Asing Borong BRI (BBRI) Rp 2,34 Triliun hingga Harga Saham Melesat, Target Rp 4.050 Menanti!
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) berhasil menjadi saham penyumbang pembelian bersih (net buy) terbesar oleh pemodal asing dalam sebulan terakhir. Lebih dari Rp 2,34 triliun saham BBRI diborong investor asing dalam sebulan terakhir dan menjadikannya sebagai saham yang paling diburu sepanjang bulan ini.
Tak hanya menjadi buruan pemodal asing, saham BBRI tercatat dengan kenaikan harga paling moncer sebanyak 13,04% menjadi Rp 3.380. Kenaikan harga BBRI tertinggi, dibandingkan tiga bank KBMI IV lainnya untuk periode sama, seperti BBNI kenaikan 10,26%, BBCA menguat 4,76%, dan BMRI naik sekitar 4,10%.
Baca Juga
Kinerja Himbara Semester I 2026: Laba BRI Tetap Tertinggi, Pertumbuhan BTN Melesat
Meski berhasil catatkan penguatan harga mengesankan dalam sebulan terakhir, potensi penguatan harga saham bank pelat merah dengan kapitalisasi pasar (market cap) terbesar tetap terbuka. MNC Sekuritas dalam riset terbarunya tetap mempertahankan rekomendasi beli saham BBRI dengan target harga Rp 4.050 per saham. Target tersebut mengimplikasikan valuasi PBV tahun ini sebesar 1,9 kali dan perkiraan 2027 sebesar 1,8 kali.
Analis MNC Sekuritas Victoria Venny mengatakan, rekomendasi beli dan target harga tersebut memperhitungkan kinerja keuangan BBRI kuartal II-2026 yang sudah sejalan dengan ekspektasi. Rekomendasi ini juga mempertimbangkan keberhasilan perseroan membukukan pertumbuhan kredit yang kuat dan pemulihan segmen mikro.
BBRI menorehkan laba bersih senilai Rp 15,4 triliun pada kuartal II-2026, turun 0,8% secara kuartalan, tetapi tumbuh 22% secara tahunan. Hal ini membuat laba bersih semester I-2026 mencapai Rp 30,9 triliun, tumbuh 17,5% YoY dan setara 52% dari estimasi MNCS serta 53% dari konsensus analis untuk tahun buku 2026.
MNC Sekuritas menyebutkan salah satu penopang utama kinerja BBRI adalah pertumbuhan kredit yang signifikan. Total kredit perseroan mencapai Rp 1.645,5 triliun pada kuartal II-2026, tumbuh 5,3% QoQ dan 16,2% YoY. Angka tersebut jauh di atas panduan awal manajemen untuk tahun ini berkisar 7-9%, terutama didorong oleh pertumbuhan kredit korporasi dan komersial yang kuat.
Pertumbuhan laba pesat ini juga ditopang dari sisi pendanaan, CASA tumbuh 10,1% YoY menjadi Rp 1.068,7 triliun dam total dana pihak ketiga (DPK) meningkat 6,7% YoY menjadi Rp1.580,7 triliun. Namun, pertumbuhan kredit yang lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pendanaan membuat rasio loan to deposit ratio (LDR) meningkat menjadi 104%, dari 100% pada semester I-2025.
Segmen Mikro
Dia menambahkan, katalis penting terutama berasal dari pemulihan bisnis mikro. Pertumbuhan ini diperkirakan beralnjut, seiring dengan perbaikan proses penyaluran kredit dan penagihan serta kualitas aset yang terus membaik. Kredit mikro BBRI mulai mencatat pertumbuhan positif sebesar 0,68% QoQ. Sementara itu, cost of credit (CoC) segmen mikro membaik menjadi 3,8% dan pembentukan kredit bermasalah terus menurun.
Perbaikan tersebut sejalan dengan membaiknya kualitas aset secara konsolidasi. Rasio gross NPL turun 14 basis poin YoY menjadi 2,9%, sedangkan loan at risk (LAR) turun 170 basis poin menjadi 9,1%. Kinerja BBRI juga ditopang pertumbuhan pre-provision operating profit (PPOP) yang mencapai 18,1% YoY dan 4,1% QoQ pada kuartal II-2026. Secara kumulatif, PPOP semester I-2026 mencapai Rp 65,7 triliun atau tumbuh 12,7% YoY.
Baca Juga
Hery Gunardi: Meski Jalankan Tugas Pemerintah, Laba Bersih BRI Semester I-2026 Melesat 17,5%
Perseroan juga akan terdorong sentiment positif terhadap penyelesaian kredit bermasalah dengan BUMN konstruksi. Eksposur BBRI terhadap sektor ini mencapai Rp 14,2 triliun yang tidak dijamin pemerintah. Paket restrukturisasi dengan nasabah melalui koordinasi bersama Danantara dan bank lainnya tengah digelar sekaligus meningkatkan pencadangan secara bertahap.
“Pertumbuhan PPOP, peningkatan efisiensi yang berkelanjutan, serta buffer permodalan yang solid akan menopang ketahanan laba BBRI meski terdapat tekanan terhadap NIM dalam jangka pendek,” tulisnya.
Terkait kinerja keuangan, MNC Sekuritasmemperkirakan laba bersih BBRI mencapai Rp 59,62 triliun, EPS Rp 393, dan ROAE 18,3% tahun ini. Laba tersebut diproyeksikan kembali bertumbuh menjadi Rp 64,68 triliun pada tahun depan dan semakin membesar menjadi Rp 71,91 triliun pada 2028.
