Survei Visa: 46% Konsumen Asia Pasifik Berminat Gunakan Stablecoin dalam Lima Tahun ke Depan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Minat konsumen di kawasan Asia Pasifik (APAC) untuk menggunakan stablecoin dalam transaksi sehari-hari, perjalanan, dan transfer lintas negara menunjukkan potensi pertumbuhan. Survei Visa mengungkapkan, 46% responden cenderung menggunakan stablecoin dalam lima tahun ke depan.
Dalam riset yang melibatkan 14.250 responden tersebut, Visa menemukan bahwa 16% responden pernah menggunakan stablecoin dalam 12 bulan terakhir. Selain itu, 49% responden meyakini stablecoin berpotensi menjadi metode umum untuk memindahkan uang lintas negara dalam lima tahun mendatang.
Kepala Mata Uang Digital Visa untuk Asia Pasifik, Nischint Sanghavi, mengatakan minat konsumen terhadap stablecoin meningkat meskipun pemahaman mengenai aset digital tersebut masih terbatas.
“Kami melihat pergeseran signifikan dalam cara konsumen di seluruh Asia Pasifik memandang stablecoin,” kata Sanghavi, dikutip dari hasil survei Visa, Sabtu (10/10/2026).
Baca Juga
Bidik Penguatan Stablecoin dan Likuiditas, Circle hingga Standard Chartered Investasi di OKX
Namun, tingkat pemahaman responden masih menjadi tantangan. Visa mencatat hanya 6% responden yang memiliki pemahaman akurat mengenai cara kerja stablecoin.
Sebanyak 49% responden yang mengetahui stablecoin mengira aset tersebut hanya dapat digunakan untuk membeli dan menjual mata uang kripto lainnya. Padahal, stablecoin merupakan aset kripto yang dirancang untuk mempertahankan nilai relatif stabil dengan mengacu pada aset tertentu, seperti mata uang fiat.
Survei tersebut juga menemukan bahwa kekhawatiran terhadap penipuan dan skema yang tidak jujur menjadi salah satu hambatan utama bagi responden yang mengetahui stablecoin tetapi belum pernah menggunakannya.
Visa menilai tantangan berikutnya adalah mengubah minat konsumen menjadi pengalaman pembayaran yang tepercaya dan mudah digunakan.
“Konsumen mulai melihat bagaimana stablecoin dapat mendukung cara mereka sudah membelanjakan dan memindahkan uang,” ujar Sanghavi.
Baca Juga
Lebih dari Sekadar Aset Kripto, ABI Beberkan Peluang Stablecoin Rupiah untuk RWA hingga Remitansi
Menurut dia, peluang pengembangan stablecoin terletak pada penyediaan pengalaman pembayaran yang familier, tepercaya, dan dapat digunakan dalam skala besar.
Kawasan Asia Pasifik menjadi salah satu pasar yang diperebutkan penyedia stablecoin, perbankan, dan jaringan pembayaran. Dengan sekitar 2,5 miliar konsumen kelas menengah, kawasan ini dinilai memiliki potensi bagi pengembangan penggunaan stablecoin untuk kebutuhan pembayaran sehari-hari.
Visa sendiri memperluas jaringan penyelesaian transaksi berbasis stablecoin dan dukungan terhadap lebih banyak token serta jaringan blockchain. Mitranya, Reap, juga menyiapkan pengembangan stablecoin berbasis mata uang lokal untuk mendukung penyelesaian transaksi valuta asing secara on chain selama 24 jam sehari dan tujuh hari seminggu.
Pengembangan tersebut mencakup potensi penggunaan token yang dipatok pada dolar Hong Kong, won Korea Selatan, dan yen Jepang.
