IHSG Melesat 1,81%, Analis: Aksi Demo Kondusif Redakan Kekhawatiran Investor
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (27/8/2026), mendadak lompat 116 poin (1,81%) ke level 6.521,75. Penguatan IHSG didorong technical rebound setelah koreksi tajam sebelumnya serta aksi demonstrasi yang berlangsung relatif kondusif.
Pengamat pasar modal Elandry Pratama mengatakan, penguatan IHSG merupakan kombinasi dari technical rebound dan membaiknya market sentiment. “Aksi demonstrasi yang berlangsung relatif kondusif membantu meredakan kekhawatiran investor terhadap risiko gangguan keamanan maupun aktivitas ekonomi,” kata Elandry saat dihubungi investortrust.id Kamis, (27/82026).
Selain itu, kabar DPR menargetkan pengesahan Undang-Undang (UU) Perampasan Aset paling lambat 15 Desember 2026 turut menjadi sentimen positif. “Pasar melihat adanya respons institusional terhadap aspirasi publik, sehingga risiko eskalasi politik dinilai lebih terkendali. Kondisi ini mendorong bargain hunting, khususnya saham-saham berkapitalisasi besar yang sebelumnya sudah terkoreksi,” terang Elandry.
Baca Juga
IHSG Ditutup Melesat 1,81% Hari Ini, Seluruh Sektor Saham Rebound
Meski demikian, Elandry mengingatkan penguatan IHSG masih perlu dicermati, karena pasar menunggu realisasi pembahasan kebijakan tersebut. Ke depan, arah IHSG akan dipengaruhi oleh foreign flow, pergerakan rupiah, serta konsistensi stabilitas politik dan keamanan domestik.
Senada, Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji mengatakan bahwa kewaspadaan terhadap potensi dinamika sosial-politik domestik terkait aksi penyampaian pendapat di Gedung DPR RI turut mendorong investor institusi dan asing membatasi eksposurnya untuk sementara waktu.
“Selama aksi berlangsung tertib dan tidak berkembang menjadi gangguan keamanan yang signifikan, dampaknya terhadap IHSG kemungkinan lebih bersifat temporer dan berbasis sentimen, bukan perubahan fundamental,” kata Nafan.
Sebaliknya, apabila terjadi eskalasi atau ketidakpastian politik meningkat, tekanan jual berpotensi berlanjut karena premi risiko pasar mengalami kenaikan.
Baca Juga
TBS (TOBA) Jadi Outlier Emiten Batu Bara, Pendapatan Non-Coal Tembus Lebih dari 60%
Selain itu, Nafan menyoroti potensi penyesuaian portofolio menjelang rebalancing Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada 31 Agustus 2026 atau mulai berlaku 1 September 2026 masih menjadi perhatian.
Dalam penyesuaian kali ini, saham GOTO dan CPIN dikeluarkan dari kategori Global Standard Index. Sementara itu, sembilan emiten terdepak dari kategori Small Cap Index, yakni ARTO, BUKA, ESSA, FILM, HEAL, KPIG, RATU, SMGR, dan TCPI.
Meski demikian, Nafan menilai dampak pengumuman tersebut sebagian besar telah diantisipasi pasar (priced-in) sejak Agustus. “MSCI tidak memberikan kejutan negatif tambahan serta telah membekukan penyesuaian Foreign Inclusion Factor (FIF) bagi saham Indonesia sejak awal Juli,” pungkasnya.
