Saham BTPN Syariah (BTPS) Direkomendasikan Beli Dua Sekuritas Ini, Faktor Ini Diungkap
JAKARTA, investortrust.id – Prospek kinerja keuangan PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) dinilai masih positif, seiring membaiknya kualitas aset dan potensi pertumbuhan laba hingga dua digit pada 2026. Hal ini mendorong Mandiri Sekuritas dan BRI Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham BTPS dengan target harga hingga Rp 1.400 per saham.
Analis Mandiri Sekuritas Jason Louis, Kresna Hutabarat, dan Omar Abdulaziz mempertahankan rekomendasi beli saham BTPS dengan target harga Rp1.300 per saham. “BTPS membukukan pertumbuhan laba sebesar 2% pada semester I-2026 yang didorong oleh penurunan beban pencadangan (provision charges). Ke depan, manajemen memperkirakan pertumbuhan kredit akan berlanjut pada semester II-2026, didukung upaya diversifikasi portofolio,” tulis riset yang diterbitkan hari ini.
Mandiri Sekuritas menilai strategi diversifikasi tersebut akan menopang profitabilitas BTPS dalam jangka panjang. Di sisi lain, perbaikan kualitas aset diyakini dapat mendorong pertumbuhan laba dua digit hingga akhir tahun.
Baca Juga
Saham Perbankan Menarik! BRI Danareksa Tetapkan BBCA dan BTPS Jadi Pilihan Teratas
Sementara itu, analis BRI Danareksa Sekuritas Nataniella Eva Kezia dan Victor Stefano juga mempertahankan rekomendasi beli saham BTPS dengan target harga Rp 1.400 per saham.
BTPS mencatat laba bersih sebesar Rp 336 miliar pada kuartal II-2026 atau tumbuh 5% secara kuartalan (quarter-on-quarter/qoq) dan 1% secara tahunan (year-on-year/yoy). Dengan demikian, laba bersih semester I-2026 mencapai Rp 655 miliar atau meningkat 2%, dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Menurut BRI Danareksa, kinerja tersebut didukung oleh pemulihan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) secara kuartalan serta penurunan biaya kredit (cost of credit/CoC). Namun, beban operasional masih meningkat 3% secara kuartalan dan 7% secara tahunan, sehingga rasio biaya terhadap pendapatan (cost to income ratio/CIR) berada di level 52%.
Baca Juga
Ancora (OKAS) Ungkap Prospek Bisnis Masih Cerah, Meski Laba Semester I Tergerus
Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) tetap stabil di level 2,3%, sedangkan rasio Loan at Risk (LaR) membaik menjadi 5,0%. Tingkat pembayaran tepat waktu juga tetap terjaga di level 95,2%, sehingga mendukung penurunan biaya kredit selama kuartal II-2026.
Manajemen juga menyampaikan bahwa portofolio restrukturisasi kredit terkait bencana semakin membaik. Nilai kredit restrukturisasi yang masih dipantau turun menjadi Rp 171 miliar dari Rp 282 miliar pada Maret 2026. Dari jumlah tersebut, Rp 155 miliar berasal dari wilayah terdampak bencana di Sumatra, sementara sekitar dua pertiga debitur yang terdampak telah kembali melakukan pembayaran secara normal.
Memasuki semester II-2026, BRI Danareksa menilai manajemen tetap optimistis terhadap prospek kinerja perseroan. Meski perbaikan biaya kredit diperkirakan hanya berlangsung secara bertahap karena kebijakan pencadangan yang tetap konservatif, dampak kenaikan suku bunga Bank Indonesia diperkirakan relatif netral.
Baca Juga
IHSG Sesi I Ditutup Melemah 0,36%, Sebaliknya Saham DMMX, ZONE, dan MCAS Terbang
Hal itu didukung oleh potensi peningkatan pendapatan treasury dari penyesuaian imbal hasil atas aset likuid jangka pendek senilai Rp 11,9 triliun yang dapat mengimbangi kenaikan biaya dana. Sejalan dengan pencapaian semester I-2026, manajemen juga menaikkan proyeksi pertumbuhan laba bersih tahun 2026 dari sebelumnya tumbuh satu digit tinggi menjadi tumbuh dua digit.
Selain itu, inisiatif baru seperti Individual Financing, Wealth Management, dan pembiayaan kepada lembaga keuangan nonbank (NBFI) diperkirakan mulai memberikan kontribusi terhadap kinerja perseroan dalam waktu dekat.
Dengan prospek pertumbuhan laba yang lebih kuat, kualitas aset yang terus membaik, serta strategi diversifikasi bisnis yang berjalan, Mandiri Sekuritas dan BRI Danareksa Sekuritas sama-sama mempertahankan rekomendasi beli saham BTPS dengan target harga masing-masing Rp1.300 dan Rp1.400 per saham.
