ETF Bitcoin Tertinggal dari Emas, JPMorgan Soroti Sikap Defensif Investor
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Analis JPMorgan menilai pemulihan exchange-traded fund (ETF) Bitcoin masih tertinggal dibandingkan ETF emas. Kondisi tersebut mencerminkan sikap investor yang lebih berhati-hati terhadap Bitcoin sebagai aset lindung nilai.
Analis JPMorgan yang dipimpin Nikolaos Panigirtzoglou mencatat, baik ETF Bitcoin maupun emas mengalami arus masuk dana baru setelah pertemuan Federal Reserve (The Fed) pada Juli 2026. Arus dana tersebut didorong investor yang mencari perlindungan dari potensi penurunan nilai mata uang.
Namun, melansir Cointurk, Jumat (18/9/2026) pemulihan arus dana ETF emas tercatat lebih kuat. ETF emas telah mengembalikan seluruh arus keluar yang terjadi sebelumnya sepanjang 2026, sedangkan ETF Bitcoin baru memulihkan sekitar separuh dari dana yang sebelumnya ditarik investor.
Perbedaan tersebut juga terlihat dari posisi short interest. JPMorgan mencatat short interest pada iShares Bitcoin Trust (IBIT) milik BlackRock masih mendekati level tertinggi sepanjang 2026. Sebaliknya, short interest pada SPDR Gold Shares (GLD) berada di bawah rata-rata historis.
Baca Juga
Kondisi serupa terlihat di pasar opsi. Rasio open interest put-to-call pada IBIT saat ini lebih tinggi dibandingkan GLD. Rasio tersebut menunjukkan penggunaan opsi put yang relatif lebih besar untuk melindungi portofolio dari potensi penurunan harga Bitcoin.
Meski demikian, JPMorgan menilai tingginya posisi defensif pada Bitcoin berpotensi menjadi faktor pendukung apabila sentimen investor membaik. Berkurangnya kebutuhan untuk melakukan lindung nilai terhadap penurunan harga dapat mendorong arus dana kembali ke ETF Bitcoin.
Sebelumnya, JPMorgan sempat mempertahankan pandangan positif terhadap pasar aset digital. Pada Februari 2026, analis bank tersebut memperkirakan biaya produksi Bitcoin sekitar US$77.000, turun dari sekitar US$90.000 pada awal tahun.
JPMorgan juga mempertahankan estimasi nilai jangka panjang Bitcoin sebesar US$266.000 yang disesuaikan dengan volatilitas, menggunakan posisi pasar emas sebagai salah satu pembanding.
Baca Juga
ETF Bitcoin Spot AS Cetak Periode Inflow Terkuat Sepanjang 2026
Namun, bank tersebut juga menyoroti tekanan terhadap profitabilitas penambang Bitcoin. JPMorgan mencatat Bitcoin berada di bawah estimasi biaya produksinya selama lima bulan berturut-turut pada 2026.
Selain faktor pasar, ketidakpastian regulasi juga menjadi perhatian. JPMorgan menyoroti semakin sempitnya tenggat waktu pembahasan Clarity Act dan menilai ketidakjelasan regulasi dapat menambah ketidakpastian bagi investor institusional di pasar Bitcoin.
