IHSG Anjlok 1,72%, Analis Beberkan Biang Keladinya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anljok pada perdagangan sesi I, Senin (14/9/2026), didorong sentimen global mulai dari koreksi bursa Asia, pelemahan rupiah, hingga kekhawatiran kenaikan suku bunga The Fed.
Mengacu data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG hingga pukul 11.45 WIB melemah 112,50 poin (1,72%) ke level 6.428,86. Nilai transaksi saham telah mencapai Rp7,73 triliun.
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan, pergerakan IHSG sejalan dengan mayoritas bursa Asia yang terkoreksi serta nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
“Kami perkirakan juga, dengan menguatnya kembali harga minyak dunia lebih dari US$ 100 per barel meningkatkan kekhawatiran akan pasokan energi global ke depannya, ditambah dengan meningkatnya ekspektasi akan Fed Funds Rate (FFR) yang naik ke 3.75-4.00,” kata Herditya kepada investortrust.id Senin, (14/9/2026).
Sependapat dengan Herditya, Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji menilai tekanan terhadap pasar saham juga datang dari sentimen global, terutama gejolak pasar obligasi, akselerasi inflasi, dan kekhawatiran geopolitik.
Baca Juga
IHSG Sesi I Anjlok 1,70% Dipicu Kejatuhan Seluruh Sektor Saham, Sebaliknya SEMA dan LAPD Melesat
Menurutnya, data US CPI Agustus menunjukkan kenaikan 0,4% secara bulanan untuk headline dan 0,3% untuk core. Core CPI yang lebih tinggi dari konsensus membuat probabilitas kenaikan Fed Funds Rate (FFR) 25 basis poin melonjak menjadi 86,5% dari sebelumnya 69%.
Ekspektasi kebijakan moneter yang lebih hawkish tersebut memicu aksi jual di pasar obligasi US Treasury. Kondisi ini mendorong yield US Treasury tenor 10 tahun naik hingga 4,975%, sedangkan tenor 2 tahun mencapai 4,644%.
Di sisi lain, harga minyak Brent turun 2,94% ke US$104,47 per barel setelah sebelumnya sempat mendekati US$110 per barel. Sementara itu, harga minyak WTI turun 2,43% menjadi US$99,99 per barel.
Namun, Nafan menyebut risiko geopolitik masih berpotensi menjadi sentimen positif bagi harga minyak. Salah satunya setelah pipa East-West Pipeline Arab Saudi ditutup akibat serangan drone, disusul laporan ledakan di Yanbu yang merupakan salah satu hub energi strategis di pesisir Laut Merah.
“Dari domestik, indikator makro ekonomi domestik seperti Indeks Kualitas Kebijakan (IKK) yang terjaga dan stabilitas pasokan energi domestik menjadi faktor cushion bagi IHSG,” ujar Nafan saat dihubungi investortrust.id
Dia menambahkan, apresiasi rupiah sebesar 0,21% menjadi 17.641,5 per dolar AS diharapkan dapat melonggarkan foreign inflow dan membuat investor domestik tidak terlalu defensif.
Senada, Pengamat Pasar Modal Elandry Pratama mengatakan tekanan IHSG terutama dipengaruhi meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed setelah data inflasi AS dan pasar tenaga kerja masih menunjukkan tekanan yang cukup kuat.
Baca Juga
IHSG Dibuka Turun Tipis, Saham FORU hingga PTSN Kembali Perkasa
“Penurunan IHSG hari ini memang terutama dipengaruhi meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, setelah data inflasi AS dan pasar tenaga kerja masih menunjukkan tekanan yang cukup kuat. Kondisi ini mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan US Treasury yield, sehingga risk appetite investor terhadap pasar emerging market menurun serta turut menekan rupiah,” kata Elandry.
Tekanan juga datang dari lonjakan harga minyak akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Harga Brent sempat menyentuh sekitar US$108,49 per barel dan WTI mencapai US$103,58 per barel pada perdagangan hari ini.
“Kenaikan harga energi tersebut memunculkan kekhawatiran inflasi global bertahan tinggi, sekaligus berpotensi menambah beban impor dan tekanan terhadap neraca perdagangan Indonesia,” ujarnya.
Dari dalam negeri, Elandry menyebut aksi profit taking pada sejumlah saham berkapitalisasi besar serta sikap wait and see investor menjelang keputusan FOMC turut memperbesar tekanan terhadap IHSG.
“Jadi, koreksi hari ini merupakan kombinasi sentimen global, tekanan nilai tukar, kenaikan harga minyak, dan penyesuaian posisi investor, bukan semata-mata karena satu faktor,” tandas Elandry.
