Astra (ASII) Diproyeksi Pulih, Intip Rekomendasi dan Target Harga Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – KB Valbury Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham PT Astra International Tbk (ASII) dengan target harga Rp 6.950 per saham. Target tersebut didasarkan pada valuasi sum-of-the-parts (SOTP) setara 8,6 kali proyeksi price-to-earnings ratio (P/E) 2026.
Target harga Rp6.950 tersebut masih memberikan ruang kenaikan dibandingkan posisi valuasi saham ASII yang saat ini diperdagangkan pada 6,3 kali P/E 2026, atau sedikit di atas level -1 standar deviasi (SD) sebesar 5,9 kali P/E.
Baca Juga
Dua Sekuritas Kompak Rekomendasikan Buy Saham ASII, Target Harga hingga Rp 7.000
Analis KB Valbury Sekuritas Akhmad Nurcahyadi mengatakan rekomendasi beli tetap dipertahankan, meski kinerja keuangan Astra pada semester I-2026 berada di bawah ekspektasi. KB Valbury menilai sejumlah bisnis inti, terutama otomotif dan jasa keuangan, masih menunjukkan ketahanan.
KB Valbury memperkirakan laba bersih ASII pada 2026 mencapai Rp 32,53 triliun, relatif stabil dibandingkan Rp32,77 triliun pada 2025. Pendapatan diproyeksikan sebesar Rp317,80 triliun, dengan laba operasional Rp37,67 triliun.
Prospek kinerja kemudian diperkirakan membaik pada 2027. Laba bersih Astra diproyeksikan meningkat menjadi Rp 33,79 triliun, sebelum kembali tumbuh menjadi Rp 35,73 triliun pada 2028.
Baca Juga
RUPSLB Astra (ASII) Setujui ‘Buyback’ Saham Rp8 Triliun dan Pengalihan Saham untuk Program MSOP
Laba per saham (EPS) diperkirakan sebesar Rp 804 pada 2026, meningkat menjadi Rp 835 pada 2027 dan Rp 882 pada 2028. Sementara itu, return on equity (ROE) diproyeksikan berada di level 10,4% pada 2026, kemudian masing-masing 10,3% pada 2027 dan 10,2% pada 2028.
Prospek pemulihan Astra (ASII) tidak terlepas dari tantangan pada segmen Heavy Equipment, Mining, Construction, and Energy (HEMCE). Pada semester I-2026, laba bersih Astra turun 19,2% secara tahunan menjadi Rp 12,53 triliun dari Rp 15,51 triliun. Penurunan akibat kinerja HEMCE yang tertekan. Laba bersih segmen tersebut anjlok 46,1% secara tahunan, seiring minimnya penjualan emas dari Tambang Martabe dan penurunan kuota produksi batu bara nasional.
Otomotif dan Jasa Keuangan
Di tengah tekanan HEMCE, bisnis otomotif dan jasa keuangan masih menunjukkan kinerja positif. Laba bersih segmen otomotif meningkat 9,2% secara tahunan menjadi Rp5,96 triliun pada semester I-2026. Pertumbuhan ditopang volume yang sehat pada kendaraan roda dua dan roda empat, kinerja divisi komponen, serta kontribusi bisnis jasa keuangan.
Sementara itu, segmen jasa keuangan membukukan laba bersih sekitar Rp4,61 triliun, tumbuh 6,6% secara tahunan. Pertumbuhan tersebut didorong peningkatan penyaluran pembiayaan konsumen serta hasil operasional dan investasi yang lebih tinggi pada unit asuransi. Bisnis lainnya juga mencatat pertumbuhan laba sebesar 27,7% menjadi Rp1,63 triliun.
Baca Juga
Pengendali Intermedia (MDIA) Lepas 1 Miliar Saham, Kepemilikan Turun Jadi 80,73% dan Harga Melambung
Selain prospek pemulihan kinerja operasional, strategi pengembalian nilai kepada pemegang saham menjadi salah satu katalis ASII. Astra (ASII) telah merealisasikan share buyback senilai Rp 7,4 triliun melalui sejumlah entitas grup. Perseroan juga memiliki otorisasi program pembelian kembali saham baru hingga Rp 8 triliun untuk periode 12 bulan mulai Juli 2026 hingga Juli 2027.
KB Valbury menyebut sejumlah katalis yang dapat mendukung kenaikan saham ASII, antara lain penjualan otomotif yang lebih kuat dari perkiraan, meredanya tekanan pada segmen HEMCE, serta tetap solidnya laba dari bisnis jasa keuangan dan segmen lainnya.

