Lima Exchange Kripto Terbesar Kuasai Likuiditas Global, Siapa Saja yang Punya Afiliasi di Indonesia?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indonesia semakin menjadi pasar strategis bagi pelaku industri aset kripto global. Dari lima pedagang (exchange) kripto terpusat (centralized exchange/CEX) terbesar di dunia berdasarkan volume perdagangan, Binance dan Bybit telah memperkuat afiliasi serta kehadirannya di Indonesia. Sedangkan OKX, Coinbase, dan Kraken hingga kini belum memiliki entitas perdagangan aset kripto yang berizin di Tanah Air.
Berdasarkan data CoinMarketCap dan CoinGecko, Binance masih menjadi bursa kripto terbesar di dunia dengan volume perdagangan spot sekitar US$7,5 miliar dalam 24 jam, disusul Bybit, OKX, Coinbase, dan Kraken. Selain volume transaksi, pemeringkatan juga mempertimbangkan skor kepercayaan, kepatuhan regulasi, serta rekam jejak operasional.
Di Indonesia, Binance memiliki afiliasi strategis melalui investasi pada Tokocrypto, salah satu Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) yang telah memperoleh izin dan berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Sementara itu, Bybit juga memperluas eksistensinya melalui Bybit Indonesia, yang aktif membangun komunitas dan menyediakan layanan bagi pengguna domestik. Kehadiran tersebut memperlihatkan besarnya potensi pasar aset kripto Indonesia bagi pemain global, meski operasional perdagangan aset digital tetap harus mengikuti ketentuan dan perizinan regulator.
Di sisi lain, OKX, Coinbase, dan Kraken masih berfokus pada pasar internasional dan belum memiliki entitas perdagangan aset kripto yang berizin di Indonesia.
Baca Juga
Samsung Masuk Lebih Dalam ke Industri Kripto Lewat Dukungan Stablecoin di Wallet
Secara global, Binance tetap memimpin dengan skor kepercayaan 10/10 dan lebih dari 323 juta pengguna di lebih dari 100 negara. Bybit berada di posisi kedua dengan volume sekitar US$1,5 miliar per hari, disusul OKX, Coinbase, dan Kraken.
Mengutip Coinmarketcapnews, Minggu (26/7/2026) analis menilai besarnya volume transaksi saja tidak cukup menjadi ukuran kualitas sebuah bursa. Faktor transparansi, kepatuhan terhadap regulasi, keamanan aset, dan rekam jejak operasional menjadi pertimbangan utama bagi investor dalam memilih platform perdagangan kripto.
Masuknya Binance dan Bybit ke pasar Indonesia mencerminkan besarnya potensi industri aset kripto nasional. Indonesia saat ini menjadi salah satu pasar kripto terbesar di Asia Tenggara dengan jumlah investor yang terus bertambah serta didukung kepastian regulasi di bawah pengawasan OJK.
Seiring beralihnya pengawasan aset kripto ke OJK, industri diharapkan semakin menarik minat investor institusi maupun pelaku global. Penguatan regulasi juga dinilai dapat meningkatkan kepercayaan pasar sekaligus mendorong lahirnya berbagai inovasi produk dan layanan aset digital.
Baca Juga
Pasar Kripto Merah, Bitcoin Turun ke US$ 64.000 Meski Ada Spekulasi Target US$ 70.000
Selain itu, pertumbuhan ekosistem blockchain, tokenisasi aset riil (real world assets/RWA), stablecoin, hingga meningkatnya adopsi aset digital dalam sistem pembayaran diperkirakan menjadi katalis baru bagi pertumbuhan industri kripto dalam beberapa tahun ke depan. Kondisi tersebut membuka peluang bagi bursa kripto global untuk memperluas investasi, kolaborasi, maupun layanan di Indonesia.
Meski prospeknya dinilai positif, pelaku industri menilai keberhasilan ekspansi tetap bergantung pada kepastian regulasi, perlindungan konsumen, serta kemampuan bursa menghadirkan layanan yang aman, transparan, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Indonesia.
Sementara menilik data terbaru OJK, hingga Mei 2026, jumlah konsumen aset kripto di Indonesia telah mencapai 22,4 juta dengan nilai transaksi Rp23,01 triliun. Pertumbuhan tersebut menunjukkan Indonesia tetap menjadi salah satu pasar kripto paling potensial di kawasan Asia Tenggara, sehingga menarik minat pemain global seperti Binance dan Bybit untuk memperkuat kehadiran mereka di pasar Indonesia.
