Mirae Asset: 10 Emiten Ini Berpotensi Garap Infrastruktur Data Center US$ 13 Miliar
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Bisnis pusat data (data center) Indonesia diproyeksikan terus berkembang, seiring lonjakan kebutuhan komputasi berbasis artificial intelligence (AI).
Mirae Asset Sekuritas Indonesia memperkirakan, pembangunan infrastruktur data center di Indonesia berpotensi mencapai US$ 13 miliar atau Rp 227 triliun (kurs Rp 17.536). Sejumlah emiten pun dinilai memiliki eksposur terhadap peluang tersebut, baik sebagai operator maupun penyedia infrastruktur pendukung.
Dalam riset bertajuk ‘Indonesia’s Data Center Cost Edge Meets a Power Bottleneck’, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Daniel Widjaja menyebut, terdapat 10 emiten yang menjadi proksi pembangunan infrastruktur data center di Indonesia.
Kelompok dimaksud, meliputi PT DCI Indonesia Tbk (DCII), PT Indointernet Tbk (EDGE), PT Indosat Tbk (ISAT), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS), PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL), PT Cikarang Listrindo Tbk (POWR), PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA), serta PT Ketrosden Triasmitra (KETR).
Mirae Asset membagi eksposur tersebut antara operator data center dan pemasok infrastruktur. DCII, EDGE, ISAT, TLKM, dan DSSA menawarkan eksposur secara langsung melalui bisnis operator data center.
Sementara itu, DMAS, TOTL, POWR, KETR, dan MORA dikelompokkan sebagai emiten yang memiliki eksposur melalui penyediaan infrastruktur, yang dibutuhkan untuk pembangunan maupun pengoperasian pusat data.
Mirae Asset dalam risetnya menyatakan lebih memilih pemasok infrastruktur sebagai pilihan eksposur langsung terhadap tema pembangunan data center. Hal ini antara lain lantaran tingkat kekosongan data center di Jakarta masih mencapai 20,4%, sehingga monetisasi dari pembangunan dan pengoperasian infrastruktur dinilai menjadi faktor penting.
“Kami lebih menyukai pemasok infrastruktur sebagai pilihan investasi langsung kami. Tingkat kekosongan di Jakarta sebesar 20,4% memperkuat preferensi kami untuk memonetisasi konstruksi dan pengoperasian daripada menunggu penyewa,” tulis Daniel dalam laporan yang dipublikasi pada Kamis (17/9/2026).
Dia merinci, DMAS menawarkan lahan yang didukung oleh daya listrik terjamin sebesar 993 megavolt-amperes (MVA), sementara TOTL memiliki sekitar 39% proyek di pusat data. Selanjutnya POWR berpotensi menangkap permintaan listrik berulang dari industri data center, sedangkan KETR dan MORA disebut menyediakan konektivitas ‘Rising-8’ dengan desain kapasitas hingga 400 terabit per detik (Tbps).
Mirae Asset pun mempertahankan rating netral terhadap sektor data center Indonesia dalam jangka menengah, namun positif dalam jangka panjang.
AI Jadi Penggerak
Pertumbuhan industri data center tidak terlepas dari meningkatnya kebutuhan komputasi AI. Mirae Asset memperkirakan kebutuhan daya data center secara global akan mencapai sekitar 945 terawatt-hour (TWh) dan kapasitasnya menembus lebih dari 200 gigawatt (GW) pada 2030.
Belanja modal atau (capital expenditure/capex) hyperscaler juga diperkirakan mencapai US$ 1,25 triliun pada 2027, dengan dukungan sekitar US$ 2,5 triliun dalam pesanan layanan cloud.
Beban kerja AI diperkirakan mengambil porsi sekitar 65% dari komputasi data center pada 2027 dan meningkat menjadi sekitar 71% pada 2030. Beban kerja AI untuk inference juga diperkirakan melampaui training.
Mirae mencatat, kapasitas data center di kawasan Asia Pasifik (APAC) yang telah beroperasi mencapai 15,1 GW, dengan 4,8 GW dalam pembangunan dan 21,7 GW dalam tahap perencanaan. Dengan demikian, kapasitas pembangunan dan perencanaan mencapai setara 1,7 kali kapasitas terpasang.
Menurut Daniel, keterbatasan pasokan juga terlihat di sejumlah hub data center regional. Tingkat kekosongan di Johor ada sekitar 0,7%, sementara kapasitas pembangunan baru di Singapura terbatas sekitar 25 MW.
“Johor memimpin limpahan, sementara peningkatan konektivitas dan insentif pajak memperkuat daya tarik Batam sebagai pusat alternatif,” sambungnya.
Keunggulan Biaya Indonesia
Mirae Asset menggarisbawahi, Indonesia memiliki keunggulan dari sisi biaya pembangunan data center dibandingkan Malaysia.
Daniel memperkirakan, biaya konstruksi data center di Indonesia sekitar US$ 8,9 juta per megawatt (MW), lebih rendah dibandingkan Malaysia senilai US$ 9,9 juta per MW. Biaya listrik Indonesia juga disebut lebih rendah, yakni sekitar US$ cent 6,3 per kWh, dibandingkan Malaysia sebesar US$ cent 10,6 per kWh.
Keunggulan biaya tersebut mendukung imbal hasil atas biaya sekitar 10%-11%.
Sementara di Indonesia, Jakarta masih menjadi pusat kolokasi dengan kapasitas data center diproyeksikan mencapai 455 MW pada 2026, atau tumbuh 41,2% secara tahunan (yoy) dan berpotensi melampaui 2 GW pada 2030.
Baca Juga
Jaringan Boy Thohir Masuk MGLV, Data Center dan AI Menjadi Mesin Pertumbuhan Baru
“Sementara Batam diarahkan untuk menggarap pasar hyperscale regional. Selain harga lahan yang lebih murah, Batam memiliki latensi kurang dari 2 milidetik ke Singapura,” imbuh Daniel.
Dalam skenario data center berkapasitas 100 MW, Mirae Asset memperkirakan internal rate of return (IRR) kolokasi di Jakarta mencapai 16,3%, dibandingkan Kuala Lumpur sebesar 16,2%, dengan asumsi tarif sewa US$ 200 per kilowatt per bulan.
Untuk segmen hyperscale dengan asumsi sewa US$ 150 per kilowatt per bulan, IRR Batam diperkirakan mencapai 15,1%, sedangkan Johor 13,4%.
“Keunggulan biaya Indonesia mendukung pengembalian yang menarik, tetapi ketersediaan dan konektivitas jaringan menentukan penyerapan permintaan,” simpul Daniel.
Listrik Jadi Tantangan
Di tengah prospek pertumbuhan tersebut, Mirae Asset menilai ketersediaan listrik masih menjadi salah satu hambatan utama pengembangan data center Indonesia.
Waktu tunggu untuk mengoperasikan data center berkapasitas 100 MW di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 36 bulan, jauh lebih lama dibandingkan Malaysia yang sekitar 12 bulan.
“Pengiriman yang lebih cepat membuat Johor (Malaysia) tetap unggul meskipun biayanya lebih tinggi,” imbuh Daniel.
Dia menambahkan, Malaysia memiliki data center dengan kapasitas lebih dari 1.300 MW yang beroperasi dan 3.252 MW dalam tahap perencanaan. Sementara Indonesia baru memiliki kapasitas terpasang data center 394 MW dan 1.221 MW dalam perencanaan.
Meski Indonesia memiliki surplus pembangkitan sekitar 41 TWh dan tarif listrik yang relatif rendah, namun Daniel mengingatkan bahwa keandalan jaringan serta waktu koneksi di Tanah Air lebih panjang.
Pasalnya sambungan PLN dari Jawa ke Sumatera diperkirakan baru beroperasi pada 2031. Adapun energi surya dan penyimpanan baterai di belakang meteran dapat menjadi alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada jaringan, meski adopsinya masih terbatas.
Padahal perkembangan konektivitas Batam berlangsung lebih cepat. Investasi yang telah dikomitmenkan Google, Meta, dan Microsoft diperkirakan meningkatkan total kapasitas kabel bawah laut Batam menjadi lebih dari 1.750 terabit per detik (Tbps) pada 2029 atau meningkat 407,8%.
“Penyerapan penyewa di Jakarta tertinggal dari pasokan baru, sementara Batam tetap menjadi peluang pertumbuhan utama kami. Tetapi memang membutuhkan waktu untuk menutup kesenjangan infrastruktur,” sambung Daniel.
Menurut dia, komitmen investasi mendukung pertumbuhan industri ke depan, sementara kecepatan pengiriman jaringan dan konversi penyewa akan menentukan kapan investasi tersebut menciptakan imbal hasil.
