Pengurangan Anggaran MBG Tak Turun Prospek Saham Emiten Sektor Unggas, Intip Target Harga CPIN, JPFA, MAIN Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pengurangan anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai tak berdampak signifikan terhadap prospek sektor perunggasan nasional. Justru, saham sektor ini tetap menarik dengan rekomendasi dipertahankan overweight.
BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) merekomendasikan beli saham CPIN dengan target harga Rp 5.900, JPFA dengan target harga Rp 3.300, dan MAIN dengan target harga Rp 1.700.
Dalam riset terbarunya, BRIDS mencatat munculnya kekhawatiran terkait kemungkinan pemangkasan anggaran MBG tahun fiskal 2026 dari alokasi awal Rp 335 triliun menjadi Rp 268 triliun di tengah kondisi fiskal pemerintah saat ini. Adapun realisasi hingga Mei 2026 mencapai Rp 88,2 triliun dengan penermia manfaaat 63,1 juta orang.
Baca Juga
IHSG Cenderung Bergerak Terbatas Hari Ini, Tiga Saham Dipimpin INCO Layak Dilirik
BRIDS memperkirakan apabila program MBG diperluas hingga mencapai target sebanyak 82,9 juta penerima manfaat mulai Juli 2026 dan dipertahankan hingga akhir tahun, maka total belanja MBG sepanjang 2026 dapat mencapai sekitar Rp 249 triliun. Angka tersebut masih berada di bawah anggaran revisi yang dilaporkan.
Namun, apabila jumlah penerima manfaat tidak bertambah dari level saat ini, BRIDS memperkirakan total belanja MBG tahun 2026 hanya mencapai Rp 215 triliun atau sekitar Rp 120 triliun lebih rendah dibandingkan alokasi awal tahun ini.
Dalam skenario tanpa perluasan penerima manfaat, BRIDS memperkirakan penyerapan daging ayam yang berasal dari program MBG mencapai sekitar 300 ribu ton pada 2026, sedikit lebih rendah dari proyeksi awal sebesar 328 ribu ton.
Baca Juga
Dua Purtra (DPUM) Percepat Pemulihan Pabrik, Ekspor Ditargetkan Kembali Berjalan Juli 2026
Penurunan tersebut hanya setara sekitar 1,1% dari estimasi produksi broiler tahun 2026 sehingga menurunkan proyeksi kekurangan pasokan (undersupply) dari 12% menjadi sekitar 11%. "Pengaruhnya terhadap prospek sektor unggas relatif terbatas," tulis BRIDS dalam risetnya.
Sementara itu, harga livebird melemah ke kisaran Rp16.500-18.500 per kilogram sejak akhir Mei 2026. BRIDS menilai pelemahan tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya produksi livebird, melemahnya permintaan selama libur sekolah Juni 2026 dan bulan Suro, serta gangguan sementara akibat reformasi program MBG oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
Untuk kinerja kuartal II-2026, BRIDS memperkirakan margin perusahaan unggas akan lebih rendah, dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencatat basis kinerja tinggi. Laba bersih PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) diperkirakan berada pada kisaran Rp 845 miliar hingga Rp 1,03 triliun. Sementara itu, laba PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) diperkirakan sebesar Rp 529-680 miliar, dan PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN) sekitar Rp 31-39 miliar.
Baca Juga
Kunjungi Papua Barat, Wapres Gibran Dorong Rehabilitasi Kebun Kakao 2.000 Hektare
Penurunan kinerja secara kuartalan terutama disebabkan melemahnya harga livebird dan DOC yang masing-masing turun 15,0% dan 15,2% dibandingkan kuartal sebelumnya. Di sisi lain, biaya pakan relatif stabil di kisaran Rp7.600 per kilogram.
Meski demikian, BRIDS tetap mempertahankan rekomendasi Overweight karena valuasi sektor saat ini diperdagangkan pada EV/EBITDA 4,0 kali atau sekitar 1,5 standar deviasi di bawah rata-rata lima tahun. BRIDS memperkirakan harga livebird akan pulih pada Juli 2026 seiring meredanya faktor-faktor yang menekan harga dalam beberapa pekan terakhir.
