Saham Adaro Andalan (AADI) Lanjutkan Penguatan, Sejumlah Faktor Ini Jadi Sentimen Penopang
JAKARTA, investortrust.id – Kenaikan harga batu bara global ke level tertinggi baru dalam sebelas pekan terakhir, yakni US$145 per ton pada awal September, telah menjadi sentimen positif terhadap penguatan harga saham sejumlah emiten segmen tersebut. Tak terkecuali saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI).
Berdasarkan data Trading Economics, harga batu bara telah menembus level US$145 per ton pada awal September di tengah kuatnya permintaan energi global dan risiko pasokan yang masih berlanjut. Saat ini, batu bara masih menjadi sumber terbesar pembangkitan listrik dunia, dengan produksi hampir 11.000 TWh pada 2026.
Baca Juga
Sementara itu, berdasarkan catatan Bursa Efek Indonesia (BEI), saham AADI kembali menorehkan penguatan 0,89% menjadi Rp11.275 pada penutupan sesi I, Jumat (4/9/2026). Dengan demikian, saham AADI telah melambung lebih dari 23% dalam sebulan terakhir atau tercatat sebagai saham emiten batu bara dengan kenaikan harga tertinggi.
Stockbit Sekuritas dalam ulasan pasar terbarunya menyebutkan bahwa permintaan batu bara naik seiring aksi penimbunan oleh China bersamaan dengan gangguan pasokan dari Indonesia. Hal ini terjadi setelah disrupsi pasokan energi dari Timur Tengah di tengah fenomena El Nino.
Sekuritas tersebut menyebutkan faktor tersebut mendorong China melakukan aksi penimbunan (stockpiling) batu bara untuk mengantisipasi kenaikan permintaan listrik dan gangguan produksi dari pembangkit listrik tenaga air, seiring cuaca yang lebih kering selama musim panas.
Baca Juga
Divestasi Kestrel hingga Kenaikan Harga Batu Bara, Intip Target Harga Saham Adaro Andalan (AADI) Ini
Kondisi kering akibat El Nino juga memperparah gangguan pasokan batu bara dari Indonesia. Argus Media melaporkan bahwa penurunan permukaan Sungai Barito telah mengganggu transportasi batu bara di Kalimantan Tengah. Gangguan logistik ini terjadi di tengah keterlambatan persetujuan kuota produksi RKAB tambahan 2026 yang sebelumnya telah membatasi produksi sejumlah produsen sejak awal tahun ini.
Sementara itu, analis Mandiri Sekuritas Ariyanto Kurniawan dan Vanessa Taslim memberikan pandangan positif terhadap keberhasilan AADI meraup peningkatan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebanyak 10% menjadi US$473,8 juta pada semester I-2026.
Angka tersebut berada di atas proyeksi, terutama ditopang oleh kenaikan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP). “Kenaikan ASP menjadi faktor utama yang menopang kinerja laba AADI pada semester I-2026. ASP AADI meningkat 10% secara tahunan, bandingkan volume penjualan yang turun 1% yoy. Kinerja tersebut membawa laba bersih AADI berada di atas perkiraan Mandiri Sekuritas,” tulis riset tersebut. Keberhasilan tersebut mendorong Mandiri Sekuritas untuk menyematkan rekomendasi beli saham AADI dengan target harga Rp13.500 per saham.
