Harga CPO Tembus Level Tertinggi Setahun, Saham Emiten Sawit Layak Dikoleksi?
JAKARTA, investortrust.id – Harga minyak sawit mentah (CPO) dunia mendadak melesat ke level tertinggi dalam setahun terakhir dipicu kekhwatiran dampak El Nino berkepanjangan. Penguatan pesat tersebut juga didukung potensi penurunan produksi CPO dunia akibat faktor alam tersebut.
Berdasarkan data Trading Economics, harga CPO mendadak melesat sebanyak MYR 256 ke level tertinggi dalam setahun terakhir MYR 4.904, bahkan sempat sentuh di atas MYR 5000 dalam sehari terakhir. Kenaikan tersebut menjadikan total penguatan harga CPO dalam setahun terakhir telah mencapai 10%. Menariknya, kenaikan harga CPO kali ini masih tertinggal jauh dari lompatan harga soybeans yang sudah tembus 28,87% dalam setahun terakhir, sehingga ruang kenaikan harga dinilai terbuka lebar.
Baca Juga
DSI Buka Peluang Perluas Pengawasan Ekspor Komoditas Strategis di Luar Batu Bara dan CPO
Stocbit Sekuritas dalam pandangan pasarnya kemarin menyebutkan bahwa emiten perkebunan kelapa sawit akan mendapatkan sentimen positif seiring tren kenaikan CPO ini. Kondisi tersebut menjadi perhatian setelah produksi CPO Indonesia diproyeksikan turun sekitar 5% pada 2027 akibat dampak El Nino.
Berdasarkan proyeksi terbaru Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), produksi CPO Indonesia berpotensi mengalami penurunan sekitar 5% pada 2027 akibat dampak El Nino. Di Malaysia, produsen CPO juga mulai bersiap menghadapi potensi musim kemarau yang berkepanjangan. Direktur Malaysian Palm Oil Association Mohammad Jaaffar mengungkap bahwa belum terdapat gangguan yang dilaporkan hingga saat ini. Namun, gangguan terhadap produktivitas diprediksi mulai terlihat pada awal 2027, apabila kondisi memburuk dalam satu hingga dua bulan ke depan.
Tren kenaikan harga CPO dinilai menjadi sentimen positif bagi emiten-emiten sektor perkebunan kelapa sawit. Namun, dampaknya berpotensi tidak simetris dan akan bergantung pada lokasi operasional masing-masing perusahaan.
Baca Juga
Eagle High (BWPT) Kaji Dividen Interim, Kinerja 2026 Diproyeksi Tumbuh Double Digit
Stockbit Sekuritas menilai emiten CPO yang beroperasi di Sumatra menjadi pihak yang paling diuntungkan. Salah satunya adalah Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia (LSIP).
LSIP dinilai memiliki risiko penurunan volume dan/atau kenaikan beban logistik yang lebih kecil dibandingkan emiten lainnya. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang mendukung prospek emiten sawit, terutama apabila kenaikan harga CPO berlanjut di tengah potensi penurunan produksi akibat kondisi cuaca.
Selain berdampak terhadap emiten perkebunan kelapa sawit, kenaikan harga CPO juga berpotensi memberikan dukungan terhadap neraca perdagangan Indonesia. Pada akhirnya, kondisi tersebut juga berpotensi memberikan dukungan terhadap nilai tukar rupiah. Dengan demikian, kombinasi tren kenaikan harga CPO dan potensi penurunan produksi pada 2027 menjadi sentimen yang perlu diperhatikan investor dalam mencermati prospek saham sektor perkebunan kelapa sawit.
Terkait pergerakan harga saham emiten sawit di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam sebulan terakhir, tertinggi ditorehkan saham BWPT dengan kenaikan 40,22%, lalu TAPG sebanyak 32,39%, AALI mencapai 22,94%, SMSS mencapai 19,19%, DSNG sebanyak 18,05%, dan penguatan terendah dicatatkan MKTR dengan kenaikan di bawah 1%.
