Net Buy Berlanjut, Asing Mulai Koleksi Saham Bank
JAKARTA, Investortrust.id – Investor asing melanjutkan aksi beli bersih di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Kamis (30/07/2026). Dana asing mulai mengalir kembali ke sejumlah saham berkapitalisasi besar, terutama saham-saham perbankan, sehingga mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat 94,977 poin atau 1,56% ke level 6.186,363.
Berdasarkan IDX Daily Statistics edisi Kamis (30/7/2026), yang merupakan hari perdagangan ke-134 sepanjang 2026, IHSG dibuka dari posisi sebelumnya 6.091,386. Sepanjang perdagangan, indeks bergerak di antara level terendah 6.106,546 dan tertinggi 6.186,363, yang sekaligus menjadi posisi penutupan.
Penguatan tajam IHSG terutama ditopang saham-saham bank besar. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik 2,79% dan memberikan kontribusi 15,44 poin terhadap kenaikan indeks. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menguat 2,40% dengan kontribusi 10,22 poin, sedangkan saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) naik 1,71% dan menyumbang 5,71 poin.
Saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) juga menguat 2,60% dan menambah 2,97 poin terhadap IHSG. Kenaikan saham-saham bank besar tersebut memperlihatkan mulai munculnya kembali minat investor terhadap sektor perbankan setelah saham sektor ini mengalami koreksi cukup dalam sejak awal tahun.
Selain saham bank, penguatan indeks ditopang saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) yang melonjak 4,30% dan memberikan kontribusi 10,15 poin. Saham PT Siloam International Hospitals Tbk atau SRAJ naik 5,45%, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) menguat 3,07%, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) naik 1,02%, PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) melesat 6,12%, dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) meningkat 3,80%.
Di sisi lain, kenaikan IHSG tertahan oleh pelemahan beberapa saham berkapitalisasi besar. Saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) turun 1,52% dan mengurangi indeks 1,93 poin. Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) merosot 4,09%, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) melemah 0,62%, PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) turun 2,63%, dan PT United Tractors Tbk (UNTR) melemah 1,02%.
Saham PT Bank Permata Tbk (BNLI) turun 3,10%, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) melemah 1,52%, PT Capital Financial Indonesia Tbk (CASA) turun 0,54%, PT Astra International Tbk (ASII) melemah 0,20%, dan PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN) turun 2,50%.
Asing Kembali Membeli
Investor asing membukukan net buy sebesar Rp 262,93 miliar, atau sekitar US$ 14,54 juta, pada perdagangan Kamis. Aksi beli bersih ini melanjutkan kecenderungan masuknya kembali dana asing ke pasar saham domestik setelah sehari sebelumnya investor asing juga membukukan pembelian bersih dalam jumlah besar.
Meski demikian, secara kumulatif sejak awal tahun atau year-to-date (ytd), investor asing masih mencatatkan net sell Rp71,737 triliun, setara sekitar US$3,968 miliar.
Berkurangnya akumulasi penjualan bersih asing memperlihatkan bahwa tekanan arus keluar modal mulai mereda. Kembali masuknya dana asing ke saham perbankan juga menjadi sinyal awal bahwa investor mulai melihat valuasi saham bank Indonesia semakin menarik setelah mengalami koreksi panjang.
Aktivitas perdagangan saham mencapai volume 29,706 miliar lembar dengan nilai transaksi Rp 12,921 triliun, setara sekitar US$ 715 juta. Frekuensi perdagangan mencapai 1,741 juta kali.
Namun, nilai transaksi tersebut masih berada di bawah rata-rata harian sepanjang 2026. Secara ytd, rata-rata volume perdagangan harian tercatat 39,524 miliar saham, dengan rata-rata nilai transaksi Rp22,543 triliun dan frekuensi rata-rata 1,307 juta kali.
Kapitalisasi Pasar Rp 10.812 Triliun
Penguatan IHSG mengangkat total kapitalisasi pasar BEI menjadi Rp10.812 triliun, setara sekitar US$ 598 miliar berdasarkan kurs Bank Indonesia Rp 18.078 per dolar AS.
Kapitalisasi pasar IHSG berdasarkan perhitungan free-float adjusted tercatat Rp2.691 triliun atau sekitar US$149 miliar.
BBCA masih menjadi emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di BEI, yakni Rp787 triliun atau setara 7,28% dari total kapitalisasi pasar. Posisi kedua ditempati PT DCI Indonesia Tbk (DCII) dengan kapitalisasi pasar Rp456 triliun atau 4,22%.
BBRI berada di posisi ketiga dengan kapitalisasi Rp449 triliun atau 4,15%, disusul BREN senilai Rp435 triliun atau 4,02%, dan BYAN sebesar Rp403 triliun atau 3,72%.
BMRI berada di posisi keenam dengan kapitalisasi pasar Rp384 triliun atau 3,56%. Berikutnya adalah PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) Rp297 triliun atau 2,75%, AMMN Rp289 triliun atau 2,67%, TLKM Rp264 triliun atau 2,45%, serta ASII Rp200 triliun atau 1,85%.
Secara keseluruhan, sepuluh saham dengan kapitalisasi pasar terbesar tersebut menguasai sekitar 36,67% kapitalisasi pasar BEI.
Saham Bank Dominasi Nilai Transaksi
TPIA menjadi saham dengan nilai transaksi terbesar, mencapai Rp1,164 triliun atau 9,01% dari seluruh transaksi saham.
Namun, saham-saham bank menempati posisi dominan berikutnya. Nilai transaksi BBCA mencapai Rp976 miliar atau 7,55% dari total transaksi. BBRI mencatatkan nilai transaksi Rp656 miliar atau 5,08%, sedangkan BMRI mencapai Rp430 miliar atau 3,33%.
Saham lain yang masuk sepuluh besar nilai transaksi adalah BACH sebesar Rp464 miliar, TLKM Rp453 miliar, BUMI Rp363 miliar, BUVA Rp328 miliar, AMMN Rp285 miliar, serta BULL Rp283 miliar.
Dari sisi volume, saham DOOH menjadi yang paling aktif dengan volume 4,242 miliar saham atau 14,28% dari total volume perdagangan. Berikutnya BNBR sebanyak 2,357 miliar saham, BUMI 2,230 miliar saham, KOTA 1,672 miliar saham, dan MDIA 1,532 miliar saham.
Lima saham lainnya dalam daftar volume terbesar adalah PADI sebanyak 980 juta saham, BULL 661 juta saham, BACH 640 juta saham, BIPI 588 juta saham, dan TPIA 547 juta saham.
Berdasarkan frekuensi, TPIA menjadi saham paling aktif dengan 80.932 kali transaksi. KOTA ditransaksikan sebanyak 65.980 kali, MDIA 63.318 kali, BNBR 54.658 kali, dan BACH 54.099 kali.
Selanjutnya, BULL ditransaksikan 38.186 kali, BUMI 36.041 kali, BBCA 29.761 kali, BBRI 28.152 kali, dan DEWA 26.142 kali.
Valuasi Pasar Masih Rendah
Rata-rata rasio harga terhadap laba atau price-to-earnings ratio (PER) pasar berada di level 12,71 kali, sedangkan rasio harga terhadap nilai buku atau price-to-book value (PBV) tercatat 1,64 kali.
Valuasi tersebut tergolong semakin menarik setelah IHSG terkoreksi 28,46% sejak awal tahun. Penurunan indeks yang jauh lebih dalam dibandingkan penurunan fundamental sebagian besar emiten membuat sejumlah saham berkapitalisasi besar, khususnya bank, diperdagangkan pada valuasi yang lebih rendah dibandingkan rata-rata historisnya.
Dari 963 saham yang tercatat di BEI, sebanyak 171 saham menguat, terdiri atas 55 saham yang naik lebih dari 2% dan 116 saham yang naik antara 0% hingga 2%.
Sebanyak 281 saham tidak berubah. Sementara itu, 511 saham mengalami penurunan, terdiri atas 249 saham yang turun hingga 2% dan 262 saham yang turun lebih dari 2%.
Meski jumlah saham yang turun lebih banyak, kenaikan terjadi pada saham-saham berkapitalisasi besar. Berdasarkan kapitalisasi pasar, saham yang menguat lebih dari 2% mewakili Rp2.245 triliun atau 21% kapitalisasi pasar. Saham yang naik hingga 2% mewakili Rp848 triliun atau 8%.
Saham yang stabil mencakup kapitalisasi Rp3.519 triliun atau 33%, sedangkan saham yang turun hingga 2% mewakili Rp3.699 triliun atau 34%. Saham yang merosot lebih dari 2% hanya mencakup sekitar Rp502 triliun atau 5% kapitalisasi pasar.
Top Gainers dan Top Losers
Saham PT Ever Shine Tex Tbk (ESTI) menjadi pencetak kenaikan tertinggi dengan melonjak 34,65% dari Rp127 menjadi Rp171. Saham MDIA naik 34,62% dari Rp130 menjadi Rp175, sedangkan TIFA meningkat 25% dari Rp256 menjadi Rp320.
Saham KJEN naik 22,22%, NICK melonjak 21,67%, KOTA menguat 20,80%, BAJA naik 20,42%, DOSS meningkat 19,40%, JSPT naik 15,94%, dan KDTN menguat 15,60%.
Sebaliknya, saham BLUE menjadi pencetak penurunan terdalam dengan melemah 8,70% dari Rp2.760 menjadi Rp2.520. AKSI turun 6,56%, HELI melemah 6,22%, ZONE turun 6,21%, dan GMTD melemah 6,01%.
Saham ASLC turun 5,97%, MCAS melemah 5,80%, AISA turun 5,47%, KOPI melemah 5,45%, dan ECII turun 5,23%.
Seluruh Indeks Utama Menguat
Kenaikan IHSG diikuti seluruh indeks utama BEI. Indeks LQ45 meningkat 2,03% menjadi 618,857, tetapi masih terkoreksi 26,90% secara ytd.
IDX30 naik 2,11% ke 348,586 dan masih turun 20,28% sejak awal tahun. IDX80 meningkat 1,94% ke 92,785, tetapi secara ytd masih melemah 30%.
IDX SMC Composite menguat 2% menjadi 388,268, sedangkan IDX SMC Liquid naik 2,30% ke 297,686.
IDX High Dividend 20 meningkat 1,76%, IDX BUMN20 naik 2,04%, IDX Value30 menguat 1,78%, dan IDX Growth30 melonjak 2,53%.
IDX Quality30 naik 2,06%, IDX ESG Leaders menguat 1,97%, IDX LQ45 Low Carbon Leaders meningkat 1,87%, dan IDX Cyclical Economy 30 naik 2,19%.
Indeks KOMPAS100 naik 1,87% menjadi 811,011, tetapi masih turun 32,05% secara ytd. BISNIS-27 menguat 2,22%, SRI-KEHATI naik 1,55%, dan Pefindo I-Grade meningkat 2,24%.
Indeks ESG Sector Leaders IDX KEHATI naik 1,72%, ESG Quality 45 IDX KEHATI menguat 1,61%, SMinfra18 meningkat 1,58%, dan Investor33 naik 1,93%.
Indeks infobank15 menguat 2,26%, sedangkan IDX-PEFINDO Prime Bank 10 melonjak 2,34% ke level 153,154. Kenaikan indeks khusus saham bank ini semakin menegaskan kuatnya pemulihan saham perbankan pada perdagangan Kamis.
MNC36 naik 2,17%, sedangkan IDX-Infovesta Multi-Factor 28 menguat 2,17%.
Indeks Syariah Ikut Menguat
Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) naik 1,59% menjadi 213,731, tetapi secara ytd masih terkoreksi 30,74%.
Jakarta Islamic Index (JII) meningkat 2,01% menjadi 368,583, meski masih turun 36,28% sejak awal tahun. JII70 naik 1,95%, IDX-MES BUMN 17 menguat 1,72%, dan IDX Sharia Growth meningkat 1,98%.
Volume perdagangan saham anggota ISSI mencapai 19,575 miliar saham atau 65,9% dari total volume perdagangan BEI. Nilai transaksinya mencapai Rp7,499 triliun atau 58% dari total nilai transaksi, dengan frekuensi 1,146 juta kali atau 65,8% dari total frekuensi perdagangan.
Kapitalisasi pasar saham anggota ISSI mencapai Rp5.315 triliun, setara sekitar US$294 miliar, atau 49,2% dari kapitalisasi pasar BEI.
Semua Sektor Berakhir Positif
Seluruh indeks sektoral BEI menguat. Sektor barang konsumen siklikal mencatatkan kenaikan tertinggi sebesar 2,25%, disusul sektor barang konsumen primer yang naik 2,12%.
Sektor energi menguat 1,87%, tetapi masih menjadi salah satu sektor yang terkoreksi paling dalam secara ytd, yakni turun 33,75%. Sektor properti dan real estat juga naik 1,87%, tetapi masih melemah 34,46% sejak awal tahun.
Sektor bahan baku menguat 1,43%, perindustrian naik 1,54%, kesehatan meningkat 1,24%, dan keuangan menguat 1,43%.
Sektor teknologi hanya naik tipis 0,29%, infrastruktur meningkat 1,11%, sedangkan transportasi dan logistik menguat 1,47%.
Secara ytd, seluruh sektor masih berada di zona negatif. Sektor keuangan mencatatkan koreksi paling terbatas sebesar 13,14%, disusul barang konsumen primer yang turun 13,73% dan transportasi-logistik yang turun 17,14%.
Sebaliknya, koreksi terdalam terjadi pada sektor properti dan real estat sebesar 34,46%, infrastruktur 33,88%, energi 33,75%, kesehatan 31,63%, dan teknologi 28,26%.
IHSG Masih Terburuk di ASEAN
Meski menguat 1,56% pada Kamis, IHSG masih mencatatkan penurunan 28,46% secara ytd, sehingga menempati posisi terbawah di antara enam bursa utama ASEAN.
Indeks Thailand SET menjadi bursa dengan kinerja terbaik di ASEAN dengan kenaikan 26,87% sejak awal tahun. Straits Times Index Singapura menguat 22,11%, indeks saham Filipina naik 4,18%, dan FTSE Bursa Malaysia KLCI meningkat 2,40%.
Indeks Vietnam VN-Index turun 4,47%, tetapi penurunannya masih jauh lebih ringan dibandingkan IHSG.
Dalam perbandingan kawasan Asia-Pasifik, IHSG berada di peringkat ke-13 dari indeks yang dibandingkan. Secara global, IHSG menempati posisi ke-35 dari 36 bursa anggota World Federation of Exchanges yang masuk dalam perbandingan IDX.
Di Asia, Taiwan TSE Weighted Index menjadi yang terbaik dengan kenaikan 37,87% secara ytd, disusul Korea Selatan KOSPI yang melonjak 32,73%.
Indeks Nikkei 225 Jepang meningkat 22,90%, sedangkan indeks saham Australia naik 1,15% dan Hang Seng Hong Kong menguat 0,89%.
Sebaliknya, indeks Sensex India turun 8,56%, Shanghai Composite China melemah 4,14%, sementara IHSG terkoreksi jauh lebih dalam sebesar 28,46%.
Di kawasan Amerika, indeks Dow Jones Industrial Average masih menguat 7,35% secara ytd meskipun pada perdagangan terakhir turun 2,19%. Indeks Brasil naik 7,92%, Kanada menguat 11,42%, Kolombia naik 11,44%, dan Meksiko meningkat 3,38%.
Di kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Afrika, indeks Polandia mencatatkan kenaikan 23,82%, Austria 19,70%, Turki 19,32%, Norwegia 18,84%, Spanyol 13,49%, Inggris 10,03%, dan Swiss 8,74%.
Kinerja IHSG yang masih tertinggal jauh dibandingkan bursa regional dan global memperlihatkan bahwa pasar saham Indonesia masih menghadapi tekanan besar sepanjang 2026. Namun, mulai masuknya kembali dana asing, menguatnya saham-saham bank, dan rendahnya valuasi pasar membuka peluang bagi terjadinya pemulihan lebih lanjut.
Broker Teraktif
Stockbit Sekuritas Digital menjadi anggota bursa dengan nilai transaksi terbesar, yakni Rp3,109 triliun atau 12,03% dari total nilai transaksi broker.
UBS Sekuritas Indonesia berada di posisi kedua dengan nilai transaksi Rp2,653 triliun, disusul Mandiri Sekuritas Rp2,426 triliun, Maybank Sekuritas Indonesia Rp1,500 triliun, dan CGS International Sekuritas Indonesia Rp1,349 triliun.
Mirae Asset Sekuritas Indonesia mencatatkan transaksi Rp1,338 triliun, KB Valbury Sekuritas Rp1,170 triliun, J.P. Morgan Sekuritas Indonesia Rp1,118 triliun, Indo Premier Sekuritas Rp905 miliar, dan Ajaib Sekuritas Asia Rp754 miliar.
Berdasarkan volume, KB Valbury Sekuritas berada di posisi pertama dengan 10,470 miliar saham, disusul Stockbit Sekuritas Digital sebanyak 10,415 miliar saham.
Dari sisi frekuensi, Stockbit Sekuritas Digital memimpin dengan 1,114 juta kali transaksi atau 32% dari keseluruhan frekuensi broker. Mandiri Sekuritas berada di posisi kedua dengan 314.125 transaksi, disusul Mirae Asset Sekuritas Indonesia sebanyak 225.265 transaksi.
Dua Saham Century Textile Delisting
Pada perdagangan 30 Juli 2026, BEI juga mencatat penghapusan pencatatan atau delisting saham PT Century Textile Industry Tbk dengan kode CNTX dan saham Seri B dengan kode CNTB.
CNTX pertama kali tercatat di BEI pada 22 Mei 1979. Harga perdagangan terakhirnya berada di level Rp142 dengan jumlah saham tercatat 70 juta lembar dan kapitalisasi pasar Rp9,94 miliar.
CNTB tercatat sejak 22 Desember 2000. Harga perdagangan terakhirnya sebesar Rp250, dengan jumlah saham tercatat 130 juta lembar dan kapitalisasi pasar Rp32,5 miliar.
Penguatan IHSG pada Kamis menjadi sinyal awal pemulihan kepercayaan investor. Masuknya kembali dana asing ke saham-saham bank memperlihatkan bahwa pelaku pasar mulai melihat potensi keuntungan dari saham berfundamental kuat yang harganya telah terkoreksi dalam.
Apabila aksi beli asing berlanjut, stabilitas rupiah terjaga, serta sentimen domestik membaik, saham-saham perbankan berpeluang menjadi motor utama pemulihan IHSG. Namun, dengan penurunan indeks yang masih mencapai 28,46% sejak awal tahun dan akumulasi net sell asing Rp71,74 triliun, perjalanan menuju pemulihan penuh masih membutuhkan penguatan kepercayaan investor secara konsisten.
