Tujuh Bulan Pertama 2026, IHSG Terpangkas 27,9%
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) menutup perdagangan Juli 2026 dengan sedikit penguatan, namun belum mampu mengubah tren pelemahan pasar saham sepanjang tahun ini. Hingga penutupan perdagangan Jumat (31/07/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 49,76 poin atau 0,80% ke level 6.236,13. Meski demikian, secara year-to-date (ytd) IHSG masih terkoreksi 27,88%, menjadikannya salah satu bursa saham dengan kinerja terburuk di kawasan ASEAN bahkan dunia sepanjang tujuh bulan pertama 2026.
Data IDX Daily Statistics menunjukkan tekanan jual investor asing masih berlanjut. Pada perdagangan Jumat, investor asing kembali membukukan net sell Rp250,58 miliar, sehingga akumulasi arus keluar dana asing sejak awal tahun mencapai Rp71,99 triliun atau sekitar US$3,99 miliar. Besarnya arus modal asing yang keluar menjadi salah satu faktor utama yang membebani pergerakan IHSG sepanjang tahun ini.
Meski demikian, aktivitas perdagangan tetap cukup tinggi. Nilai transaksi saham mencapai Rp18,24 triliun dengan volume 31,53 miliar saham yang diperdagangkan sebanyak 1,94 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia mencapai Rp10.923 triliun, sedangkan kapitalisasi pasar berdasarkan free float tercatat Rp2.713 triliun.
Secara fundamental, valuasi pasar Indonesia semakin menarik. IHSG kini diperdagangkan pada price earnings ratio (PER) 12,68 kali dengan price to book value (PBV) 1,66 kali, jauh lebih murah dibandingkan rata-rata historis maupun sejumlah bursa regional.
Saham Perbankan Masih Mendominasi
Dari sisi kapitalisasi pasar, saham-saham perbankan tetap menjadi tulang punggung bursa. BBCA masih menjadi emiten terbesar dengan kapitalisasi pasar Rp772 triliun, disusul BBRI dan DCII yang masing-masing sekitar Rp456 triliun, kemudian BREN sebesar Rp448 triliun, BYAN Rp401 triliun, serta BMRI Rp387 triliun.
Pada perdagangan Jumat, saham BBCA menjadi saham dengan nilai transaksi terbesar kedua setelah MBSS, yakni Rp992 miliar, diikuti BBRI sebesar Rp707 miliar dan BMRI Rp431 miliar. Kenaikan saham BBRI juga menjadi kontributor terbesar terhadap penguatan IHSG hari itu, disusul ASII, AMMN, BREN, dan BRPT.
Namun secara year-to-date, saham-saham perbankan besar masih berada di zona merah. BBCA turun 21,67%, BBRI melemah 16,94%, BMRI terkoreksi 17,84%, sedangkan BBNI juga masih mengalami tekanan.
Hampir Seluruh Indeks Masih Tertekan
Pelemahan pasar terjadi hampir merata di seluruh kelompok indeks. LQ45 turun 26,62%, IDX80 melemah 29,62%, KOMPAS100 terkoreksi 31,58%, sedangkan indeks saham syariah ISSI turun 30,30% dan Jakarta Islamic Index (JII) bahkan anjlok 36,04% sepanjang tahun berjalan.
Dari sisi sektoral, tekanan paling dalam terjadi pada sektor Properti dan Real Estat yang turun 33,46%, Infrastruktur minus 33,44%, serta Energi yang melemah 33,32%. Sektor Kesehatan juga turun hampir 30%, sementara sektor Teknologi terkoreksi 26,66%. Sektor Keuangan menjadi salah satu yang relatif lebih bertahan dengan penurunan 12,98%.
Indonesia Tertinggal dari Bursa Regional
Di kawasan ASEAN, kinerja IHSG menjadi yang terburuk. Ketika Indonesia masih mencatat penurunan 27,88%, bursa Thailand justru melonjak 28,89%, Singapura naik 21,14%, Filipina menguat 3,03%, dan Malaysia bertambah 2,67%. Hanya Vietnam yang masih mencatat pelemahan, namun terbatas sekitar 2,23%.
Secara global, Indonesia juga tertinggal dibandingkan sejumlah pasar utama. Bursa Korea Selatan melonjak 56,51%, Taiwan naik 48,88%, Jepang menguat 27,86%, sedangkan Dow Jones di Amerika Serikat masih mencatat kenaikan 8,62% sepanjang tahun berjalan.
Ruang Rebound Masih Terbuka
Meski masih mengalami tekanan, sejumlah analis menilai koreksi tajam IHSG telah membuat valuasi saham Indonesia semakin menarik. Kinerja fundamental emiten-emiten besar pada umumnya masih solid, sementara stabilitas makroekonomi nasional tetap terjaga dengan pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi, inflasi yang terkendali, serta permodalan sektor perbankan yang kuat.
Pelaku pasar kini menantikan membaiknya sentimen domestik, meningkatnya kepastian kebijakan ekonomi, serta kembalinya aliran dana asing ke pasar modal. Apabila faktor-faktor tersebut dapat dipenuhi, tekanan terhadap IHSG diperkirakan mulai mereda sehingga membuka peluang terjadinya rebound pada paruh kedua 2026 setelah mengalami koreksi hampir 28% dalam tujuh bulan pertama tahun ini.
