Unsuspensi Saham Guna Timur (TRUK), Manajemen Ungkap Penjajakan Pengembangan Bisnis
JAKARTA, investortrust.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali membuka perdagangan (ususpensi) saham PT Guna Timur Raya Tbk (TRUK) di pasar regular dan tunai mulai sesi I, Rabu (16/9/2026). Adapun manajemen TRUK melalui pengumuman resmi sebelumnya menyebutkan tengah menjajaki peluang pengembangan bisnis.
BEI melalui pengumuman resminya menyebutkan bahwa berdasarkan penilaian otoritas bursa diputuskan pembukaan penghentian sementara saham TRUK mulai sesi I di papan pemantauan khusus (PPK) dengan mekanisme perdagangan full call auction (FCA).
Baca Juga
Dua Katalis Positif Adaro Andalan (AADI), Harga Sahamnya Bakal Kembali Cetak ATH?
Sebagaimana diketahui transaksi saham TRUK telah terkena suspense sejak 12 Agustus 2026 dipicu atas lompatan harga. Dalam sebulan terakhir atau sebelum disuspensi, saham TRUK telah melambung lebih dari 99% menjadi Rp 1.075.
Terkait lompatan harga saham, manajemen TRUK melalui penjelasan resminya di BEI pekan lalu mengungkap bahwa erseroan memastikan tidak terdapat perolehan kontrak atau sumber pendapatan baru yang signifikan maupun transaksi material yang belum diungkapkan. Perseroan juga menyatakan tidak mengetahui adanya informasi atau fakta material khusus yang belum disampaikan kepada publik dan dapat secara langsung dikaitkan dengan kenaikan harga saham.
Dalam kegiatan usahanya, manajemen TRUK menyebutkan tetap menjalankan bisnis di bidang transportasi dan logistik. Fokus kegiatan usaha diarahkan pada pengembangan dan optimalisasi armada serta peningkatan utilisasi aset perseroan.
Baca Juga
Transaksi Saham Guna Timur (TRUK) Kembali Dibuka, Bakal Lanjutkan Kenaikan?
TRUK juga tengah menjajaki sejumlah peluang pengembangan kegiatan usaha. Namun, peluang tersebut masih berada pada tahap feasibility study dan evaluasi internal. Kajian tersebut mencakup aspek teknis, komersial, operasional, dan keekonomian.
Sedangkan dari sisi prospek, manajemen TRUK menyebutkan, industri transportasi serta logistik di Indonesia secara umum masih menunjukkan prospek yang cukup positif. Hal ini didukung pertumbuhan aktivitas ekonomi, perdagangan, investasi, pembangunan infrastruktur, serta kebutuhan distribusi barang dinilai menjadi faktor yang dapat mendukung peningkatan permintaan terhadap jasa transportasi dan logistik.
