IHSG Masih Volatil, Kiwoom Sekuritas Bidik Level 7.000–7.200 hingga Akhir 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pasar saham Indonesia masih dibayangi ketidakpastian arah suku bunga global. Peluang kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) sebesar 25 basis poin (bps) kembali menjadi salah satu risiko yang dapat menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa bulan ke depan.
Kiwoom Sekuritas memperkirakan IHSG masih bergerak volatil dalam satu hingga tiga bulan ke depan, sementara aliran dana investor asing (foreign flow cenderung) diprediksi akan cenderung mixed to negative.
Tekanan terhadap pasar saham domestik berpotensi meningkat apabila The Fed kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 bps ke kisaran 4,00%–4,25%. Skenario ini dapat menjaga yield US Treasury 10 tahun (US10Y) di atas 5% dan mendorong penguatan dolar Amerika Serikat (AS), sehingga Rupiah berpotensi kembali tertekan.
Sebaliknya, apabila data inflasi dan pasar tenaga kerja AS menunjukkan perlambatan, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dapat menurun. Kondisi tersebut berpotensi memperbaiki aliran dana ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Baca Juga
IHSG Dibayangi Outflow Asing, Rupiah dan Yield SUN Jadi Alarm
“Fed hike 25 bps dan peluang kenaikan lanjutan masih menjadi tekanan untuk IHSG, terutama melalui US10Y, Rupiah dan foreign flow,” dikutip dari laporan Kiwoom Sekuritas, Jumat (18/9/2026).
Untuk kebijakan Bank Indonesia (BI), Kiwoom memperkirakan suku bunga acuan masih akan ditahan di level 5,75% dengan bias hawkish. Namun, apabila Rupiah menembus Rp 17.700 - Rp 18.000 per dolar AS, diikuti peningkatan outflow asing maka peluang kenaikan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 6% akan semakin terbuka.
“BI Rate yang ditahan dapat mendukung growth dan kredit, sementara hike (kenaikan BI Rate) membantu stabilisasi Rupiah dan carry SBN tetapi sekaligus menaikkan cost of capital,” tulis analis.
Memasuki akhir 2026, Kiwoom masih melihat IHSG akan bergerak volatil dengan kecenderungan arus dana asing tetap mixed-to-negative.
Sebelumnya, Kiwoom memiliki target IHSG 2026 di kisaran 7.250–7.700. Namun, dengan kondisi pasar saat ini, Kiwoom mengambil pendekatan yang lebih konservatif.
“Target kami 2026 sementara tetap 7.250–7.700, tetapi dengan kondisi sekarang saya lebih konservatif ke asal bisa tutup di kepala 7.000 up to 7.200,” jelas Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata.
Dia mengaku belum terburu-buru merevisi target resmi tersebut, selama kondisi Rupiah dan risiko sovereign masih terkendali.
