Nasib Indonesia di MSCI November Dipertaruhkan, Freeze Bakal Dicabut?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Morgan Stanley Capital International (MSCI) diperkirakan tetap mempertahankan status pembekuan (freeze) terhadap pasar saham Indonesia dalam agenda review indeks pada November 2026. Keputusan tersebut dinilai berkaitan dengan sejumlah persoalan pada saham-saham besar Indonesia yang sebelumnya masuk dalam indeks MSCI.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menilai bahwa MSCI masih memiliki alasan untuk berhati-hati sebelum mencabut status freeze terhadap Indonesia. “Perkiraan kami, MSCI mempertahankan status freeze untuk Indonesia pada review November ini. Alasannya sederhan dan sangat manusiawi kalau dilihat dari sisi bisnis, MSCI sudah dua kali kena batunya gara-gara saham besar kita,” kata Liza kepada media dalam pernyataannya, Selasa, (6/10/2026).
Baca Juga
Harga Saham Boleh Rp 1, Bos BEI Optimistis MSCI-FTSE Beri Respons Positif
Menurut dia, salah satu persoalan sebelumnya berkaitan dengan saham publik atau free float PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA). Kedua saham tersebut memiliki kapitalisasi pasar besar, sehingga secara teori mampu untuk menampung investasi asing dalam jumlah besar. “Namun, free float yang benar-benar dapat dibeli investor tidak sebesar yang tercatat. “Ternyata free float yang benar-benar bisa dibeli investor tidak sebesar yang tercatat,” katanya.
Sebagaimana diberitakan Investortrust.id pada April 2026, saham BREN dan DSSA dikeluarkan dari perhitungan sejumlah indeks saham di dalam maupun luar negeri seiring tingginya konsentrasi kepemilikan atau High Shareholding Concentration (HSC). Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) saat itu, DSSA yang dikendalikan Sinar Mas memiliki HSC mencapai 95,76%. Sementara itu, BREN yang dikendalikan Prajogo Pangestu memiliki HSC sebesar 97,31%.
GOTO Jadi Persoalan Lain
Selain persoalan free float BREN dan DSSA, MSCI menghadapi persoalan pada PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Berbeda dengan BREN dan DSSA, Liza menilai free float GOTO tidak menjadi masalah karena berada di atas 70%. “Dugaan kami, banyak investor institusi yang nyangkut di saham ini dan kesalnya bukan main,” tegas Liza.
Sebagaimana diketahui, dalam pengumuman yang dirilis pada Kamis (13/8/2026) waktu Indonesia, MSCI tidak menambahkan saham baru ke dalam MSCI Global Standard Indexes untuk Indonesia.
Baca Juga
Dalam August 2026 Index Review, MSCI juga memutuskan mengeluarkan dua saham Indonesia, yakni PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), dari MSCI Global Standard Indexes.
Menurut Liza, kondisi tersebut membuat MSCI perlu mempertimbangkan kembali pencabutan status freeze Indonesia. Sebab, pencabutan freeze akan membuat MSCI kembali menentukan saham yang masuk maupun keluar dari indeks.
Baca Juga
Susul Danantara, Energi Mega (ENRG) Investasi US$ 200 Juta di Perusahaan Migas AS
“Cabut freeze artinya MSCI mempertaruhkan lagi kredibilitas penilaiannya sendiri, dan itu bakal langsung kelihatan di daftar addition atau deletion yang baru. Di posisi seperti itu, menunggu jelas pilihan yang paling masuk akal,” katanya.
Dia menegaskan, kondisi tersebut bukan berarti Indonesia sedang mendapatkan hukuman dari MSCI. Namun, kepercayaan investor perlu kembali dibangun melalui bukti. “Buat kami ini bukan soal Indonesia sedang dihukum. Kepercayaan itu harus dibangun lagi pakai bukti, tidak cukup pakai pengumuman,” pungkasnya.
