Sektor Komoditas Bisa Berjaya Usai Israel Serang Iran, Ini Rekomendasi Sahamnya
JAKARTA, investortrust.id - Diberitakan Israel menyerang bagian barat kota Isfahan, Iran dengan tiga ledakan di dekat pangkalan militer jet tempur milik Iran. Kabar tersebut langsung mengguncang pasar saham global dengan penurunan indeks harga saham.
Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana mengatakan, berita tersebut berdampak pada emiten-emiten yang berbasis komoditas di indeks harga saham gabungan (IHSG), yang bergerak menguat akibat naiknya harga komoditas dunia seperti emas dan minyak mentah.
“Secara teknikal, IHSG sudah menembus 7.066 dan 7.045 sebagai support terdekatnya, maka worst case IHSG akan mengarah ke 6983-7012 sebagai area koreksi selanjutnya,” ujar Didit kepada investortrust.id Jumat (19/4/2024).
Di samping itu, Didit menilai emiten yang dirugikan adalah emiten big caps seperti sektor perbankan yang menjadi pemberat IHSG.
Baca Juga
Israel Dikabarkan Serang Balik Iran, Pasar Saham Dunia Langsung Melorot, Saham Bank Lokal Anjlok
Alasan tersebut, kata Didit, emiten perbankan sudah bergerak menguat semenjak awal tahun 2024 dan telah membagikan dividen.
“Hal ini cukup lumrah, mengingat capital gain yang cukup besar dan ada aksi profit taking untuk mengalihkan dari emiten perbankan ke komoditas atau terburuknya adalah outflow dari market dan mengamankan aset,” ujar Didit.
Berdasarkan data, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 1,32% ke Rp 9,350, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) terhempas 3,65% menjadi Rp 5.275, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun 1,47% menjadi Rp 6.675, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) melemah 1,89% menjadi Rp 5.200.
Sementara itu, adapun emiten yang diuntungkan dan layak untuk diburu menurut Didit, PT. Elnusa Tbk (ELSA), PT. Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA).
Hal yang sama juga disampaikan oleh William yang menilai emiten komoditas yang diuntungkan adalah, PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT. Elnusa Tbk (ELSA), PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA). (CR-5)

