Saham Emiten Ayam Bangkit! Laba CPIN-JPFA Melejit, Target Harga hingga Rp 4.100
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Prospek saham dan kinerja keuangan emiten peternakan ayam atau poultry semakin positif, seiring pemulihan harga jual ayam hidup atau livebird (LB) dan day-old chick (DOC) pada kuartal III-2026. Perbaikan harga tersebut diperkirakan mampu mengimbangi kenaikan biaya pakan dan mendorong pemulihan kinerja keuangan emiten poultry.
Hal ini mendorong BRI Danareksa Sekuritas dalam riset terbarunya menetapkan proyeksi laba bersih PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), dan PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN) akan meningkat pada kuartal III-2026 dibandingkan kuartal sebelumnya. Bahkan, pertumbuhan laba tersebut diperkirakan berlanjut pada kuartal akhir tahun ini.
Baca Juga
Perbaikan prospek tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham CPIN dengan target harga Rp 4.100, JPFA dengan target harga Rp 3.200, dan MAIN dengan target harga Rp 900. Bahkan, BRI Danareksa Sekuritas memilih untuk merevisi naik proyeksi kinerja keuangan tiga emiten tersebut untuk 2026.
BRI Danareksa Sekuritas merevisi naik proyeksi kinerja keuangan CPIN, yaitu target pendapatan direvisi naik dari Rp 76,40 triliun menjadi Rp 80,24 triliun. Begitu juga dengan estimasi laba bersih direvisi naik dari Rp 6,26 triliun emnjadi Rp 6.71 triliun. Target kinerja keuangan JPFA direvisi naik dari proyeksi penjualan Rp 65,12 triliun menjadi Rp 66,87 triliun tahun 2026. Estimasil aba bersih juga direvisi naik dari semula Rp 4,22 triliun menjadi Rp 4,52 triliun.
CPIN diperkirakan membukukan laba bersih sebesar Rp 1,9 triliun pada kuartal III-2026, melonjak 68% secara kuartalan (qoq). Sementara itu, laba bersih JPFA diproyeksikan mencapai Rp 1,1 triliun, tumbuh 67% qoq. Sedangkan MAIN diperkirakan mencatat laba bersih sebesar Rp 80,8 miliar.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Victor Stefano dan Wilastita Muthia Sofi mengatakan, kenaikan harga ayam pada kuartal III sudah lebih dari cukup untuk mengompensasi peningkatan biaya pakan. Sejalan dengan perkembangan harga yang berada di atas perkiraan sebelumnya, sejumlah asumsi harga untuk 2026 direvisi lebih tinggi.
Baca Juga
Mendagri Minta Pemda Waspadai Kenaikan Harga Ayam, Telur, dan Beras
BRI Danareksa Sekurita menetapkan asumsi harga ayam hidup dinaikkan 3,5% menjadi Rp 21.700 per kg, sedangkan asumsi harga DOC dinaikkan 3,1% menjadi Rp 6.000 per ekor. Kenaikan asumsi harga ayam tersebut diperkirakan cukup untuk mengimbangi kenaikan biaya bahan baku pakan.
Secara year to date (YTD), rata-rata harga ayam hidup dan DOC masing-masing masih 8% dan 6% lebih tinggi dibandingkan level sepanjang 2025. Sedangkan asumsi harga jagung dinaikkan 2,4% menjadi Rp 6.400 per kg, sedangkan harga soybean meal (SBM) dinaikkan 3,1% menjadi US$ 316 per ton.
“Kami juga memperkirakan harga ayam tetap berada pada level tinggi hingga kuartal IV-2026. Kondisi tersebut didukung oleh keterbatasan pasokan (undersupply) dan intervensi pemerintah. Dengan harga ayam yang diperkirakan tetap kuat, kenaikan biaya pakan dinilai masih dapat dikompensasi, sehingga memberikan dukungan terhadap kinerja dan margin CPIN,” tulisnya.
Di sisi lain, harga jagung lokal diperkirakan tetap tinggi akibat intervensi harga pemerintah serta kondisi pasokan yang ketat. Sedangkan harga SBM diperkirakan mulai mengalami moderasi. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh fenomena El Nino yang diperkirakan dapat mendorong peningkatan produksi kedelai di Argentina. Dengan demikian, tekanan biaya pakan dari SBM berpotensi mereda, sementara harga ayam diproyeksikan tetap tinggi hingga akhir 2026.
Sejumlah faktor tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan pandangan overweight terhadap sektor poultry dengan katalis utama berupa prospek keseimbangan pasokan dan permintaan serta momentum pertumbuhan laba. Saham CPIN menjadi pilihan utama (top pick) yang direkomendasikan beli dengan target harga Rp 4.100 per saham.
