IHSG Diprediksi Lajutkan Bearish Selama Adaptasi Minimum Saham Rp 1, Sebaliknya PTBA hingga AMRT Layak Dilirik
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (29/9/2026), diproyeksikan lanjutkan bearish dengan rentang pergerakan 6.1110-6.200. Tiga saham pilihan hari ini adalah PTBA, UVCR, dan AMRT.
BRI Danareksa Sekuritas dalam riset pagi ini menyebutkan bahwa pergerkan indeks tertuju pada fase adaptasi terhadap kebijakan BEI yang menurunkan batas harga minimum saham menjadi Rp1. Perubahan ini berpotensi meningkatkan volatilitas, khususnya pada saham berharga rendah, seiring penyesuaian rentang harga dan mekanisme auto rejection.
Laju IHSG juga dipengaruhi tekanan ekspektasi kebijakan The Fed yang hawkish, penguatan DXY di atas 101, serta kenaikan harga minyak akibat ketegangan AS–Iran yang memperbesar risiko inflasi global. Secara teknikal, IHSG berpotensi melanjutkan koreksi setelah menembus neckline pola Head and Shoulders di 6.375. MACD masih menunjukkan bearish momentum, dengan support terdekat di 6.110, diikuti 6.030.
Baca Juga
Industri Digital Kompak Minta Regulasi Payung untuk Perangi Penipuan Online
“Kami meperkirakan pergerakan indeks dalam resistance 6.185, kemudian area 6.230–6.270. Pergerakan selanjutnya akan mencermati kemampuan indeks bertahan di area support serta perkembangan volatilitas selama fase adaptasi kebijakan BEI,” tulisnya.
Terkait saham pilihan, BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan beli saham PTBA dengan target harga Rp 3.230-3.350, UVCR dengan target harga Rp 240-248, dan AMRT dengan target harga Rp 1.350-1.365.
Kemarin, IHSG ditutup anjlok sebanyak 94,03 poin (1,51%) menjadi 6.147 disertai dengan investor asing mencatatkan penjualan bersih (net sell) saham senilai Rp 1,13 triliun. Net sell terbanyak melanda saham UNSP senilai Rp 901,36 miliar didominasi melalui pasar negosiasi.
Baca Juga
DBS Perkirakan Defisit Indonesia Tetap di Bawah 3% PDB pada 2027
Penurunan kemarin dipicu atas pelemahan mayoritas sektor saham, seperti sektor teknologi 4,46%, material dasar melemah 3,33%, infrastruktur 2,33%, konsumer primer 2,04%, keuangan 1,19%, sektor property 1,60%, sektor konsumer non primer 0,98%, sektor kesehatan 0,66%, dan sektor industry 0,32%. Sebaliknya kenaikan tipis melanda saham sektor energi 0,04% dan transportasi 0,47%.
Penurunan juga dipicu kejatuhan sejumlah saham big cap, seperti GOTO anjlok 14% menjadi Rp 43, INCO anjlok 5,98%, MORA turun 5,01%, dan AMMN melemah 4,03%. Penurunan juga dipicu atas kejatuhan saham emiten Haji Isam, seperti TEBE, JARR, PACK, FAST, dan PGUN.
Sebaliknya saham berharga di bawah Rp 50 atau ‘gocap’ berhasil catatkan kenaikan harga paling pesat hari ini, yaitu saham TAMU naik 34,62%, BLTA naik 34,38% menjadi Rp 43, MIRA naik 33,33% menjadi Rp 32, VIVA naik 33,33% menjadi Rp 48, PPRO naik 33,33% menjadi Rp 20, PBRX naik 33,33% menjadi Rp 32, ANDI naik 31,82% menjadi Rp 29, BEKS naik 31,82% menjadi Rp 29, TAXI naik 27,27% menjadi Rp 18, dan BTEK naik 27,27% menjadi Rp 14..
