp10.701 triliun.
Pemulihan indeks berlangsung dengan nilai transaksi saham Rp9,927 triliun, kurang dari separuh rata-rata transaksi harian sepanjang tahun ini. Kombinasi tersebut memperlihatkan bahwa kenaikan harga belum disertai aktivitas perdagangan sebesar rata-rata tahun berjalan.
Net Buy Rp30,40 Miliar, Net Sell Mendekati Rp85 Triliun
Pembelian bersih investor asing pada Jumat mencapai Rp30,40 miliar, setara sekitar US$1,70 juta. Net buy berarti nilai pembelian saham oleh investor asing lebih besar daripada penjualannya pada periode tersebut.
Sebaliknya, secara kumulatif sejak awal tahun atau year to date (YTD), investor asing masih membukukan penjualan bersih Rp84.999,31 miliar, setara Rp84,99931 triliun. Dalam statistik BEI, nilai tersebut setara sekitar US$4,753 miliar.
Dengan demikian, meskipun angka penjualan bersih masih berada pada kisaran Rp84 triliun, nilainya sudah sangat dekat dengan Rp85 triliun. Net buy harian Rp30,40 miliar hanya setara sekitar 0,036% dari besarnya akumulasi net sell tersebut.
Masuknya dana asing pada satu sesi perdagangan menjadi perkembangan positif bagi pasar. Namun, data satu hari belum cukup untuk menyimpulkan bahwa arah transaksi investor asing telah berbalik secara berkelanjutan. Konsistensi pembelian bersih pada perdagangan berikutnya masih menjadi penentu.
IHSG Naik 62,475 Poin, Sempat Bergerak di Bawah 6.000
IHSG ditutup pada level 6.093,759, naik 62,475 poin atau 1,04% dari posisi penutupan sebelumnya, 6.031,284. Sepanjang perdagangan, indeks bergerak pada rentang 5.995,821 hingga 6.100,577.
Pergerakan tersebut menunjukkan IHSG sempat turun ke bawah level 6.000 sebelum berbalik menguat dan menutup perdagangan mendekati posisi tertinggi hariannya. Jarak antara titik terendah dan tertinggi mencapai 104,756 poin.
Meski menguat pada akhir pekan, IHSG masih mencatatkan penurunan 29,53% sejak awal 2026. Besarnya koreksi kumulatif ini menunjukkan bahwa pemulihan harian belum menutup tekanan yang telah berlangsung sepanjang tahun.
Penguatan juga terjadi pada indeks saham unggulan. LQ45 naik 1,35% menjadi 601,666, IDX30 menguat 1,27% menjadi 334,365, dan IDX80 bertambah 1,28% menjadi 89,708. Namun, secara YTD, ketiganya masih turun masing-masing 28,93%, 23,53%, dan 32,33%.
Indeks saham berdividen tinggi, IDX High Dividend 20, menguat 1,15% menjadi 427,055, dengan koreksi sejak awal tahun sebesar 16,24%. Sementara itu, IDX BUMN20 naik 1,01% menjadi 307,490, tetapi masih melemah 19,31% secara YTD.
Valuasi Pasar: PER 12,62 Kali, PBV 1,62 Kali
BEI mencatat rasio harga terhadap laba atau price to earnings ratio (PER) pasar sebesar 12,62 kali. Adapun rasio harga terhadap nilai buku atau price to book value (PBV) berada di posisi 1,62 kali.
Secara sederhana, PER menggambarkan perbandingan harga saham dengan laba per saham, sedangkan PBV membandingkan harga saham dengan nilai buku per saham. Pada tingkat pasar, kedua indikator tersebut memberikan gambaran umum mengenai valuasi saham secara agregat.
Angka tersebut perlu dibaca bersama prospek laba, kualitas aset, kondisi usaha, dan risiko masing-masing emiten. PER 12,62 kali dan PBV 1,62 kali belum dengan sendirinya membuktikan seluruh saham murah, terlebih statistik yang disajikan tidak memuat pembanding historis maupun valuasi bursa lain.
Karena itu, penurunan IHSG sebesar 29,53% sejak awal tahun dan posisi valuasi pasar merupakan dua informasi yang perlu ditelaah bersama, bukan dasar tunggal untuk menilai daya tarik setiap saham.
Posisi Dunia: Peringkat 35 dalam Tabel BEI
Dalam tabel perbandingan indeks global BEI, IHSG menempati peringkat ke-35 berdasarkan kinerja sejak awal tahun. Publikasi tersebut menyebut cakupan pemeringkatan berasal dari bursa terpilih anggota World Federation of Exchanges di 36 negara.
Pada kelompok ASEAN, Indonesia berada di peringkat keenam atau posisi terakhir dari enam negara yang ditampilkan. Untuk kelompok Asia Pasifik, IHSG menempati peringkat ke-13, juga posisi terakhir dalam kelompok yang tercantum.
Kesenjangan kinerja Indonesia dengan sejumlah pasar ASEAN cukup lebar. Indeks SET Thailand naik 25,24% sejak awal tahun, sedangkan Straits Times Singapura menguat 16,26%. Vietnam turun 2,62%, Malaysia melemah 4,27%, dan Filipina terkoreksi 5,81%, jauh lebih kecil daripada penurunan IHSG sebesar 29,53%.
Di Asia Pasifik, indeks Taiwan mencatatkan kenaikan 70,26%, KOSPI Korea Selatan menguat 57,23%, dan Nikkei 225 Jepang naik 37,13%. Sementara itu, Sensex India turun 15,01%.
Perbandingan ini menempatkan IHSG di kelompok terbawah dalam tabel kinerja tahun berjalan BEI. Meski demikian, data indeks dunia tersebut dihimpun pada pukul 16.00 WIB sehingga tidak seluruhnya mencerminkan penutupan perdagangan pada tanggal yang sama di masing-masing negara.
Sepuluh Sektor Menguat, Properti Melemah
Sebanyak 10 dari 11 indeks sektoral menguat pada perdagangan Jumat. Sektor barang baku mencatatkan kenaikan terbesar, yakni 1,67% menjadi 1.676,983, disusul sektor perindustrian yang naik 1,51% menjadi 1.577,331.
Sektor infrastruktur menguat 1,15% menjadi 1.699,641, transportasi dan logistik naik 1,08% menjadi 1.773,795, serta barang konsumen primer bertambah 1,02% menjadi 681,340.
Berikutnya, sektor barang konsumen nonprimer naik 0,86% menjadi 906,388, keuangan menguat 0,79% menjadi 1.314,885, dan energi meningkat 0,71% menjadi 3.159,459. Sektor kesehatan naik 0,69% menjadi 1.468,989, sedangkan teknologi menguat 0,60% menjadi 5.807,789.
Properti dan real estat menjadi satu-satunya sektor yang melemah, turun 0,16% menjadi 744,451.
Namun, secara kumulatif sejak awal tahun, seluruh indeks sektoral masih berada di zona negatif. Teknologi mengalami koreksi terdalam sebesar 39,05%, diikuti properti dan real estat sebesar 36,53%, serta infrastruktur sebesar 36,37%.
Sektor energi turun 29,05%, kesehatan melemah 28,84%, perindustrian terkoreksi 26,81%, dan barang konsumen nonprimer turun 26,09%. Sementara itu, barang baku melemah 18,52%, keuangan turun 15,17%, serta barang konsumen primer terkoreksi 14,81%.
Transportasi dan logistik mencatatkan penurunan paling kecil, yakni 9,78%. Dengan demikian, penguatan yang meluas pada perdagangan Jumat belum menghapus koreksi tahunan pada satu pun dari 11 sektor tersebut.
Kapitalisasi Pasar Rp10.701 Triliun
Total kapitalisasi pasar saham BEI tercatat sebesar Rp10.701 triliun atau sekitar US$598 miliar. Konversi dolar AS dalam statistik harian tersebut menggunakan kurs BI sebesar Rp17.884 per dolar AS.
Sementara itu, kapitalisasi pasar IHSG yang telah disesuaikan dengan saham beredar bebas atau free float adjusted tercatat Rp2.640 triliun, setara sekitar US$148 miliar.
Baca Juga
IHSG Anjlok 7%, Investor Indonesia Malah Bertambah 1 Juta, Ada Apa?
Kedua angka tersebut menggunakan dasar perhitungan berbeda. Kapitalisasi pasar total mencerminkan nilai pasar seluruh saham yang diperhitungkan, sedangkan angka setelah penyesuaian free float mempertimbangkan porsi saham yang tersedia bagi publik sesuai metodologi indeks.
Sepuluh Saham Berkapitalisasi Terbesar
BBCA tetap menjadi saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di BEI, mencapai sekitar Rp738 triliun atau 6,90% dari total kapitalisasi pasar. Posisi kedua ditempati DCII dengan Rp475 triliun atau 4,44%, diikuti BBRI sebesar Rp465 triliun atau 4,35%.
BYAN berada di posisi keempat dengan kapitalisasi Rp393 triliun atau 3,67%. Selanjutnya, BMRI mencatatkan kapitalisasi Rp373 triliun atau 3,49%, BREN sebesar Rp361 triliun atau 3,38%, serta AMMN sebesar Rp320 triliun atau 2,99%.
Tiga saham lainnya dalam jajaran 10 besar adalah MORA dengan kapitalisasi Rp238 triliun atau 2,23%, TLKM sebesar Rp230 triliun atau 2,15%, dan DSSA sebesar Rp218 triliun atau 2,03%.
Berdasarkan angka pembulatan tersebut, total kapitalisasi 10 saham terbesar mencapai sekitar Rp3.811 triliun, atau sekitar 35,6% dari kapitalisasi pasar BEI. Namun, pangsa kapitalisasi pasar total tidak identik dengan bobot saham dalam IHSG yang menggunakan penyesuaian free float.
Nilai Transaksi Kurang dari Separuh Rata-Rata Harian
Nilai transaksi saham pada Jumat mencapai Rp9,927 triliun atau sekitar US$555 juta. Volume perdagangan tercatat sebanyak 37,574 miliar saham, dengan frekuensi sekitar 1,417 juta kali transaksi.
Sebagai pembanding, rata-rata nilai transaksi harian sepanjang 2026 mencapai Rp20,620 triliun. Dengan demikian, nilai transaksi Jumat hanya sekitar 48,1% dari rata-rata tahun berjalan, atau lebih rendah sekitar 51,9%.
Volume perdagangan juga berada di bawah rata-rata harian sebesar 39,574 miliar saham. Frekuensi transaksi lebih rendah daripada rata-rata tahun berjalan yang mencapai sekitar 2,403 juta kali per hari.
Dari total transaksi saham Jumat, pasar reguler menyumbang sekitar Rp8,576 triliun dan pasar negosiasi sebesar Rp1,351 triliun. Adapun transaksi pasar tunai relatif kecil, hanya sekitar Rp5,835 juta.
Sepanjang tahun berjalan, akumulasi nilai transaksi saham mencapai Rp3.773,502 triliun, dengan volume sekitar 7,242 triliun saham dan frekuensi sekitar 439,833 juta kali transaksi. Jika instrumen lain turut diperhitungkan, nilai transaksi seluruh instrumen pada Jumat mencapai Rp9,952 triliun.
GOTO Dominasi Volume, VICI Pimpin Nilai Transaksi
GOTO menjadi saham dengan volume perdagangan terbesar, mencapai 13,218 miliar saham atau 35,18% dari total volume pasar. Artinya, lebih dari sepertiga saham yang berpindah tangan pada perdagangan Jumat berasal dari transaksi GOTO.
Posisi berikutnya ditempati BUMI dengan volume 1,782 miliar saham dan FORU sebanyak 1,747 miliar saham. Selanjutnya terdapat IATA sebanyak 887 juta saham, VICI 820 juta saham, DOOH 772 juta saham, BTEK 727 juta saham, AHAP 608 juta saham, BEKS 590 juta saham, dan NAYZ 531 juta saham.
Dari sisi nilai transaksi, VICI menempati posisi pertama dengan Rp623 miliar atau 6,28% dari total transaksi saham. BBCA menyusul dengan Rp530 miliar, BBRI Rp485 miliar, GOTO Rp388 miliar, dan TLKM Rp387 miliar.
Lima saham lain dalam jajaran 10 besar nilai transaksi adalah BUMI sebesar Rp317 miliar, FORU Rp268 miliar, DOOH Rp246 miliar, AMMN Rp227 miliar, dan BMRI Rp216 miliar.
Sementara itu, FORU menjadi saham dengan frekuensi transaksi tertinggi, sebanyak 60.745 kali. Berikutnya adalah MMIX sebanyak 29.629 kali, GOTO 28.816 kali, AHAP 26.085 kali, dan IATA 24.116 kali.
BBRI Menjadi Penggerak Utama IHSG
BBRI menjadi penyumbang kenaikan IHSG terbesar pada perdagangan Jumat. Kenaikan harga saham sebesar 2,31% memberikan kontribusi positif 10,31 poin terhadap indeks.
AMMN menyusul dengan kontribusi 6,47 poin setelah harganya naik 4,01%. TLKM yang menguat 2,65% menyumbang 5,53 poin, sedangkan BBCA yang naik 0,83% memberikan tambahan 4,55 poin.
Baca Juga
IHSG Dibuka Naik Tipis 7,73 Poin, Saham ARII dan SAFE Lanjut Lompat
Penggerak positif lainnya meliputi EMAS sebesar 3,70 poin, BMRI 3,19 poin, DSSA 2,86 poin, BRMS 2,50 poin, MORA 2,44 poin, dan BUMI 2,22 poin.
Di sisi sebaliknya, BYAN menjadi penahan kenaikan indeks terbesar. Penurunan harga sebesar 4,07% mengurangi IHSG sebesar 8,19 poin. GEMS yang turun 9,97% memberikan tekanan 1,20 poin, disusul TINS sebesar 0,66 poin, DNET 0,56 poin, dan PGAS 0,48 poin.
BREN dan DSSA Menekan IHSG Sepanjang Tahun
Secara YTD, BREN menjadi penyumbang penurunan IHSG terbesar, yakni 259,49 poin, sejalan dengan penurunan harga sahamnya sebesar 72,16%. DSSA berada di urutan berikutnya dengan tekanan 257,26 poin setelah terkoreksi 72,03%.
BBCA yang turun 25,08% sejak awal tahun mengurangi indeks sebesar 194,07 poin. TLKM menyumbang tekanan 121,02 poin dengan penurunan harga 33,33%, sedangkan TPIA mengurangi indeks 112,01 poin setelah anjlok 76,07%.
Penekan besar lainnya adalah BRPT sebesar 106,75 poin, FILM 105,38 poin, BBRI 91,97 poin, BMRI 82,07 poin, dan BRMS 76,39 poin.
Di tengah tekanan tersebut, sejumlah saham tetap memberikan kontribusi positif sejak awal tahun. SMMA menyumbang kenaikan indeks sebesar 39,29 poin, diikuti EMAS 25,13 poin, MDKA 17,67 poin, AADI 16,23 poin, dan ADRO 14,27 poin.
Data tersebut menunjukkan kinerja saham tidak bergerak seragam. Ketika sejumlah saham berbobot besar menekan indeks, beberapa saham lain tetap mencatatkan kenaikan sepanjang tahun.
STRK Pimpin Kenaikan, KDTN Catat Penurunan Terbesar
STRK menjadi saham dengan persentase kenaikan harga tertinggi pada Jumat, melonjak 33,87% dari Rp62 menjadi Rp83. SOSS dan TCPI masing-masing naik 25%, menjadi Rp1.200 dan Rp1.625.
TFCO menguat 24,85% menjadi Rp1.030, BIKE naik 24,78% menjadi Rp2.140, dan MAPB bertambah 24,77% menjadi Rp1.335. Saham lainnya yang masuk daftar kenaikan terbesar adalah LIFE sebesar 19,89%, SEMA 17,71%, MBSS 15%, dan DAAZ 14,15%.
Sebaliknya, KDTN mengalami penurunan terbesar, yakni 14,95% menjadi Rp472. TRIN melemah 14,29% menjadi Rp204, DOOH turun 12,90% menjadi Rp270, ALKA terkoreksi 12,58% menjadi Rp7.125, dan FORU turun 11,39% menjadi Rp140.
Baca Juga
Thailand Berlakukan Aturan ETF Bitcoin dan Ethereum Mulai 16 Oktober
Penurunan besar juga terjadi pada IFSH sebesar 11,01%, PTSN 10,95%, TRUE 10,34%, GEMS 9,97%, dan HELI 8,77%.
Transaksi Saham Syariah Rp5,413 Triliun
Saham anggota Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) membukukan nilai transaksi Rp5,413 triliun, atau 54,5% dari total transaksi saham BEI pada Jumat.
Volume perdagangan saham ISSI mencapai 13,222 miliar saham, setara 35,2% dari total volume pasar. Frekuensinya sekitar 789 ribu kali transaksi atau 55,7% dari keseluruhan frekuensi transaksi saham.
Kapitalisasi pasar saham anggota ISSI tercatat Rp5.308 triliun, setara 49,6% dari kapitalisasi pasar BEI. Angka tersebut belum disesuaikan dengan free float.
ISSI menguat 0,76% menjadi 212,857, tetapi masih turun 31,03% sejak awal tahun. Jakarta Islamic Index (JII) naik 1,41% menjadi 364,764, dengan penurunan YTD sebesar 36,94%. Sementara itu, JII70 naik 1,22% menjadi 142,028, tetapi masih terkoreksi 33,20% sejak awal tahun.
Stockbit Pimpin Aktivitas Anggota Bursa
Pada kelompok anggota bursa, Stockbit Sekuritas Digital menempati peringkat pertama berdasarkan nilai transaksi sebesar Rp2,212 triliun, dengan pangsa 11,14%. UBS Sekuritas Indonesia berada di posisi kedua dengan Rp2,012 triliun, disusul Mandiri Sekuritas sebesar Rp1,766 triliun.
Baca Juga
Investor Asing Akhirnya Catat Net Buy Saham, Lima Saham Ini Diborong
Maybank Sekuritas Indonesia membukukan nilai transaksi Rp1,282 triliun, sedangkan Mirae Asset Sekuritas Indonesia sebesar Rp860 miliar. Berikutnya adalah BNI Sekuritas Rp856 miliar, Indo Premier Sekuritas Rp837 miliar, Lotus Andalan Sekuritas Rp803 miliar, Semesta Indovest Sekuritas Rp760 miliar, dan CGS International Sekuritas Indonesia Rp687 miliar.
Stockbit juga memimpin volume transaksi anggota bursa sebanyak 11,913 miliar saham serta frekuensi transaksi sebanyak 838.900 kali.
Statistik anggota bursa menghitung aktivitas pada sisi beli dan jual. Karena itu, basis totalnya berbeda dengan nilai transaksi pasar yang mencatat satu transaksi sekali, sehingga kedua angka tersebut tidak dapat dibandingkan langsung tanpa memperhatikan dasar perhitungannya.
Sebanyak 963 Efek Saham Tercatat
BEI mencatat 963 efek saham, terdiri atas 962 saham biasa dan satu saham jenis lainnya. Sebanyak 618 saham termasuk kategori saham syariah.
Berdasarkan pengelompokan papan dalam publikasi tersebut, sebanyak 291 saham berada di papan utama, 560 di papan pengembangan, 43 di papan akselerasi, satu di papan ekonomi baru, dan 68 dalam kategori papan pemantauan khusus.
Di luar saham, BEI mencatat 49 ETF, tiga REIT, 523 waran terstruktur, dan 17 kontrak berjangka. Jumlah saham tercatat tersebut berbeda dengan jumlah konstituen masing-masing indeks, yang mengikuti kriteria dan metodologi tersendiri.
Baca Juga
IHSG Akhir Pekan Ditutup Rebound 1,04% Terdorong Sejumlah Saham Big Cap Ini
Perdagangan akhir pekan ini memperlihatkan penguatan IHSG, kenaikan mayoritas indeks sektoral, dan net buy asing dalam satu hari. Namun, akumulasi net sell yang mendekati Rp85 triliun, koreksi IHSG sebesar 29,53% sejak awal tahun, serta nilai transaksi di bawah rata-rata menunjukkan pemulihan pasar masih membutuhkan dukungan arus dana dan aktivitas perdagangan yang lebih kuat.
Sumber: Bursa Efek Indonesia, IDX Daily Statistics, Jumat, 9 Oktober 2026, hari perdagangan ke-183. Persentase perbandingan tambahan dihitung dari angka dalam publikasi tersebut.
