Suahasil Jadi Menkeu, IHSG Berbalik dari Anjlok 2,5% Jadi Turun Tipis 0,10%
JAKARTA, investortrust.id – Pengangkatan Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa mendapat respons awal yang cenderung positif dari pasar.
Berdasarkan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (14/9/2026), akhirnya ditutup hanya turun tipis sebanyak 6,69 poin (0,10%) menjadi 6.534 dengan nilai transaksi Rp 17,04 triliun. Hal ini berbanding terbalik dengan awal sesi II dengan penurunan lebih dari 165 poin atau 2,5%.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M. Nafan Aji Gusta mengatakan, Suahasil bukan merupakan figur yang sepenuhnya asing bagi pelaku pasar. Sebelum diangkat menjadi menteri keuangan, Suahasil menjabat sebagai wakil menteri keuangan. “Respons awal pasar cenderung positif-terukur, bukan euforia,” ujar Nafan melalui pesan singkat, Senin (14/9/2026).
Baca Juga
Purbaya Kena Reshuffle, Prabowo Lantik Suahasil sebagai Menkeu
Menurut dia, latar belakang Suahasil sebagai wakil menteri keuangan membuat kontinuitas kebijakan fiskal relatif lebih mudah dibaca oleh pelaku pasar. Selanjutnya, investor diperkirakan akan mencermati apakah pergantian tersebut dapat memberikan kepastian, konsistensi, dan kredibilitas kebijakan fiskal.
Sejumlah aspek yang menjadi perhatian pasar meliputi pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), defisit, penerimaan negara, belanja pemerintah, hingga koordinasi kebijakan fiskal dan moneter.
Meski pergantian menteri keuangan dapat menjadi katalis domestik bagi pasar saham, namun Nafan menegaskan bahwa penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjelang penutupan perdagangan tidak semata-mata dapat dikaitkan dengan pelantikan sore ini.
Dia meyakini, sentimen geopolitik dan pergerakan harga minyak masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi pasar. Pada saat yang bersamaan, Nafan juga memungkiri bahwa pergantian menteri keuangan dapat menjadi katalis domestik penyeimbang sentimen negatif dari pasar global.
“Bahkan apabila pasar menilai kabinet baru mampu memperkuat koordinasi ekonomi dan menjaga disiplin fiskal sekaligus mempercepat stimulus yang produktif, hal tersebut berpotensi menjadi katalis positif lanjutan bagi IHSG,” sambungnya.
Nafan kemudian mengingatkan bahwa harapan pasar terhadap perubahan kabinet pada dasarnya bukan sekadar pergantian figur, melainkan adanya peningkatan efektivitas kebijakan ekonomi.
Pasalnya, investor membutuhkan kepastian arah kebijakan fiskal, percepatan realisasi belanja pemerintah, peningkatan kualitas pertumbuhan ekonomi, stabilitas rupiah, serta kebijakan yang mampu menjaga daya beli dan iklim investasi.
“Dengan demikian, apabila setelah pergantian menteri keuangan muncul kebijakan yang market-friendly, kredibel, dan konsisten, sentimen positif di pasar berpotensi semakin terbentuk,” tandasnya.
Risiko Global
Dalam jangka pendek, Nafan memperkirakan volatilitas IHSG masih tinggi karena risiko Timur Tengah dan harga minyak yang belum mereda. Dia merinci bahwa pergerakan IHSG hingga menjelang penutupan perdagangan masih menunjukkan tekanan jual yang dominan.
Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali mendorong harga minyak Brent menembus sekitar US$ 107 per barel. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global dan potensi kebijakan moneter yang lebih ketat atau higher for longer sehingga memicu aksi risk-off di pasar negara berkembang.
Baca Juga
Purbaya Kena Reshuffle, Prabowo Lantik Suahasil sebagai Menkeu
Meski demikian, kemampuan IHSG memangkas pelemahan yang cukup signifikan menunjukkan bahwa pelaku pasar domestik tidak sepenuhnya melakukan panic selling. “Menurut saya, terdapat indikasi buy on weakness dan bargain hunting, khususnya pada saham-saham berkapitalisasi besar yang sebelumnya telah mengalami tekanan cukup dalam,” imbuh dia.
Pelaku pasar juga dinilai mulai melakukan pricing-in terhadap berbagai risiko eksternal. Alhasil ketika tekanan jual mulai mereda, indeks relatif cepat mengalami rebound. “Ini sejalan dengan pergerakan pada pekan lalu ketika IHSG telah terkoreksi 1,43% akibat eskalasi konflik AS-Iran dan kenaikan harga minyak,” pungkasnya.
