Valuasi Obligasi Indonesia Makin Kompetitif, Investor Pantau Konsistensi Kebijakan
JAKARTA, investortrust.id – Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) menilai obligasi Indonesia masih memiliki daya tarik bagi investor, terutama karena valuasinya relatif semakin kompetitif dibandingkan negara-negara dengan peringkat setara.
Portfolio Manager Fixed Income MAMI Laras Febriany mengatakan, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun Indonesia dan selisihnya dengan obligasi pemerintah Amerika Serikat (UST) tenor yang sama secara relatif sangat menarik.
Baca Juga
Redam Gejolak Pasar Obligasi, Pemerintah AS Gandakan ‘Treasury Buyback’
Daya tarik tersebut tercermin dari arus dana investor asing pada Juni-Juli 2026 yang mulai kembali masuk ke pasar SBN. Menurut Laras, kondisi ini menunjukkan bahwa pada level imbal hasil saat ini, pasar mulai menilai obligasi Indonesia memberikan kompensasi risiko yang lebih menarik.
“Namun, kami tetap menekankan bahwa daya tarik valuasi perlu diimbangi dengan konsistensi kebijakan yang berkesinambungan, karena faktor seperti harga energi, arah kebijakan BI (Bank Indonesia), kondisi fiskal, dan sentimen global masih dapat membebani sentimen investasi,” jelas Laras dalam laporan yang dikutip pada Rabu (19/8/2026).
Di sisi lain, Rupiah dinilai mulai stabil dalam arti pelemahannya tidak lagi berlangsung secara akseleratif. Meski demikian, Laras mengingatkan bahwa stabilitas Rupiah perlu dilihat dengan hati-hati karena dinamika global masih sangat dinamis.
Baca Juga
Rupiah Melemah, Yield Naik: Mengapa Diversifikasi Portofolio Obligasi Semakin Relevan?
Posisi cadangan devisa Indonesia yang berperan sebagai bantalan juga dinilai masih relatif rendah dibandingkan posisi sebelumnya. Sementara itu, posisi neraca transaksi berjalan diperkirakan masih akan mencatat defisit hingga akhir tahun, meskipun periode tersulit diperkirakan telah terlewati pada kuartal kedua.
Menurut Laras, stabilitas Rupiah sangat penting bagi pasar obligasi karena menjadi salah satu pertimbangan utama investor asing untuk kembali masuk ke pasar SBN. Jika Rupiah dapat bergerak lebih stabil, premi risiko dapat menurun sehingga daya tarik obligasi Indonesia berpotensi kembali meningkat. “Kita berharap kondisi stabilitas ini dapat konsisten berlanjut,” imbuhnya.
Risiko Yang Dicermati
MAMI mengingatkan sejumlah risiko yang perlu dicermati investor di pasar obligasi Indonesia.
Pertama, risiko eksternal dari volatilitas harga minyak dan kaitannya dengan potensi inflasi. Jika harga minyak bertahan tinggi dalam waktu lama, tekanan terhadap inflasi dan neraca eksternal dapat meningkat.
Baca Juga
Pemprov DKI Emisi Obligasi Rp 3,5 triliun, Segera Dibahas di Banggar
Kedua, iklim suku bunga global, terutama apabila The Fed mempertahankan sikap hawkish lebih lama dari ekspektasi pasar.
Ketiga, risiko domestik yang berkaitan dengan konsistensi kebijakan, kredibilitas dan independensi BI, kedisiplinan fiskal, serta outlook sovereign rating.
Keempat, perkembangan review MSCI. Meskipun isu tersebut lebih berkaitan dengan pasar saham, dampaknya terhadap sentimen investor asing terhadap Indonesia secara keseluruhan tetap penting untuk dicermati.

