Bitcoin Dekati US$ 81.000, Apa Saja Pendorongnya?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Harga Bitcoin kembali menguat dan berupaya mendekati level US$ 81.000, seiring meningkatnya optimisme investor terhadap perkembangan kebijakan moneter dan regulasi aset kripto di Amerika Serikat (AS).
Mengutip data perdagangan Jumat (28/8/2026) dini hari waktu Asia, Bitcoin sempat menyentuh level tertinggi harian US$ 80.793 sebelum terkoreksi tipis. Bitcoin kemudian diperdagangkan di sekitar US$ 80.236 di New York.
Dalam 24 jam terakhir, Bitcoin menguat lebih dari 2%. Sementara dalam sepekan terakhir, aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar tersebut telah mencatat kenaikan sekitar 10%.
Penguatan Bitcoin terjadi menjelang Simposium Kebijakan Ekonomi Jackson Hole yang diselenggarakan Federal Reserve Bank of Kansas City. Pelaku pasar menantikan sinyal kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed), terutama terkait arah suku bunga.
Simposium Jackson Hole 2026 mengangkat tema “Inovasi Keuangan: Implikasi terhadap Pembayaran dan Kebijakan”. Agenda tersebut mempertemukan bankir sentral, pembuat kebijakan, dan akademisi untuk membahas perkembangan ekonomi dan keuangan global, termasuk inovasi pembayaran, mata uang kripto, dan stablecoin.
Ketua Federal Reserve yang baru ditunjuk, Kevin Warsh, dijadwalkan menyampaikan pidato pada Jumat. Pidato tersebut menjadi perhatian pasar karena merupakan pidato penting pertamanya sejak ditunjuk sebagai pimpinan bank sentral AS.
Warsh sebelumnya dikenal memiliki pandangan yang relatif terbuka terhadap Bitcoin. Namun, ia juga memberikan sinyal bahwa pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat belum tentu menjadi pilihan kebijakan.
Arah suku bunga The Fed menjadi salah satu faktor penting bagi pergerakan Bitcoin. Penurunan suku bunga secara historis cenderung meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko dan mengurangi biaya peluang untuk memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil, seperti Bitcoin.
Dari sisi regulasi, sentimen pasar turut mendapat dorongan dari perkembangan Crypto Clarity Act. Pemungutan suara terhadap rancangan undang-undang tersebut ditunda hingga September, tetapi Presiden AS Donald Trump sebelumnya mendorong Kongres untuk mempercepat pengesahannya.
RUU tersebut ditujukan untuk memberikan kejelasan mengenai klasifikasi aset digital di AS, termasuk membedakan aset yang masuk kategori sekuritas, komoditas, maupun stablecoin pembayaran.
Baca Juga
Bitcoin Masuk Fase 'Bull Market', tapi Masih Terganjal Level US$ 83.000
Selain faktor moneter dan regulasi, kebijakan fiskal AS juga menjadi perhatian pasar. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan rencana meningkatkan pembelian kembali obligasi pemerintah AS bertenor panjang.
Langkah tersebut berpotensi menekan imbal hasil obligasi. Kondisi itu dapat mengurangi biaya peluang kepemilikan aset yang tidak menghasilkan bunga dan mendorong sebagian investor meningkatkan eksposur terhadap aset berisiko.
Sejalan dengan penguatan harga, sentimen pasar Bitcoin juga meningkat. Indeks Bitcoin Fear & Greed berada di level 71 atau masuk kategori greed (keserakahan).
Level tersebut menunjukkan meningkatnya optimisme investor, meskipun pada saat yang sama dapat menjadi sinyal bahwa volatilitas Bitcoin berpotensi meningkat.
Bitcoin sebagai informasi, kembali menunjukkan momentum positif setelah bergerak di kisaran US$ 64.000 pada 17 Agustus, Bitcoin kemudian menembus US$ 80.000 pada 25 Agustus. Pergerakan ini didukung oleh perubahan sentimen makro global menyusul kebijakan Treasury buyback Amerika Serikat, serta meningkatnya arus dana ke Exchange Traded Fund (ETF) spot Bitcoin yang mencerminkan kembali menguatnya permintaan di pasar kripto.
Chief Marketing Officer INDODAX, Aloysia Dian, menilai kenaikan Bitcoin kali ini tidak hanya mencerminkan pergerakan harga jangka pendek, tetapi juga perubahan sentimen yang terlihat dari sejumlah indikator pasar.
“Momentum Bitcoin dalam beberapa hari terakhir menunjukkan perubahan sentimen yang cukup signifikan. Penguatan harga berjalan bersamaan dengan meningkatnya permintaan melalui ETF spot Bitcoin dan membaiknya kondisi pasar. Namun, kenaikan yang berlangsung cepat tetap perlu diimbangi dengan disiplin dalam mengelola risiko, terutama bagi investor yang baru kembali melihat peluang di pasar,” ujar Aloysia dikutip Jumat (28/8/2026).
Baca Juga
Sentimen Kripto Berbalik, ETF Bitcoin Catat Arus Masuk 6 Hari Beruntun
Salah satu faktor makro yang menjadi perhatian pasar adalah kebijakan Treasury buyback (pembelian kembali sebagian surat utang) Amerika Serikat. Kebijakan ini bagian dari upaya Treasury untuk menjaga likuiditas dan mendukung kelancaran perdagangan. Departemen Keuangan AS meningkatkan pembelian kembali obligasi pemerintah jangka panjang, yang sempat menekan yield dan mendorong kembali minat terhadap aset berisiko, termasuk kripto.
Dari sisi permintaan, ETF spot Bitcoin di Amerika Serikat kembali mencatat arus dana positif. Berdasarkan data SoSoValue, ETF Bitcoin spot mencatat net inflow dalam periode 17–25 Agustus 2026, dengan total arus dana mencapai sekitar US$2,57 miliar. Pada saat yang sama, Crypto Quant mencatat Bull Score Bitcoin meningkat dari 30 menjadi 80 dalam sepekan. Hal ini mencerminkan tingginya optimisme dan selera risiko pelaku pasar.
Setelah bergerak relatif terbatas pada awal Agustus, Bitcoin mulai mengalami akselerasi pada 19 Agustus dan naik lebih dari 20% dalam tiga hari. Kenaikan yang turut diperkuat aksi short squeeze tersebut kemudian membawa Bitcoin menembus US$80.000 pada 25 Agustus. Perubahan ini menjadi sinyal beli kembali menguat, namun laju kenaikan yang cepat juga membuat risiko volatilitas tetap perlu diperhatikan.
“Arus dana ETF menjadi salah satu indikator bahwa permintaan terhadap Bitcoin kembali menguat. Ketika peningkatan permintaan tersebut berjalan bersamaan dengan kenaikan harga, momentum pasar menjadi lebih kuat. Namun, pergerakannya tetap perlu dibaca bersama kondisi makro, likuiditas, aktivitas pasar, dan sentimen investor secara keseluruhan,” jelas Aloysia.
Di tengah kenaikan tersebut, sentimen pasar juga telah berada pada area optimistis. Kondisi seperti ini dapat membuka peluang, namun sekaligus meningkatkan risiko volatilitas apabila investor dan trader mulai terlalu agresif mengejar harga.
Momentum ini sekaligus menjadi pengingat penting bagi investor dan trader untuk tetap menyesuaikan strategi dengan tujuan dan profil risiko masing-masing. Trader jangka pendek dapat mengevaluasi ukuran posisi dan batas risiko, sementara investor yang berorientasi jangka panjang dapat mempertimbangkan pendekatan bertahap agar keputusan tidak semata didorong oleh kenaikan harga.
“Momentum bullish tidak selalu bergerak dalam satu arah. Fokus investor sebaiknya bukan mengejar harga atau menebak titik tertinggi, tetapi memahami faktor yang menggerakkan pasar dan memiliki rencana menghadapi berbagai skenario,” tambah Aloysia.
