Sekitar 80% Emiten Raup Laba, Tapi IHSG Jatuh 29% dan Net Sell Tembus Rp 80 T
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Ada paradoks besar di pasar modal Indonesia sepanjang 2026. Sekitar 80% emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) berhasil membukukan laba bersih pada kuartal I-2026, persentase tertinggi dalam lima tahun terakhir. Secara agregat, laba perusahaan tercatat tumbuh sekitar 29,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun, kuatnya kinerja laba korporasi itu belum mampu menahan kejatuhan pasar. Investor asing terus menarik dana dari Bursa Efek Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun terperosok lebih dari 29% sejak awal tahun dan menjadi indeks dengan kinerja paling buruk di kawasan ASEAN.
Berdasarkan IDX Daily Statistics edisi Selasa, 28 Juli 2026, investor asing kembali mencatatkan penjualan bersih atau net sell sebesar Rp1,065 triliun dalam perdagangan hari itu. Tambahan aksi jual tersebut membuat akumulasi net sell asing sejak awal tahun menembus Rp80,974 triliun, setara sekitar US$4,48 miliar.
Pada perdagangan Selasa, IHSG ditutup turun 55,20 poin atau 0,89% ke posisi 6.130,588. Indeks sempat bergerak ke level tertinggi 6.199,440 sebelum berakhir tepat pada titik terendah hariannya. Nilai transaksi saham mencapai Rp10,91 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 24,14 miliar saham dalam 1,66 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar BEI turun menjadi Rp10.752,6 triliun.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mendasar. Apabila mayoritas perusahaan masih menghasilkan laba dan keuntungan korporasi tumbuh hampir 30%, mengapa investor asing justru meninggalkan pasar dan harga saham jatuh begitu dalam?
Kinerja emiten pada kuartal I-2026 sesungguhnya menunjukkan bahwa fondasi korporasi Indonesia masih relatif kuat. Delapan dari setiap sepuluh emiten masih mampu membukukan keuntungan.
Sektor perbankan menjadi penyumbang laba terbesar, terutama melalui tiga bank berkapitalisasi besar. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BBRI membukukan laba bersih sekitar Rp15,5 triliun. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk atau BMRI mencatat laba sekitar Rp15,4 triliun, sedangkan PT Bank Central Asia Tbk atau BBCA menghasilkan laba sekitar Rp14,6 triliun.
Besarnya laba ketiga bank tersebut menunjukkan bahwa sektor finansial masih menjadi tulang punggung profitabilitas korporasi nasional. Pertumbuhan kredit, pendapatan bunga, pendapatan berbasis komisi, serta kualitas aset yang relatif terjaga membuat bank-bank besar tetap mampu mencetak keuntungan di tengah tekanan ekonomi dan pasar.
Ironisnya, saham-saham perbankan besar justru menjadi salah satu sasaran utama tekanan jual. Hingga 28 Juli 2026, saham BBCA telah terkoreksi 22,91% sejak awal tahun. BBRI turun 19,95%, sedangkan BMRI melemah 19,61%.
Ketiga saham tersebut memiliki bobot besar dalam pembentukan IHSG. Akibatnya, penurunan harga saham bank-bank besar memberikan tekanan yang jauh lebih kuat terhadap indeks dibandingkan koreksi saham berkapitalisasi kecil.
Baca Juga
IHSG Ditutup Kembali Anjlok 0,89%, Mayoritas Sektor Saham Terjungkal
Pada perdagangan Selasa, BBCA kembali menjadi salah satu kontributor negatif terbesar terhadap IHSG. Saham tersebut turun 1,19% dan menyumbang penurunan sekitar 6,62 poin terhadap indeks. BMRI turun 1,44% dengan kontribusi negatif 4,90 poin, sementara BBRI melemah 0,68% dan menekan indeks sekitar 2,92 poin.
IHSG Jatuh 29%
Secara kumulatif, IHSG telah kehilangan 29,10% nilainya sejak awal tahun hingga penutupan 28 Juli 2026. Penurunan tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu pasar saham dengan performa terburuk di dunia.
Tekanan tidak hanya terjadi pada indeks utama. Hampir seluruh indeks acuan Bursa Efek Indonesia mengalami penurunan tajam.
Indeks LQ45 melemah 28,18% sejak awal tahun. IDX30 turun 21,76%, IDX80 jatuh 31,09%, KOMPAS100 merosot 33%, sedangkan Jakarta Islamic Index atau JII mencatatkan penurunan paling dalam sebesar 37%. Indeks Pefindo I-Grade juga jatuh 33,29%, ISSI terkoreksi 31,37%, JII70 turun 33,20%, sementara indeks ESG Leaders merosot 27,83%.
Data tersebut memperlihatkan bahwa koreksi pasar tidak hanya terjadi pada saham spekulatif atau emiten tertentu, tetapi menjalar ke saham-saham unggulan, saham syariah, saham berkapitalisasi besar, serta emiten dengan peringkat investasi tinggi.
Semua Sektor Masih Merah
Tekanan juga berlangsung hampir merata pada seluruh sektor industri di Bursa Efek Indonesia. Sektor energi mengalami penurunan paling dalam sebesar 34,14% sejak awal tahun. Sektor properti dan real estat merosot 33,84%, infrastruktur turun 33,62%, dan kesehatan terkoreksi 32,52%.
Sektor teknologi melemah 28,59%, barang konsumsi siklikal turun 25,94%, industri terkoreksi 25,22%, dan bahan baku merosot 22,01%. Sektor transportasi dan logistik turun 16,87%, barang konsumsi primer melemah 15,62%, sedangkan sektor finansial terkoreksi 13,97%.
Sektor finansial memang mencatatkan penurunan paling ringan dibandingkan banyak sektor lainnya. Namun, karena saham-saham bank besar memiliki bobot dominan dalam indeks, koreksi di sektor ini tetap memberikan tekanan besar terhadap IHSG.
Dengan demikian, penurunan IHSG tidak dapat dijelaskan hanya oleh satu sektor. Kejatuhan pasar telah berlangsung secara luas dan mencerminkan melemahnya selera risiko investor terhadap hampir seluruh kelompok saham.
Terburuk di ASEAN
Jika dibandingkan dengan bursa saham negara lain, kinerja Indonesia terlihat semakin tertinggal. Hingga 28 Juli 2026, indeks Thailand justru melonjak 28,96% sejak awal tahun. Indeks Singapura menguat 20,88%, Filipina naik 4,15%, dan Malaysia bertambah 1,93%.
Vietnam memang masih berada di zona negatif, tetapi penurunannya hanya 6,47%, jauh lebih ringan dibandingkan kejatuhan IHSG sebesar 29,10%. Dengan kondisi tersebut, IHSG menjadi indeks dengan kinerja paling buruk di antara enam bursa utama ASEAN yang dicatatkan dalam statistik BEI.
Secara global, posisi Indonesia juga berada di kelompok terbawah. Bursa Taiwan melonjak 43,64%, Korea Selatan naik 42,94%, Jepang menguat 23,89%, Polandia bertambah 22,91%, dan Turki naik 23,14%.
Baca Juga
IHSG Cenderung Lanjutkan Pelemahan, Sebaliknya Saham TAPG hingga KOTA Layak Dilirik
Bursa Amerika Serikat dan Eropa juga umumnya masih mencatatkan pertumbuhan positif. Dow Jones naik 8,63%, indeks Jerman DAX menguat 3,84%, CAC 40 Prancis naik 3,34%, sedangkan FTSE 100 Inggris meningkat 8,99%.
Di antara 36 bursa dunia yang dibandingkan, IHSG berada di peringkat ke-35 berdasarkan kinerja sejak awal tahun. Artinya, hanya sedikit pasar yang mencatatkan performa lebih buruk daripada Indonesia.
Pasar Membeli Masa Depan
Perbedaan arah antara pertumbuhan laba perusahaan dan penurunan harga saham dapat dijelaskan oleh karakter dasar pasar modal. Pasar tidak hanya menilai laba yang telah dicapai perusahaan, tetapi terutama memperhitungkan prospek laba, arus kas, risiko, suku bunga, nilai tukar, dan pertumbuhan ekonomi pada masa mendatang.
Laporan keuangan kuartal I-2026 menggambarkan apa yang telah terjadi selama tiga bulan pertama tahun ini. Sebaliknya, harga saham mencerminkan perkiraan investor mengenai kondisi perusahaan dan perekonomian pada kuartal-kuartal berikutnya.
Dengan kata lain, laba yang besar pada masa lalu belum tentu cukup untuk menaikkan harga saham apabila investor memperkirakan pertumbuhan keuntungan akan melambat, margin perusahaan menyempit, biaya dana meningkat, atau risiko ekonomi membesar.
Di sinilah letak paradoks pasar modal Indonesia. Fundamental sebagian besar emiten masih relatif sehat, tetapi persepsi investor terhadap masa depan belum sepenuhnya pulih.
Dana Asing Keluar
Net sell asing yang telah menembus Rp80,97 triliun menunjukkan bahwa tekanan terhadap IHSG bukan semata-mata berasal dari kondisi fundamental emiten, tetapi juga dari perpindahan alokasi modal global.
Investor asing memiliki pengaruh besar terhadap pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar. Ketika investor global mengurangi eksposur terhadap Indonesia, saham-saham utama seperti BBCA, BBRI, BMRI, TLKM, dan emiten besar lainnya menjadi sasaran penjualan. Aksi jual asing tersebut kemudian menekan harga saham, menurunkan kapitalisasi pasar, dan memperbesar koreksi IHSG.
Tingginya suku bunga internasional membuat investor global semakin selektif menempatkan dana di pasar negara berkembang. Ketika imbal hasil aset berdenominasi dolar AS masih menarik, investor cenderung mengurangi investasi pada aset yang dianggap lebih berisiko.
Ketegangan geopolitik, risiko perdagangan internasional, volatilitas harga energi, dan ketidakpastian pertumbuhan ekonomi dunia juga mendorong investor mencari instrumen yang dianggap lebih aman.
Di dalam negeri, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, perlambatan aktivitas manufaktur, pelemahan daya beli, serta kekhawatiran terhadap prospek pertumbuhan ikut memengaruhi persepsi risiko.
Investor pada akhirnya tidak hanya menilai berapa besar laba yang telah dibukukan emiten, tetapi juga mempertimbangkan apakah keuntungan itu dapat dipertahankan dalam situasi ekonomi yang lebih menantang.
Sentimen Mengalahkan Fundamental
Kondisi pasar saham Indonesia sepanjang 2026 menunjukkan divergensi yang lebar antara fundamental korporasi dan sentimen pasar. Di satu sisi, sekitar 80% emiten masih menghasilkan laba. Secara agregat, keuntungan perusahaan tumbuh sekitar 29,9%. Sejumlah bank besar bahkan membukukan laba di atas Rp14 triliun hanya dalam satu kuartal.
Namun, pada saat yang sama, IHSG jatuh 29,10% dan investor asing mencatatkan net sell lebih dari Rp80 triliun. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa harga saham tidak selalu bergerak searah dengan laba yang telah dilaporkan. Ketika ketidakpastian meningkat, pasar dapat mengabaikan kinerja masa lalu dan lebih berfokus pada risiko masa depan.
Fenomena tersebut juga menjelaskan mengapa laporan laba yang besar tidak otomatis mengangkat harga saham. Dalam banyak kasus, laba perusahaan mungkin telah sesuai dengan ekspektasi pasar, tetapi tidak cukup tinggi untuk mengimbangi kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi, tekanan rupiah, atau kenaikan biaya usaha.
Pasar mengenal istilah buy on expectation, sell on news. Investor membeli saham ketika memperkirakan hasil yang baik, lalu menjualnya ketika laporan keuangan diumumkan dan tidak memberikan kejutan positif. Karena itu, yang menentukan bukan hanya apakah perusahaan mencetak laba, tetapi apakah laba tersebut melampaui perkiraan dan dapat terus bertumbuh.
Harga Saham Semakin Murah
Ironisnya, kejatuhan pasar telah membuat valuasi saham Indonesia semakin rendah. Bursa Efek Indonesia mencatat price to earnings ratio atau PER pasar sebesar 12,69 kali, sedangkan price to book value atau PBV berada pada level 1,63 kali.
PER menggambarkan perbandingan harga saham terhadap laba perusahaan. Semakin rendah PER, semakin murah harga yang dibayar investor untuk setiap rupiah laba yang dihasilkan emiten.
Adapun PBV membandingkan harga saham dengan nilai buku perusahaan. PBV sebesar 1,63 kali menunjukkan bahwa secara rata-rata saham di Bursa Efek Indonesia diperdagangkan pada harga sekitar 1,63 kali nilai bukunya.
Valuasi tersebut menunjukkan bahwa pasar telah mendiskontokan sebagian besar risiko yang dikhawatirkan investor. Banyak saham unggulan kini diperdagangkan jauh lebih murah dibandingkan pada awal tahun.
Namun, saham murah tidak selalu langsung menarik pembeli. Investor tetap membutuhkan kepastian bahwa laba emiten tidak akan menurun, rupiah dapat distabilkan, inflasi tetap terkendali, dan kebijakan ekonomi berjalan konsisten.
Dengan demikian, valuasi murah merupakan syarat penting bagi pemulihan pasar, tetapi belum cukup tanpa perbaikan sentimen dan kepercayaan.
Menunggu Kembalinya Kepercayaan
Ke depan, arah IHSG akan sangat ditentukan oleh kemampuan pemerintah, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, serta otoritas pasar modal memulihkan kepercayaan investor. Pasar membutuhkan stabilitas nilai tukar, kepastian regulasi, disiplin fiskal, konsistensi kebijakan, penguatan tata kelola, serta bukti bahwa pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.
Investor juga menunggu konfirmasi bahwa pertumbuhan laba kuartal I-2026 bukan sekadar pencapaian sesaat, tetapi dapat dipertahankan pada kuartal berikutnya. Apabila laba korporasi tetap kuat, rupiah lebih stabil, risiko kebijakan menurun, dan dana asing kembali masuk, selisih antara fundamental dan harga saham dapat mulai menyempit.
Dalam kondisi tersebut, valuasi pasar yang telah turun ke PER 12,69 kali dan PBV 1,63 kali dapat menjadi dasar terjadinya re-rating atau penilaian kembali terhadap saham-saham Indonesia.
Pada akhirnya, kejatuhan IHSG tidak berarti perusahaan Indonesia berhenti menghasilkan keuntungan. Tahun 2026 justru menunjukkan bahwa pasar dapat jatuh ketika sentimen mengalahkan fundamental, arus modal global bergerak keluar, dan investor lebih takut terhadap masa depan daripada tertarik pada laba yang telah dibukukan.
Delapan dari sepuluh emiten masih mencetak laba, tetapi pasar belum membeli laba hari ini. Pasar sedang menunggu kepastian bahwa laba itu tetap tumbuh esok hari. (PD)
