Ethereum dan Solana Masuk Indeks Baru S&P, Tapi Tidak dengan Bitcoin dan XRP. Ada Apa?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – S&P Dow Jones Indices bersama perusahaan investasi aset digital Pantera Capital meluncurkan S&P Pantera Digital Asset Index. Ini merupakan indeks acuan baru yang dirancang untuk memberikan investor institusional tolok ukur dalam mengevaluasi aset kripto berdasarkan fundamental ekonomi, bukan sekadar kapitalisasi pasar.
“S&P Dow Jones Indices membantu investor menyaring berbagai gejolak pasar melalui indeks acuan (benchmark) yang tepercaya. Melalui S&P Pantera Digital Asset Index, kami menghadirkan disiplin yang sama ke pasar aset digital dengan menggunakan kerangka berbasis fundamental dan ekonomi yang dirancang untuk portofolio yang terdiversifikasi,” ujar CEO S&P Dow Jones Indices, Cathy Clay dikutip dari keterangan resmi SPGlobal dikutip Jumat (24/7/2026).
Berbeda dengan sebagian besar indeks kripto, S&P Pantera Digital Asset Index tidak memasukkan Bitcoin (BTC), Ripple (XRP) maupun koin meme. Indeks ini hanya mencakup 18 aset digital yang memenuhi kriteria ketat, seperti memiliki penggunaan nyata, menghasilkan pendapatan, likuiditas memadai, memenuhi standar pencatatan, serta memiliki rekam jejak pasar yang memadai.
Lima aset dengan bobot terbesar dalam indeks tersebut adalah Ethereum (ETH), BNB, Solana (SOL), Tron (TRX), dan Hyperliquid (HYPE). Salah satu proyek lain yang dipastikan masuk dalam indeks adalah Aave.
Pantera Capital mengungkapkan, seluruh aset yang masuk dalam indeks tersebut secara kolektif menghasilkan pendapatan tahunan lebih dari US$3 miliar selama dua kuartal terakhir.
Baca Juga
Bitcoin Jatuh di Bawah US$65.000, Ketegangan AS-Iran dan Prospek Suku Bunga Fed Tekan Pasar
Dalam penyusunannya, indeks mengadopsi pendekatan yang terinspirasi dari metodologi S&P 500, yakni hanya memilih proyek yang mampu membukukan pendapatan positif secara berkelanjutan di atas ambang batas tertentu. Data pendapatan diverifikasi menggunakan analitik on-chain dari Artemis.
Selain menghasilkan pendapatan, proyek juga harus memberikan nilai ekonomi kepada pemegang token melalui berbagai mekanisme, seperti pembelian kembali token (buyback), imbal hasil staking setelah inflasi, distribusi keuntungan, maupun treasury yang dikelola pemegang token.
Pendiri Pantera Capital, Dan Morehead, mengatakan indeks ini bertujuan membantu investor institusional menentukan alokasi investasi di tengah semakin beragamnya ekosistem aset digital.
"Indeks ini membantu investor melampaui hype dan mengidentifikasi aset digital yang memiliki aktivitas ekonomi nyata," ujarnya.
Baca Juga
Saat ini, S&P Pantera Digital Asset Index masih berfungsi sebagai benchmark dan belum diperdagangkan dalam bentuk produk investasi. Namun, Pantera mengungkapkan telah memulai pembicaraan dengan sejumlah manajer aset terkait potensi peluncuran exchange traded fund (ETF) maupun produk investasi lain yang mengacu pada indeks tersebut.
Peluncuran indeks tersebut juga memicu perdebatan di kalangan komunitas kripto. Sebagian pelaku pasar menilai indeks tanpa Bitcoin dapat membuka jalan bagi ETF altcoin di masa depan, sementara yang lain berpandangan pengecualian Bitcoin justru semakin mengukuhkan posisinya sebagai aset "emas digital", sedangkan aset kripto lainnya diposisikan sebagai jaringan utilitas dan platform teknologi yang menghasilkan pendapatan.
