Saham Kencana Energi (KEEN) Dipatok Rp 1.300, Dua Penopang Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Prospek saham PT Kencana Energi Lestari Tbk (KEEN) dinilai masih menarik seiring keberhasilan perseroan mengamankan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Pakkat 2 berkapasitas 45 MW. Proyek tersebut menjadi proyek terbesar KEEN hingga saat ini dan dipandang sebagai katalis penting untuk pertumbuhan kapasitas serta kinerja perseroan dalam jangka menengah.
Hal ini mendorong analis MNC Sekuritas Christian Sitorus mempertahankan rekomendasi beli untuk saham KEEN dengan target harga Rp1.300 per saham, dibandingkan harga penutupan akhir pekan lalu Rp 880 per saham. Target tersebut ditopang oleh penghargaan proyek Pakkat 2 dari PLN, potensi commercial operation date (COD) Salu Noling, serta pipeline proyek energi terbarukan KEEN yang memiliki potensi pertumbuhan jangka menengah.
KEEN ditetapkan sebagai pemenang tender independent power producer (IPP) untuk proyek PLTA Pakkat 2 di Sumatera Utara dengan kapasitas 45 MW. Ketika beroperasi, proyek ini akan meningkatkan kapasitas terpasang KEEN dari 69 MW menjadi 114 MW atau tumbuh 65,2%. Pembangunan Pakkat 2 membutuhkan estimasi investasi US$116 juta atau sekitar US$2,6 juta per MW dengan masa konstruksi sekitar empat tahun. Proyek tersebut juga telah memiliki perjanjian jual beli listrik (PPA) jangka panjang dengan PLN, sehingga diharapkan memperkuat visibilitas pendapatan berulang setelah mencapai COD.
Baca Juga
Kencana Energi (KEEN) Teken PJBL dengan PLN, Pendapatan Bakal Terdongkrak
Namun, besarnya kebutuhan belanja modal juga meningkatkan kebutuhan pendanaan dan risiko eksekusi proyek. Kemampuan pembiayaan serta kelayakan proyek menjadi faktor penting yang akan menentukan kecepatan pipeline KEEN dikonversi menjadi kapasitas pembangkit yang beroperasi.
Pakkat 2 sekaligus menjadi bukti bahwa pipeline KEEN mulai dikonversi menjadi kapasitas yang telah diamankan. Perseroan sendiri tetap selektif dalam pengembangan proyek. Meskipun ditunjuk PLN sebagai mitra wajib untuk proyek PLTA Sulawesi 2 berkapasitas 95 MW, KEEN menunda pengembangannya karena pertimbangan keekonomian yang belum menguntungkan. KEEN juga memiliki batas kepemilikan 30% pada setiap proyek. Sementara itu, kemitraan strategis dengan TEPCO mendukung pelaksanaan teknis proyek.
Pipeline 830 MW
Prospek pertumbuhan KEEN juga didukung pipeline sekitar 830 MW yang seluruhnya terdiri atas pembangkit hidro, tenaga surya, dan biomassa. Pipeline tersebut dinilai sejalan dengan klasifikasi Green Equity yang diterapkan dalam pilot perdana IDX IGREEN. KEEN menjadi salah satu dari tiga saham yang masuk dalam pilot tersebut.
Klasifikasi IGREEN mengelompokkan emiten sebagai Green Equity apabila lebih dari 50% pendapatannya berasal dari aktivitas hijau atau Green Equity Transition. Penilaian tersebut mengacu pada Sustainable Finance Taxonomy OJK dan akan dievaluasi setiap tahun.
Masuknya KEEN dalam IGREEN berpotensi meningkatkan visibilitas perseroan di kalangan investor ESG serta menjadi referensi bagi green fund dan ETF. Kondisi tersebut juga berpotensi memperluas pilihan pendanaan melalui pembiayaan hijau dengan tingkat bunga preferensial.
Baca Juga
Bukan Sekadar Menara, Merger PST-UMT dan Spektrum Jadi Mesin Pertumbuhan Baru Mitratel (MTEL)
Dari sisi neraca, posisi KEEN dinilai masih memberikan ruang untuk mendanai pipeline. Debt to equity ratio (DER) tercatat 0,8 kali pada semester I-2026, sementara Fitch ESG Rating KEEN berada pada level 2 atau “Good”.
Potensi tambahan juga berasal dari landbank sekitar 150.000 hektare milik induk usaha, dengan sekitar 70.000 hektare masih tersedia untuk pengembangan tenaga surya. Salah satu peluang berada di Kalimantan Timur, di mana kawasan industri yang direncanakan menggunakan energi terbarukan dapat menjadi sumber permintaan jangka panjang apabila terealisasi.
Di tengah prospek pertumbuhan jangka menengah, kinerja keuangan KEEN pada semester I-2026 masih berada di bawah tekanan. KEEN membukukan laba bersih US$ 6,2 juta pada semester I-2026, turun 24,7% secara tahunan. Capaian tersebut setara dengan 48,2% dari proyeksi laba bersih tahun penuh 2026. Pendapatan juga turun 11,5% secara tahunan menjadi US$16,8 juta atau mencapai 48% dari proyeksi FY2026.
