Upbit: Kripto Tepat sebagai Pelengkap Portofolio, Bukan Pengganti Instrumen Lain
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Upbit Indonesia mengingatkan investor untuk tidak menempatkan seluruh dana pada satu instrumen investasi di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global dan tingginya volatilitas pasar. Diversifikasi portofolio dan pengelolaan risiko dinilai menjadi strategi penting agar keputusan investasi tetap sesuai dengan tujuan keuangan dan profil risiko masing-masing.
CEO Upbit Indonesia Resna Raniadi mengatakan investor kerap melakukan kesalahan dengan memusatkan seluruh dana pada aset yang sedang naik atau dianggap paling aman tanpa memahami risiko yang menyertainya.
"Ketidakpastian sering membuat investor tergoda memindahkan seluruh dana ke aset yang sedang naik atau dianggap paling aman. Padahal, tidak ada satu instrumen yang dapat menjadi jawaban untuk semua kondisi ekonomi. Setiap keputusan perlu disesuaikan dengan tujuan keuangan, jangka waktu, kebutuhan likuiditas, dan toleransi risiko masing-masing," kata Resna dalam keterangannya, Selasa (28/7/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah proyeksi Bank Indonesia yang memperkirakan ketidakpastian ekonomi global masih tinggi pada 2026. Pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan berada di kisaran 3,0% dengan inflasi global sekitar 4,4%. Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia mencapai 3,34% secara tahunan pada Juni 2026.
Baca Juga
Upbit Indonesia Perluas Literasi Blockchain dan Web3 Lewat Edukasi di Ambon
Menurut Resna, kondisi tersebut dapat mendorong investor mencari instrumen yang dinilai mampu menjaga nilai aset maupun memberikan potensi pertumbuhan. Namun, keputusan investasi yang hanya didasarkan pada tren pasar berpotensi meningkatkan risiko karena terlalu bergantung pada satu jenis aset.
Ia menjelaskan, investor dapat membangun portofolio yang lebih seimbang dengan mempertimbangkan berbagai kelas aset, seperti emas, instrumen pendapatan tetap, saham, properti, hingga aset digital. Masing-masing instrumen memiliki karakteristik, tingkat likuiditas, potensi imbal hasil, dan risiko yang berbeda.
Resna menilai aset kripto, termasuk Bitcoin, mulai dipertimbangkan sebagai salah satu komponen portofolio investasi karena memberikan akses terhadap pasar global dan perkembangan teknologi blockchain. Meski demikian, tingginya volatilitas membuat aset digital tidak dapat dijadikan satu-satunya instrumen investasi.
"Kripto dapat dipertimbangkan sebagai salah satu bagian dari portofolio yang terdiversifikasi, bukan sebagai pengganti seluruh instrumen investasi lainnya. Investor perlu memahami aset yang dibeli dan membatasi alokasinya sesuai kemampuan dalam menanggung risiko," ujarnya.
Baca Juga
Sambut Bulan Literasi Kripto 2026, Upbit Indonesia Perkuat Edukasi Kripto
Selain mendorong diversifikasi, Upbit Indonesia juga mengingatkan investor agar menghindari keputusan emosional, seperti membeli aset karena fear of missing out (FOMO) atau menjual secara panik saat harga turun. Investor disarankan tetap berpegang pada tujuan keuangan, melakukan riset mandiri, serta memahami aspek fundamental aset, termasuk teknologi, likuiditas, keamanan, rekam jejak proyek, dan legalitas platform yang digunakan.
Bagi investor pemula, Upbit Indonesia menyarankan investasi dilakukan secara bertahap dan tidak menggunakan dana darurat, dana kebutuhan sehari-hari, maupun dana hasil utang untuk membeli aset kripto.
"Literasi keuangan dan manajemen risiko tetap menjadi fondasi utama dalam menghadapi ketidakpastian. Yang terpenting bukan mengikuti aset yang sedang populer, tetapi membangun portofolio yang sesuai dengan kebutuhan pribadi, tetap disiplin, dan terus meningkatkan pemahaman sebelum mengambil keputusan," tutup Resna.
