Asing Mulai Membeli Saham Bank
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Investor asing mulai kembali masuk ke pasar saham Indonesia setelah dalam beberapa bulan terakhir membukukan aksi jual dalam jumlah besar. Arus balik modal asing terlihat pada perdagangan Rabu (29/07/2026) ketika investor asing mencatatkan pembelian bersih atau foreign net buy sebesar Rp8,97 triliun.
Saham-saham perbankan berkapitalisasi besar turut menjadi pusat transaksi. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) masuk dalam daftar saham dengan nilai transaksi terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Berdasarkan IDX Daily Statistics edisi Rabu (29/07/2026), total pembelian bersih investor asing mencapai Rp8,974 triliun atau setara US$496,16 juta, menggunakan kurs acuan Bank Indonesia sebesar Rp18.087 per dolar Amerika Serikat.
Masuknya dana asing tersebut memang belum sepenuhnya menghapus arus keluar sejak awal tahun. Secara year-to-date (ytd), investor asing masih membukukan penjualan bersih sebesar Rp72 triliun atau sekitar US$3,98 miliar.
Namun, pembelian bersih hampir Rp9 triliun dalam satu hari menjadi sinyal awal bahwa investor global mulai kembali melirik aset Indonesia. Sehari sebelumnya, akumulasi foreign net sell masih berada di sekitar Rp80,97 triliun. Dengan demikian, aksi beli pada Rabu memangkas nilai penjualan bersih asing sepanjang tahun sekitar 11%.
Saham BBCA menempati posisi ketiga dalam daftar saham dengan nilai transaksi terbesar, yakni Rp842 miliar atau 3,67% dari keseluruhan nilai perdagangan saham di BEI. Saham bank swasta terbesar di Indonesia tersebut menguat 0,80% menjadi Rp6.275 per saham. Penguatan BBCA memberikan kontribusi positif sekitar 4,41 poin terhadap pergerakan IHSG dan menjadikannya saham penopang indeks terbesar pada perdagangan hari itu.
Sementara itu, BMRI membukukan nilai transaksi Rp557 miliar atau 2,43% dari total nilai perdagangan. Saham Bank Mandiri juga masuk dalam daftar saham dengan frekuensi perdagangan tertinggi, yaitu sebanyak 28.857 kali transaksi. Pada penutupan perdagangan, BMRI berada di level Rp4.090 per saham atau turun tipis 0,24%. Sejak awal tahun, saham BMRI masih terkoreksi sekitar 19,80%.
Saham BBRI mencatatkan nilai transaksi Rp387 miliar atau 1,68% dari nilai perdagangan harian. Harga saham bank dengan basis pembiayaan usaha mikro terbesar tersebut ditutup turun 0,34% ke posisi Rp2.920 per saham. Secara ytd, BBRI masih melemah sekitar 20,22%. Adapun saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) ditutup pada harga sekitar Rp3.460 per saham, melemah 0,57%.
Tingginya nilai transaksi BBCA, BMRI, dan BBRI memperlihatkan bahwa saham bank besar kembali menjadi salah satu pusat aktivitas perdagangan. Saham perbankan biasanya menjadi pilihan utama investor institusi karena memiliki kapitalisasi pasar besar, likuiditas tinggi, tata kelola relatif kuat, serta fundamental yang lebih mudah dianalisis.
Baca Juga
Kendati demikian, statistik harian BEI yang dipublikasikan tersebut hanya menyajikan pembelian bersih asing secara agregat untuk seluruh pasar. Data itu belum memerinci pembelian bersih investor asing pada setiap saham. Karena itu, tingginya transaksi saham bank belum dapat seluruhnya disebut sebagai pembelian asing tanpa melihat data foreign flow masing-masing emiten.
Kombinasi antara foreign net buy yang besar, tingginya transaksi saham perbankan, dan menguatnya BBCA menunjukkan mulai tumbuhnya minat terhadap saham-saham berkapitalisasi besar.
Valuasi Bank Sudah Tertekan
Saham-saham bank besar telah mengalami koreksi cukup dalam sejak awal 2026. BBCA tercatat masih turun sekitar 22,29% secara ytd, BBRI terkoreksi 20,22%, sedangkan BMRI melemah 19,80%.
Penurunan tersebut membuat harga saham bank berada jauh di bawah posisi awal tahun. Koreksi harga juga berpotensi membuat valuasi saham perbankan menjadi lebih menarik, terutama apabila laba, kualitas aset, likuiditas, dan pertumbuhan kredit tetap terjaga.
Dengan harga penutupan Rp6.275, kapitalisasi pasar BBCA mencapai sekitar Rp766 triliun atau 7,17% dari seluruh kapitalisasi pasar BEI. BBCA masih menjadi perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di bursa.
BBRI berada di posisi keempat dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp438 triliun atau 4,10% dari total kapitalisasi pasar, sedangkan BMRI berada di posisi keenam dengan kapitalisasi pasar Rp378 triliun atau 3,54%.
Secara gabungan, kapitalisasi pasar BBCA, BBRI, dan BMRI mencapai sekitar Rp1.582 triliun. Besarnya bobot ketiga saham tersebut membuat perubahan harga saham bank sangat berpengaruh terhadap arah IHSG.
Tidak mengherankan apabila kembalinya dana asing ke pasar Indonesia biasanya diawali dengan pembelian saham-saham bank besar. Selain likuid, saham perbankan juga kerap digunakan investor global sebagai proksi untuk mengambil posisi terhadap prospek ekonomi Indonesia.
IHSG Masih Turun
Meskipun investor asing membukukan pembelian bersih besar, IHSG masih ditutup melemah 39,202 poin atau 0,64% ke level 6.091,386. IHSG sempat menguat ke posisi tertinggi 6.174,413, tetapi kemudian turun hingga menyentuh level terendah 6.029,324 sebelum berakhir di posisi 6.091,386. Pada perdagangan sebelumnya, IHSG ditutup di level 6.130,588.
Sebanyak 278 saham atau sekitar 29% dari saham yang diperdagangkan ditutup menguat. Sebanyak 285 saham atau 30% melemah, 216 saham naik lebih dari 2%, sedangkan 109 saham turun antara 0% dan 2%. Sebanyak 77 saham atau 8% mengalami penurunan lebih dari 2%.
Tekanan terhadap indeks terutama berasal dari saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), dan sejumlah saham komoditas serta infrastruktur.
Sebaliknya, BBCA menjadi penopang terbesar indeks, disusul PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA), dan PT Multipolar Technology Tbk (MLPT).
Transaksi Pasar Mencapai Rp22,96 Triliun
Total volume transaksi saham mencapai 38,803 miliar lembar dengan nilai perdagangan Rp22,956 triliun atau sekitar US$1,269 miliar. Frekuensi transaksi mencapai 1,956 juta kali.
Nilai perdagangan tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata harian sepanjang 2026 yang mencapai Rp22,615 triliun. Namun, volume perdagangan masih sedikit di bawah rata-rata harian ytd sebesar 39,598 miliar saham.
Kapitalisasi pasar BEI tercatat Rp10.675 triliun atau sekitar US$590 miliar. Setelah disesuaikan dengan jumlah saham beredar bebas atau free float adjusted, kapitalisasi pasar IHSG mencapai Rp2.650 triliun atau sekitar US$147 miliar.
Valuasi pasar secara keseluruhan berada pada rasio harga terhadap laba atau price to earnings ratio sebesar 12,74 kali. Sementara itu, rasio harga terhadap nilai buku atau price to book value tercatat 1,62 kali.
Valuasi tersebut menunjukkan harga saham Indonesia telah mengalami penurunan yang cukup signifikan. Sepanjang 2026, IHSG telah terkoreksi 29,55%.
Indeks LQ45 turun 28,36% secara ytd, IDX30 melemah 21,92%, sedangkan IDX80 jatuh 31,33%. Indeks IDX BUMN20 terkoreksi 19,90%, sementara indeks IDX High Dividend 20 melemah 17,18%.
Indeks IDX-PEFINDO Prime Bank, yang berisi saham-saham perbankan utama, justru menguat tipis 0,03% pada perdagangan Rabu. Meski demikian, indeks tersebut masih terkoreksi 20,35% sejak awal tahun.
Pergerakan ini memperlihatkan bahwa saham bank mulai menunjukkan daya tahan lebih baik dibandingkan pasar secara keseluruhan. Ketika IHSG melemah 0,64%, indeks bank utama masih mampu bertahan di zona positif.
Transaksi Jumbo MAPI
Besarnya pembelian bersih asing pada perdagangan Rabu (29/07/2026) juga perlu dibaca secara hati-hati karena nilai transaksi pasar terkonsentrasi pada saham PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI).
Nilai transaksi saham MAPI mencapai Rp9,329 triliun atau 40,64% dari seluruh nilai perdagangan saham di BEI. Volume transaksi MAPI tercatat 6,019 miliar saham atau 15,51% dari total volume perdagangan. Saham MAPI ditutup naik 2,80% dan menjadi salah satu penopang IHSG. Besarnya transaksi tersebut mengindikasikan adanya transaksi jumbo yang kemungkinan berlangsung di pasar negosiasi.
Secara keseluruhan, transaksi di pasar reguler mencapai Rp12,152 triliun, sedangkan nilai transaksi di pasar negosiasi mencapai Rp10,804 triliun. Karena itu, sebagian besar foreign net buy hari tersebut berpotensi berkaitan dengan transaksi besar di luar pasar reguler.
Faktor tersebut penting diperhatikan agar pembelian bersih asing Rp8,97 triliun tidak langsung ditafsirkan sebagai arus modal asing yang tersebar merata ke seluruh saham.
Namun, tetap masuknya BBCA, BMRI, dan BBRI ke jajaran saham dengan nilai perdagangan terbesar memperlihatkan bahwa saham perbankan kembali aktif ditransaksikan di tengah meningkatnya aktivitas investor asing.
Sektor Keuangan Relatif Bertahan
Indeks sektor keuangan turun 0,45% pada perdagangan Rabu, lebih baik dibandingkan pelemahan IHSG sebesar 0,64%. Secara ytd, sektor keuangan terkoreksi 14,36%, jauh lebih kecil dibandingkan penurunan IHSG sebesar 29,55%.
Sektor keuangan bahkan menjadi salah satu sektor dengan penurunan paling terbatas sepanjang tahun. Sebagai perbandingan, sektor properti dan real estat jatuh 35,66%, energi turun 34,97%, infrastruktur melemah 34,60%, dan sektor kesehatan terkoreksi 32,47%.
Kinerja relatif lebih baik tersebut menunjukkan bahwa saham-saham keuangan, khususnya bank besar, tetap memiliki daya tahan di tengah tekanan pasar.
Di tengah koreksi tajam harga saham, fundamental bank-bank besar masih ditopang basis nasabah yang luas, pendapatan bunga dan pendapatan berbasis komisi, kualitas aset yang relatif terkendali, serta permodalan yang kuat.
Karena itu, ketika investor asing kembali membangun posisi di pasar Indonesia, saham bank berkapitalisasi besar berpotensi menjadi sasaran utama.
Bursa Indonesia Tertinggal
Koreksi 29,55% sejak awal tahun menempatkan IHSG sebagai salah satu indeks dengan kinerja terburuk di antara 36 bursa dunia yang dibandingkan BEI.
Di kawasan ASEAN, kinerja Indonesia hanya lebih baik berdasarkan peringkat harian tertentu, tetapi secara persentase penurunan ytd menjadi yang terdalam. Bursa Thailand justru menguat 28,96%, Singapura naik 22,96%, Filipina bertambah 4,96%, dan Malaysia menguat 2,11%. Bursa Vietnam turun 5,82%.
Di kawasan Asia Pasifik, indeks Taiwan naik 38,24%, Korea Selatan menguat 34,39%, dan Nikkei Jepang bertambah 22,04%. Sementara itu, indeks India melemah 8,86% dan Shanghai Composite turun 3,54%.
Kesenjangan kinerja tersebut membuat valuasi saham Indonesia menjadi relatif lebih murah dibandingkan sejumlah pasar regional. Akan tetapi, kemurahan valuasi belum otomatis menarik arus modal secara berkelanjutan tanpa perbaikan kepercayaan investor.
Investor masih akan memperhatikan stabilitas rupiah, arah suku bunga, kebijakan fiskal, kualitas tata kelola, kepastian hukum, serta konsistensi kebijakan pemerintah.
Sinyal Awal, Belum Menjadi Tren
Pembelian bersih asing Rp8,97 triliun merupakan perkembangan positif setelah tekanan jual asing yang panjang. Namun, satu hari pembelian belum cukup untuk menyimpulkan bahwa arus modal asing telah sepenuhnya berbalik arah.
Konfirmasi pembalikan akan terlihat apabila investor asing terus mencatatkan pembelian bersih dalam beberapa hari atau beberapa pekan, terutama di pasar reguler dan pada saham-saham berkapitalisasi besar.
Investor juga perlu mencermati apakah pembelian asing tersebar pada saham bank, telekomunikasi, barang konsumsi, dan emiten berfundamental kuat, atau hanya berasal dari satu transaksi besar di pasar negosiasi.
Jika arus beli berlanjut, saham-saham bank besar berpeluang menjadi penerima manfaat utama. Harga BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI telah terkoreksi cukup dalam dan kini berada pada tingkat yang semakin menarik dibandingkan posisi awal tahun.
Masuknya kembali modal asing juga berpotensi memperbaiki likuiditas pasar, mendorong penguatan rupiah, dan membantu IHSG keluar dari tekanan.
Satu hari foreign net buy belum dapat disebut sebagai pembalikan permanen. Namun, setelah asing menjual saham Indonesia puluhan triliun rupiah, pembelian bersih hampir Rp9 triliun menjadi sinyal yang tidak dapat diabaikan. Apabila kepercayaan investor terus membaik, saham-saham bank besar kemungkinan kembali menjadi pintu utama masuknya modal asing ke Bursa Efek Indonesia.
