Target Harga Saham Mayora (MYOR) Dipangkas Jadi Rp 2.500, Ini Alasan dan Prospeknya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Target harga saham PT Mayora Indah Tbk (MYOR) direvisi turun dari Rp 2.700 menjadi Rp 2.500, meski rekomendasi tetap dipertahankan beli. Revisi turun ini mengimplikasikan kinerja keuangan perseroan sepanjang semester I-2026 di bawah ekspektasi.
Revisi turun target harga tersebut juga mempertimbangkan pemangkasan asumsi pendapatan MYOR tahun 2026 dan 2027 masing-masing sebesar 2% dan 2,8%, karena penjualan semester I-2026 lebih lemah serta prospek harga jual rata-rata (ASP) yang lebih konservatif.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Sabela Nur Amalina dan Christy Halim menyebutkan bahwa estimasi laba tahun 2026/2027 direvisi masing-masing sebesar +1,4% dan -2,1%. Revisi tersebut turut mempertimbangkan kenaikan asumsi margin kotor seiring tren positif sejumlah biaya bahan baku utama.
Baca Juga
Denngan pemangkasan proyeksi kinerja keuangan, BRI Danareksa Sekuritas memilih untuk menurunkan target harga saham MYOR kini dari Rp 2.700 menjadi Rp 2.500 dengan menggunakan price to earnings (PE) rata-rata historis tiga tahun yang diturunkan menjadi 17,7 kali dari sebelumnya 18,5 kali.
BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan bahwa Mayora membukukan pertumbuhan penjualan semester I-2026 hanya 0,7% secara tahunan. Pertumbuhan yang terbatas tersebut dipengaruhi gangguan distribusi domestik pada kuartal I 2026. Sementara penjualan ekspor masih lesu di tengah tingginya biaya bahan bakar dan ketidakpastian geopolitik.
Perseroan mengungkap persoalan logistik domestik akibat pembatasan pengiriman truk pada 13-29 Maret 2026 telah sepenuhnya terselesaikan. Persediaan di distributor juga telah kembali terisi pada April 2026 setelah periode Idulfitri, sehingga mendukung pemulihan penjualan domestik pada kuartal II 2026. Sementara itu, penjualan ekspor masih relatif lemah.
Meski terjadi gangguan awal tahun, Mayora (MYOR) tetap mempertahankan panduan kinerja tahun ini dengan target pertumbuhan pendapatan sebesar 5-8% dan margin kotor 24-25%. Namun peluang peninjauan kembali terbuka setelah kinerja kuartal III-2026 terungkap.
Baca Juga
Rekening Aktivis Pati Diaktifkan Kembali, OJK Imbau Masyarakat Tetap Tenang
Hingga kini, perseroan belum melakukan kenaikan harga. Manajemen masih nyaman mempertahankan harga saat ini selama margin kotor dapat dijaga di atas 23%. Prospek margin juga mendapat dukungan dari tren penurunan sejumlah harga bahan baku utama pada semester I-2026. Harga kopi turun 21% secara tahunan, kakao turun 37%, gula turun 16%, dan minyak kelapa turun 20%.
Di tengah ekspor yang masih lemah, Mayora berupaya kembali mempercepat pertumbuhan bisnis internasional melalui inovasi produk dan perluasan portofolio di sejumlah pasar utama. Filipina menjadi salah satu pasar penting, khususnya untuk produk campuran kopi dan minuman instan. Mayora berencana meluncurkan 1-2 SKU baru serta memperluas inovasi produk pada awal 2027 untuk kembali meningkatkan minat konsumen dan memperkuat persepsi nilai produk di luar faktor harga.
Mayora (MYOR) juga melihat peluang pertumbuhan produk instan larut di Filipina dan pasar lainnya. Selain itu, produk biskuit dinilai memiliki peluang yang cukup besar mengingat skala pasar biskuit dan kopi di ASEAN yang relatif sebanding. Perseroan juga telah menurunkan jumlah hari persediaan ekspor di tengah ketidakpastian geopolitik untuk memberikan fleksibilitas lebih besar kepada distributor dalam mengelola arus kas.
