BlackRock Sebut Bitcoin Tetap Layak Jadi Instrumen Diversifikasi Portofolio, Meski AI Sedot Dana Investor
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Raksasa manajer aset dunia, BlackRock merekomendasikan alokasi investasi sebesar 1%-2% ke Bitcoin dalam portofolio investor. Perusahaan menilai porsi kecil tersebut dapat meningkatkan potensi imbal hasil tanpa menambah risiko secara berlebihan.
Rekomendasi tersebut disampaikan BlackRock pada Selasa (23/6/2026) melalui akun media sosial resminya yang merujuk pada pandangan Michael Gates serta informasi terkait produk iShares Bitcoin Trust (IBIT). Dalam pernyataannya, BlackRock menyebut Bitcoin sebagai instrumen diversifikasi pelengkap yang perannya dalam portofolio investasi terus berkembang.
Meski demikian, BlackRock mengakui bahwa minat investor terhadap sektor kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) saat ini menjadi tantangan bagi pasar kripto. Kepala Aset Digital BlackRock, Robbie Mitchnick, mengatakan arus modal investor dalam beberapa waktu terakhir lebih banyak mengalir ke sektor AI dibandingkan aset digital.
Menurut Mitchnick dikutip dari Cryptopolitan, Rabu (24/6/2026) tren tersebut tidak hanya menekan Bitcoin, tetapi juga berbagai aset alternatif lain seperti emas dan logam mulia. Ia menyebut momentum investasi AI telah menyedot sebagian besar perhatian dan dana investor global.
Data pasar menunjukkan tekanan tersebut tercermin pada kinerja ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat yang mencatat arus keluar dana lebih dari US$ 7,8 miliar dalam 45 hari terakhir. Harga Bitcoin juga bergerak di kisaran US$ 62.100 per koin, turun signifikan dibandingkan posisi tertingginya yang sempat melampaui US$ 120.000 pada akhir tahun lalu.
Baca Juga
Bitcoin Terkoreksi Pasca FOMC, Investor Diimbau Tetap Fokus pada Fundamental
Produk IBIT milik BlackRock turut mengalami tekanan. Berdasarkan data SoSoValue, ETF tersebut mencatat arus keluar harian sekitar US$ 171,96 juta pada 22 Juni 2026, meskipun masih mengelola aset bersih mendekati US$ 49 miliar.
Di sisi lain, sejumlah peluang investasi berbasis AI seperti IPO SpaceX dan rencana IPO Anthropic dengan valuasi yang dilaporkan mencapai US$ 1 triliun semakin meningkatkan persaingan dalam perebutan dana investor institusi.
Meski menghadapi tekanan jangka pendek, BlackRock tetap optimistis terhadap prospek Bitcoin dalam jangka panjang. Mitchnick menilai meningkatnya utang pemerintah Amerika Serikat, defisit fiskal, dan risiko ekspansi moneter berpotensi menjadi katalis yang kembali mendorong permintaan terhadap Bitcoin dalam beberapa tahun mendatang.
Selain itu, BlackRock terus memperluas produk investasinya di sektor aset digital. Pada 16 Juni 2026, perusahaan meluncurkan iShares Bitcoin Premium Income ETF (BITA), yaitu ETF berbasis strategi covered call yang dirancang untuk menghasilkan pendapatan dari kepemilikan Bitcoin.
Dengan dana kelolaan global yang mencapai lebih dari US$ 12 triliun, rekomendasi alokasi Bitcoin sebesar 1%-2% dari BlackRock dinilai dapat memberikan dampak signifikan terhadap pasar aset digital apabila diikuti oleh investor institusi dalam skala luas.
Baca Juga
Konflik Timur Tengah Picu Aksi Jual, Bitcoin Kembali di Bawah Tekanan
Harga Tertekan
Sementara itu, harga Bitcoin mengalami tekanan dalam 24 jam terakhir di tengah berlanjutnya aksi jual investor global. Berdasarkan data CoinMarketCap pada Selasa (24/6/2026) pukul 07.50 WIB, Bitcoin diperdagangkan di level US$ 62.937 per koin atau turun 1,69% dalam sehari.
Meski harga terkoreksi, aktivitas perdagangan aset kripto terbesar di dunia tersebut justru meningkat. Volume transaksi Bitcoin dalam 24 jam terakhir mencapai US$ 29,93 miliar, melonjak 15,12% dibandingkan periode sebelumnya. Kenaikan volume perdagangan mengindikasikan tingginya aktivitas jual beli di tengah volatilitas pasar.
Secara kapitalisasi pasar, Bitcoin masih mendominasi industri aset digital dengan nilai mencapai sekitar US$ 1,26 triliun. Sementara itu, valuasi terdilusi penuh tercatat sebesar US$ 1,32 triliun dengan total pasokan beredar mencapai 20,04 juta BTC atau mendekati batas maksimal suplai Bitcoin sebanyak 21 juta BTC.
Koreksi harga Bitcoin terjadi di tengah meningkatnya persaingan aliran dana investasi ke sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang belakangan menjadi magnet baru bagi investor global. Sejumlah analis menilai sebagian modal yang sebelumnya mengalir ke aset kripto kini mulai bergeser ke saham dan instrumen investasi berbasis AI.
Meski demikian, dominasi pasar Bitcoin masih relatif kuat. Data CoinMarketCap menunjukkan rasio volume perdagangan terhadap kapitalisasi pasar berada di level 2,36%, mencerminkan likuiditas yang tetap terjaga di tengah tekanan harga.
