MAMI: Valuasi Obligasi Indonesia Sangat Atraktif di Tengah Kenaikan Agresif BI Rate
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) menilai valuasi obligasi Indonesia saat ini sangat atraktif di tengah kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) yang agresif. Meski demikian, investor masih mencermati stabilitas nilai tukar rupiah, arah kebijakan BI Rate, serta konsistensi disiplin fiskal pemerintah.
Head of Investment Specialist Manulife Aset Manajemen Indonesia Freddy Tedja mengatakan, hingga akhir Juni 2026 selisih imbal hasil (yield spread) Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia dan US Treasury (UST) tenor 10 tahun mencapai 273 basis poin (bps), lebih lebar dibandingkan rata-rata satu tahun sekitar 220 bps.
Menurut dia, jika mempertimbangkan peringkat kredit, obligasi Indonesia masih menawarkan valuasi yang lebih menarik dibandingkan obligasi sejumlah negara berkembang lain yang memiliki peringkat kredit lebih rendah.
Baca Juga
Net Sell Naik Jadi Rp 689,33 Miliar, Sebaliknya Saham BBCA dan BRPT Lagi-lagi Diborong Pemodal Asing
"Artinya, secara valuasi sebenarnya obligasi Indonesia saat ini sangat atraktif. Tetapi masih ada ketidakpastian yang masih ditunggu investor, yaitu stabilitas Rupiah, arah BI Rate, dan konsistensi & komitmen disiplin fiskal," ujar Freddy, Rabu (8/7/2026).
Freddy menjelaskan rupiah sempat menunjukkan stabilitas yang lebih baik pada Juni 2026. Kondisi tersebut didukung kebijakan Bank Indonesia yang berfokus menjaga stabilitas nilai tukar serta perubahan arah kebijakan pemerintah. Selain itu, tekanan musiman dari pembayaran dividen dan periode Haji mulai berkurang.
Meski demikian, menurut dia, stabilitas rupiah masih rentan terhadap perkembangan global, termasuk dinamika geopolitik dan arah kebijakan suku bunga The Fed. Dari sisi domestik, pasar juga mencermati evaluasi S&P Global Ratings pada Juli-Agustus serta konsistensi kebijakan pemerintah. "Jika semuanya menunjukkan hasil positif, kami memproyeksikan di akhir tahun 2026 nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS dapat mencapai kisaran 17.500," kata Freddy.
Baca Juga
PEFINDO: Suku Bunga Berpotensi Naik Lagi, Yield Obligasi Diperkirakan Tetap Tinggi
Dari sisi moneter, Bank Indonesia mempertegas prioritas menjaga stabilitas rupiah melalui kenaikan BI Rate sebesar 50 bps pada Juni 2026, termasuk kenaikan 25 bps pada rapat di luar jadwal reguler.
Menurut Freddy, langkah tersebut penting untuk menjaga kredibilitas dan independensi Bank Indonesia sekaligus meningkatkan daya tarik aset domestik. MAMI juga memproyeksikan BI Rate masih berpotensi kembali naik hingga akhir 2026.
Inflasi Naik, Konsumsi dan Manufaktur Melemah
MAMI mencatat inflasi hingga akhir Juni 2026 meningkat menjadi 1,79% dibandingkan 1,38% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan harga turut tercermin dari kontraksi penjualan ritel selama dua bulan berturut-turut, yakni turun 3,7% pada April dan kembali turun 3,2% pada Mei 2026.
Pelemahan konsumsi tersebut berdampak pada aktivitas manufaktur. Indeks PMI manufaktur Indonesia pada Juni 2026 turun ke level 46,9, menjadi yang terendah sejak Juni 2025. "Semuanya sejalan dengan penurunan gradual Indeks Keyakinan Konsumen di semua komponen, baik ekspektasi penghasilan, ketersediaan lapangan kerja, dan iklim usaha ke depan," jelas Freddy.
Baca Juga
Harga Minyak Melonjak Usai AS Blokir Ekspor Iran, Waspadai Tekanan bagi Bitcoin
Di sisi lain, pemerintah merespons perlambatan ekonomi melalui stimulus semester II-2026 senilai Rp26,34 triliun yang mencakup bantuan pangan, insentif transportasi, serta program magang dan vokasi. "Stimulus ini dapat membantu menjaga daya beli, tetapi kita harus menunggu efektivitasnya, di tengah ruang fiskal yang semakin terbatas yang membatasi ruang pemberian stimulus lanjutan yang lebih besar," ujar Freddy.
Terkait disiplin fiskal, Freddy melihat pemerintah mulai menunjukkan berbagai kebijakan yang lebih ramah pasar. Sejak Juni 2026, pemerintah mengomunikasikan sejumlah penyesuaian kebijakan, seperti pengurangan anggaran MBG, penurunan target Koperasi Merah Putih dari 80 ribu menjadi 40 ribu, serta pembatalan rencana skema bagi hasil minerba.
Pemerintah juga memperjelas fungsi PT Danantara Sumberdaya Indonesia dalam wacana ekspor satu pintu. Sebelumnya, pada Maret 2026 pemerintah kembali menegaskan komitmennya menjaga defisit fiskal tetap berada di bawah 3% dari produk domestik bruto (PDB).
Baca Juga
Prabowo: Relief Ramayana di Candi Prambanan Jadi Saksi Kedekatan Indonesia-India
Freddy menyimpulkan terdapat sejumlah faktor yang dapat mendukung stabilitas rupiah, inflasi, dan arah BI Rate, antara lain meredanya ketegangan geopolitik serta normalisasi harga minyak dunia. "Mengenai disiplin fiskal, ini yang masih harus terus dikomunikasikan dan dibuktikan oleh pemerintah," tandasnya.
Bagi investor, MAMI menilai kenaikan imbal hasil saat ini membuka peluang akumulasi selektif pada obligasi, terutama apabila stabilitas rupiah tetap terjaga. Namun, keputusan investasi tetap perlu disesuaikan dengan profil risiko masing-masing investor serta dilakukan dengan pemantauan berkala.
