IHSG Jatuh 1,70% di Sesi I, Sentimen The Fed Jadi Biang Kerok
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sesi I jatuh 1,70% menjadi 6.429 dipengaruhi oleh sentimen negatif dari pasar global. Penurunan tersebut juga dipicu berlanjutnya aksi jual (net sell) saham oleh pemodal asing.
Indeks telah melemah sejak pembukaan perdagangan hari ini yaitu pada level 6.533,868. IHSG sempat menyentuh titik tertingginya di 6.543,277 pada awal sesi, sebelum akhirnya terus tertekan hingga menyentuh level terendah harian di 6.420
Pelemahan itu didominasi oleh pergerakan saham yang negatif. Tercatat 452 saham mengalami penurunan harga, berbanding terbalik dengan hanya 189 saham yang menguat, sementara 140 saham lainnya stagnan.
Baca Juga
IHSG Sesi I Anjlok 1,70% Dipicu Kejatuhan Seluruh Sektor Saham, Sebaliknya SEMA dan LAPD Melesat
Hampir seluruh saham big cap jatuh, seperti BYAN jatuh 11,13%, EMAS anjlok 12,29%, BREN jatuh 5,56%, TPIA melemah 3,19%, MDKA anjlok 6,23%. Penurunan juga melanda saham CBDK, PANI, INCO, ANTM, hingga RATU.
“Market menghadapi headwinds dari gejolak di pasar obligasi, akselerasi inflasi, serta kekhawatiran geopolitik yang memicu ketidakpastian ekonomi,” jelas Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, melalui pesan singkat pada Senin (14/9/2026) mengatakan, tekanan utama datang dari rilis data Indeks harga konsumen (CPI) Amerika Serikat per Agustus. Inflasi headline AS tercatat naik 0,4% secara bulanan (Month-on-Month/MoM), sementara inflasi inti (core CPI) naik 0,3%, lebih tinggi dari konsensus pasar.
“Kondisi ini membuat probabilitas kenaikan suku bunga acuan The Fed (Fed Funds Rate) sebesar 25 basis poin melonjak tajam menjadi 86,5% dari sebelumnya hanya 69%,” tambahnya.
Ekspektasi kebijakan moneter The Fed yang kembali hawkish ini langsung memicu aksi jual (sell-off) di pasar obligasi US Treasury. Akibatnya, imbal hasil (yield) obligasi AS bertenor 10 tahun melonjak hingga 4,975%, dan tenor 2 tahun naik ke level 4,644%.
Lonjakan yield tersebut membuat aset berisiko seperti saham di negara berkembang, termasuk Indonesia menjadi kurang menarik bagi investor global.
Harga Minyak dan Geopolitik
Selain isu suku bunga, pasar mencermati volatilitas di pasar komoditas energi. Harga minyak mentah Brent sempat turun 2,94% ke level US$ 104,47 per barel, dari sebelumnya mendekati US$ 110 per barel, dan WTI turun 2,43% ke level US$ 99,99 per barel.
Penurunan itu dipicu oleh laporan Financial Times mengenai rencana pertemuan diplomatik di Oman untuk membahas pemulihan jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz. Namun, Nafan mengingatkan adanya risiko geopolitik yang berpotensi membalikkan arah harga minyak menjadi bullish.
Baca Juga
Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini Turun ke Rp 2,602 Juta per Gram
“Terdapat peningkatan risiko terhadap jalur ekspor minyak Arab Saudi setelah pipa East-West Pipeline ditutup akibat serangan drone, disusul laporan ledakan di Yanbu sebagai salah satu hub energi strategis di pesisir Laut Merah,” jelasnya.
Meski dihantam sentimen negatif global bertubi-tubi, Nafan menilai fundamental ekonomi Indonesia masih cukup solid untuk menahan kejatuhan IHSG lebih dalam. Indikator makro ekonomi domestik seperti Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang tetap terjaga, serta stabilitas pasokan energi di dalam negeri menjadi bantalan pelindung bagi pasar modal.
“Selain itu, apresiasi nilai tukar Rupiah sebesar 0,21% menjadi Rp 17.641,5 per USD diharapkan dapat melonggarkan tekanan foreign outflow (aliran modal keluar) dan membuat para investor domestik tidak lagi bersikap terlalu defensif,” tutup Nafan.
