BBNI Jadi Pilihan di Tengah Ketidakpastian MSCI, Target Harga hingga Rp 4.800
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) dinilai masih menjadi salah satu pilihan menarik di tengah ketidakpastian pasar akibat kebijakan MSCI. Fundamental yang solid membuat saham BBNI berpotensi tetap menjadi salah satu pilihan investor, termasuk investor asing.
Mengacu data Bursa Efek Indonesia (BEI) pada penutupan perdagangan sesi I Kamis, (13/8/2026) saham BBNI parkir di level 3.600 atau naik 0,56%. Dengan demikian, masih terdapat ruang kenaikan menuju target harga yang diberikan analis.
Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nafan Aji, merekomendasikan Add saham BBNI dengan target harga Rp 4.020 per saham.
“BBNI menurut saya menjadi salah satu pilihan yang relatif menarik di tengah ketidakpastian MSCI karena fundamental bank tetap menjadi anchor bagi investor asing,” kata Nafan kepada investortrust.id Kamis, (13/8/2026).
Menurutnya, prospek BBNI masih ditopang oleh sejumlah katalis, mulai dari pertumbuhan kredit, peningkatan efisiensi, perbaikan kualitas aset, hingga peluang penurunan suku bunga yang dapat memberikan ruang bagi perbaikan biaya dana (cost of fund).
Pada kuartal I-2026, BBNI membukukan laba bersih Rp 5,7 triliun, dengan pertumbuhan kredit sekitar 20% secara tahunan (yoy) serta perbaikan kualitas aset.
Baca Juga
Meski demikian, Nafan mengingatkan risiko utama yang perlu diperhatikan investor adalah tekanan terhadap net interest margin (NIM), terutama akibat kompetisi kredit dan tekanan dari segmen consumer.
Pandangan positif terhadap BBNI juga tercermin dalam riset BRI Danareksa Sekuritas. Sekuritas tersebut menaikkan target harga BBNI menjadi Rp 4.800 per saham dari sebelumnya Rp 4.700 dan mempertahankan rekomendasi Buy.
Kenaikan target harga tersebut sejalan dengan revisi naik estimasi laba bersih BBNI untuk 2026 dan 2027 masing-masing sebesar 3% dan 4%. Revisi tersebut mencerminkan asumsi pertumbuhan kredit yang lebih tinggi, meski sebagian terkompensasi oleh kenaikan biaya kredit (Cost of Credit/CoC).
BRI Danareksa Sekuritas menaikkan asumsi pertumbuhan kredit BBNI pada 2026 menjadi 12% dari sebelumnya 10%.
Dari sisi kinerja, BBNI membukukan laba bersih Rp 5,1 triliun pada kuartal II-2026, turun 10% secara kuartalan (qoq), tetapi masih tumbuh 8% secara tahunan (yoy). Dengan demikian, laba bersih semester I-2026 mencapai Rp 10,8 triliun atau tumbuh 7% yoy.
Capaian tersebut setara dengan 52% dari proyeksi laba bersih BRI Danareksa Sekuritas maupun konsensus untuk 2026, sehingga dinilai masih sejalan dengan ekspektasi.
Kinerja tersebut terutama ditopang oleh ekspansi kredit yang kuat. Kredit konsolidasi BBNI tumbuh 24% yoy, terutama didorong segmen enterprise yang melonjak 101% yoy dan kredit korporasi BUMN yang tumbuh 63% yoy. Pertumbuhan kredit tersebut turut mendorong pendapatan bunga bersih (NII) naik 14% yoy.
Namun, tekanan terhadap NIM masih menjadi perhatian. NIM BBNI turun 11 basis poin secara kuartalan menjadi 3,4% pada kuartal II-2026 akibat penurunan imbal hasil aset lainnya serta kondisi likuiditas yang semakin ketat.
Sejalan dengan kondisi tersebut, manajemen menurunkan panduan NIM bank-only 2026 menjadi 3,3%-3,5% dari sebelumnya 3,5%-3,8%. Manajemen memperkirakan tekanan biaya dana masih berlanjut pada paruh kedua 2026, dengan repricing biaya dana diperkirakan lebih cepat dibandingkan repricing yield kredit.
Selain itu, kualitas aset BBNI masih relatif terjaga. Rasio non-performing loan (NPL) berada di level 1,9%, sementara CoC meningkat menjadi 1,1% pada semester I-2026 dan masih berada dalam panduan manajemen sebesar 1%-1,2%.
BRI Danareksa Sekuritas menilai pertumbuhan kredit yang kuat masih mampu mengimbangi tekanan NIM. Dengan pertimbangan tersebut, rekomendasi Buy dipertahankan dengan target harga Rp 4.800.
Meski demikian, BRI Danareksa Sekuritas mengingatkan saham BBNI berpotensi menghadapi volatilitas tinggi dalam tiga bulan ke depan. Ketidakpastian makroekonomi dan kondisi likuiditas yang ketat pada paruh kedua 2026 menjadi faktor risiko yang perlu dicermati investor.

