Saham Sektor Unggas Dipertahankan Overweight, Prospek Laba Tetap Solid dengan Saham Pilihan Teratas CPIN
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Saham emiten sektor unggas dipertahankan dengan rekomendasi overweight, meski margin keuntungan segmen pakan ternak menghadapi tekanan pada semester II-2026. Optimisme tersebut didukung oleh valuasi saham yang masih menarik, prospek pemulihan harga ayam hidup, serta kinerja keuangan emiten yang diperkirakan tetap positif.
BRI Danareksa Sekuritas dalam riset terbarunya mengatakan kenaikan harga jagung domestik akan meningkatkan biaya pakan. Namun, tekanan tersebut diharapkan terimbangi melalui penggunaan gandum pakan (feed wheat) sebagai substitusi dengan perkiraan sekitar 3,9% dari total formulasi pakan sepanjang 2026.
Selain itu, biaya impor soybean meal (SBM) masih relatif menguntungkan. Sepanjang lima bulan pertama 2026, rata-rata biaya impor SBM turun sekitar 4% secara tahunan, meski harga SBM secara year to date meningkat 6%. Impor feed wheat Indonesia diperkirakan terus meningkat setelah sempat turun tajam pada 2018-2020.
Baca Juga
IHSG Diprediksi Lanjut Rebound Menuju 6.000, Tiga saham Dipimpin BUVA Layak Dibeli
Volume impor pada lima bulan pertama 2026 mencapai sekitar 320 ribu ton atau lebih dari tiga kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu. Dengan tren tersebut, impor feed wheat sepanjang 2026 diperkirakan mencapai sekitar 800 ribu ton yang dapat menggantikan sekitar 8,7% kebutuhan jagung atau sekitar 3,9% dari total formulasi pakan.
Sementara itu, impor soybean meal juga menunjukkan tren positif. Volume impor selama lima bulan pertama 2026 mencapai sekitar 2,9 juta ton atau sekitar 17% lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu. Harga impor juga masih berada di kisaran US$378 per ton, didukung biaya CIF yang lebih rendah serta peningkatan pasokan dari Argentina.
Meski demikian, BRI Danareksa memperkirakan tekanan terhadap margin pakan masih berlanjut pada semester II-2026. Berdasarkan estimasi, biaya CIF sepanjang tahun berjalan masih sekitar 30% lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu. Namun, margin perdagangan dari importir dinilai berpotensi meningkatkan tekanan terhadap margin produsen pakan.
Baca Juga
Di antara emiten unggas, PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN) diperkirakan menjadi perusahaan yang paling terdampak kenaikan biaya pakan karena porsi bahan baku mencapai sekitar 67% dari pendapatan bruto, lebih tinggi dibanding PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) yang berada di kisaran 40-41%.
Meski menghadapi tekanan biaya, BRI Danareksa tetap memperkirakan kinerja keuangan sektor unggas masih bertumbuh. Perusahaan sekuritas tersebut mengestimasi laba bersih agregat emiten unggas dalam cakupannya mencapai sekitar Rp1,6 triliun pada kuartal II-2026, turun 65% dibanding kuartal sebelumnya, namun masih meningkat 77% secara tahunan.
Prospek sektor juga didukung oleh indikasi pemulihan harga live bird. BRI Danareksa memperkirakan harga mulai bangkit secara bertahap setelah menyentuh titik terendah sekitar Rp13.300 per kilogram dalam beberapa pekan terakhir, seiring normalisasi permintaan.
Baca Juga
Wall Street Menguat Didorong Saham Chip dan Turunnya Harga Minyak
Dari sisi valuasi, sektor unggas saat ini diperdagangkan pada EV/EBITDA sekitar 3,8 kali, atau sekitar 1,5 standar deviasi di bawah rata-rata lima tahun. Valuasi tersebut dinilai telah mencerminkan lemahnya harga live bird serta tingginya biaya pakan saat ini. BRI Danareksa tetap menjadikan CPIN sebagai pilihan utama karena dinilai memiliki posisi yang lebih menarik dibanding emiten sejenis.
Untuk rekomendasi saham, BRI Danareksa mempertahankan peringkat beli untuk tiga emiten unggas, yakni CPIN dengan target harga Rp 5.900 per saham, JPFA dengan target harga Rp 3.300, serta MAIN dengan target harga Rp 1.700 per saham.
