Harga Bitcoin Diramal Tembus Rp 1,2 Miliar di Bulan Ini, Berikut Pendorongnya
JAKARTA, investortrust.id - Trader Tokocrypto Fyqieh Fachrur mengungkapkan, sejak awal tahun harga Bitcoin (BTC) telah melonjak lebih dari 60% hingga Mei 2024. Peningkatan ini diperkirakan terus berlanjut hingga bulan Juni ini, didukung oleh sejumlah hal.
Menurutnya, peningkatan harga Bitcoin dalam lima bulan pertama tahun ini, didorong oleh arus masuk ke ETF Bitcoin di Amerika Serikat (AS) dan ekspektasi penurunan suku bunga oleh The Fed.
“Berdasarkan gabungan indikator on-chain, fundamental dan teknis, bitcoin mungkin akan mengalami kenaikan lebih lanjut di bulan ini, berpotensi mencapai US$ 75.000 atau sekitar Rp 1,22 miliar,” ujarnya, dalam keterangan resmi, Rabu (5/6/2024).
Menilik data Coinmarketcap, Rabu (5/6/2024) pukul 16.35 WIB harga BTC terpantau berada di US$ 70.929,71. Dalam sehari BTC naik 3,18% dan sepekan naik 4,86%. Di mana, kapitalisasi pasar BTC saat ini berada di US$ 1,39 triliun.
Baca Juga
Thailand Setujui ETF Bitcoin Spot, Tokocrypto: Jadi Sinyal Positif bagi Indonesia
Perkiraan tersebut, lanjut Fyqieh, didorong oleh pola segitiga simetris yang biasanya menandakan kelanjutan tren bullish. Pada 31 Mei 2024, harga BTC mendekati puncak segitiga, mengincar penembusan diatas garis tren atas yang dapat mendorong harganya menuju US$ 74.000-75.000 pada bulan Juni.
“Titik breakout ini mungkin berada di sekitar US$ 69.000, yang bertepatan dengan support garis tren naik Bitcoin,” katanya.
Selain itu, dikatakan Fyqieh, volatilitas Bitcoin terus memikat investor dan perkembangan ekonomi terkini di AS mungkin akan menentukan langkah besar berikutnya. Rilis data inflasi bulan Mei yang dikeluarkan dalam waktu dekat akan menjadi sorotan.
Baca Juga
Jika tingkat inflasi di AS melambat hingga 3,3% atau lebih rendah, ini bisa mendorong harga Bitcoin kembali ke titik tertinggi sepanjang masa di level US$ 73.000 atau sekitar Rp 1,18 miliar.
“Namun, jika hasil CPI (consumer price index) melebihi ekspektasi, momentumnya bisa melemah. Hasil CPI yang lebih tinggi dari perkiraan telah menyebabkan penurunan harga Bitcoin,” ungkap Fyqieh.
Pelaku pasar berharap ada dorongan lebih lanjut terhadap momentum bullish ini dengan data non farm payroll (NPF) yang positif, sehingga mengindikasikan perlambatan inflasi dan meningkatkan peluang penurunan suku bunga pada bulan Juni dan Juli tahun ini.
“Jika data CPI terbaru yang dirilis pada 12 Juni mendatang berada dibawah perkiraan, ini dapat meningkatkan kepercayaan investor dan memacu gelombang baru pembelian Bitcoin,” kata Fyqieh.

