Prospek UNVR Masih Menarik, Target Harga Rp 2.200
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), meski memangkas target harga menjadi Rp 2.200 per saham dari sebelumnya Rp 2.500. Dibandingkan harga penutupan sesi I perdagangan Rabu (29/7/2026) di level Rp 1.690, target tersebut berpotensi naik (upside) sekitar 30,2%.
Dalam risetnya, BRI Danareksa menilai valuasi saham UNVR masih menarik. Target harga Rp2.200 didasarkan pada valuasi price-to-earnings (P/E) 19,8 kali untuk proyeksi laba 2026 atau sekitar 0,5 standar deviasi di bawah rata-rata historis tiga tahun. Sementara itu, saham UNVR saat ini diperdagangkan pada valuasi sekitar 14,9 kali P/E 2026, atau sekitar satu standar deviasi di bawah rata-rata historisnya.
BRI Danareksa menyebut penurunan target harga dilakukan setelah menyesuaikan proyeksi kinerja pasca rilis laporan keuangan semester I-2026. Meski demikian, rumah riset tersebut tetap optimistis terhadap prospek UNVR karena pertumbuhan volume penjualan yang kuat pada kuartal II-2026 dinilai mampu menopang pertumbuhan laba sesuai ekspektasi.
Menurut BRI Danareksa, pendapatan UNVR pada kuartal II-2026 naik 11,6% secara tahunan menjadi Rp 10,2 triliun, didorong kenaikan volume sebesar 12,7%. Segmen Home & Personal Care (HPC) menjadi pendorong utama dengan pertumbuhan pendapatan domestik 12,4% dan kenaikan volume 14,2%, sementara segmen Foods & Refreshment (F&R) mencatat pertumbuhan pendapatan domestik 7,3% dan volume 8,7%.
Baca Juga
Intip Target Terbaru Saham Unilever (UNVR) Ditengah Peluang Dividen dan Divestasi
Kinerja tersebut membuat pendapatan inti perseroan pada semester I-2026 tumbuh 7,1% secara tahunan dan laba inti naik 3,9%, sejalan dengan ekspektasi BRI Danareksa. Adapun laba bersih melonjak 37,8% menjadi Rp870 miliar, terutama ditopang keuntungan satu kali (one-off gain) dari divestasi bisnis es krim Wall’s serta penghentian operasi di Sarwaging.
Terlebih, BRI Danareksa memperkirakan margin perseroan akan membaik pada kuartal III-2026. Margin kotor semester I-2026 memang turun menjadi 46,6% dari 45% pada kuartal II-2026 akibat tingginya biaya transformasi dan kenaikan sejumlah biaya bahan baku. Namun, manfaat dari kenaikan harga jual (ASP) yang diterapkan pada awal Juni diperkirakan mulai terlihat pada kuartal III-2026 dan membantu memperbaiki profitabilitas.
Tak hanya itu, biaya transformasi diproyeksikan turun sekitar 30%-40% sepanjang 2026. Beban tersebut diperkirakan masih relatif tinggi pada kuartal III sebelum turun lebih signifikan pada kuartal IV-2026. Perusahaan juga tetap fokus mengendalikan biaya operasional dan mengoptimalkan investasi di tengah potensi volatilitas akibat konflik di Timur Tengah.
Meski memangkas proyeksi laba 2026-2027 sekitar 0,7%-3,6%, BRI Danareksa tetap memperkirakan pendapatan dan laba bersih UNVR pada 2026 masing-masing tumbuh 5,8% dan 12,9%. Perseroan juga berkomitmen membagikan seluruh keuntungan bersih dari divestasi bisnis es krim Wall’s kepada pemegang saham pada tahun buku 2026.
Sementara itu, pemisahan segmen Foods & Refreshment tetap berjalan sesuai rencana, termasuk transaksi yang diusulkan dengan McCormick untuk merek Bango dan Royco.
Adapun sejumlah risiko yang perlu dicermati antara lain cuaca El Niño yang berkepanjangan, meningkatnya ketegangan geopolitik yang berpotensi mengganggu rantai pasok dan menaikkan biaya bahan baku, serta permintaan konsumen yang lebih lemah dari perkiraan.
