Standard Chartered Proyeksi Harga Token Arbitrum Bisa Capai US$ 10 pada 2030, Ini Alasannya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Standard Chartered memperkirakan harga token Arbitrum (ARB) berpotensi mencapai US$10 pada 2030, didukung pertumbuhan tokenisasi aset dan model pembagian pendapatan jaringan layer-2 tersebut.
Analis Standard Chartered Geoff Kendrick menilai Arbitrum berpotensi menjadi salah satu jaringan yang diuntungkan dari meningkatnya penggunaan aset on-chain dan aset dunia nyata yang ditokenisasi (real world assets/RWA).
Dalam catatan yang dikutip Cointelegraph, Kendrick menyoroti model pendapatan Arbitrum yang memberikan 10% dari pendapatan bersih protokol kepada jaringan tersebut dari perusahaan yang membangun aplikasi di atasnya.
Kehadiran Robinhood Chain disebut menjadi salah satu pendorong peningkatan pendapatan Arbitrum. Jaringan layer-2 yang dikembangkan Robinhood tersebut diluncurkan pada Juli dan ditujukan untuk mendukung penggunaan aset yang ditokenisasi.
Menurut proyeksi Standard Chartered dilansir dari Coinmarketcap, Rabu (16/9/2026), pendapatan Arbitrum dapat mencapai US$5 juta pada September, atau lebih dari lima kali lipat dibandingkan tingkat pendapatan sebelum Robinhood Chain diluncurkan.
Baca Juga
Clarity Act Gagal di Senat AS, Regulasi Kripto Era Trump Terancam Mandek
Kendrick menilai peningkatan pendapatan tersebut menunjukkan potensi hubungan yang lebih kuat antara pertumbuhan aktivitas perusahaan di jaringan Arbitrum dan ekonomi token ARB.
Standard Chartered memperkirakan harga ARB dapat mencapai US$10 pada 2030. Target tersebut bergantung pada pertumbuhan tokenisasi aset serta kemampuan Arbitrum mempertahankan posisinya di tengah persaingan jaringan layer-1 dan layer-2 lainnya.
Namun, proyeksi tersebut menghadapi sejumlah risiko. Standard Chartered mengidentifikasi pertumbuhan tokenisasi aset yang lebih lambat dari perkiraan dan meningkatnya persaingan dari jaringan blockchain alternatif sebagai faktor yang dapat menghambat pertumbuhan Arbitrum.
Pertumbuhan RWA menjadi salah satu faktor penting dalam proyeksi tersebut. Data RWA.xyz menunjukkan nilai aset dunia nyata yang ditokenisasi telah mendekati US$39 miliar.
Standard Chartered sebelumnya memperkirakan nilai aset yang ditokenisasi dapat mencapai US$4 triliun pada akhir 2028, seiring meningkatnya penggunaan teknologi blockchain oleh bank dan manajer aset.
Baca Juga
Ethereum dan Solana Masuk Indeks Baru S&P, Tapi Tidak dengan Bitcoin dan XRP. Ada Apa?
Jika tren tersebut berlanjut, Arbitrum berpotensi memperoleh manfaat dari semakin banyaknya perusahaan yang membangun infrastruktur on chain di atas jaringannya serta menghasilkan pendapatan protokol dari aktivitas tersebut.
Sementara itu melansir Pluang, Arbitrum adalah solusi scaling Ethereum layer-2. Arbitrum menggunakan rollup optimis untuk mencapai tujuannya meningkatkan kecepatan, skalabilitas, dan efisiensi biaya pada Ethereum. Arbitrum mendapat manfaat dari keamanan dan kompatibilitas Ethereum. Manfaat lainnya adalah throughput yang lebih tinggi dan biaya yang lebih rendah dibandingkan dengan Ethereum. Hal ini dimungkinkan berkat pemindahan sebagian besar komputasi dan beban penyimpanan secara off chain.
Token native Arbitrum disebut ARB dan digunakan untuk tata kelola. Offchain Labs, pengembang di belakang Arbitrum, mengumumkan peralihan ke struktur organisasi otonom terdesentralisasi (DAO) Arbitrum DAO. Pemegang ARB dapat memberikan suara pada proposal yang memengaruhi fitur, peningkatan protokol, alokasi dana, dan pemilihan dewan keamanan.
